Jumat, 21 Mei 2010

Cinta Pertama Jingga

Aku siapa aku
Yang jatuh cinta pada manusia itu
Sedangkan manusia itu sendiri tak mau meangartikannya
Betapa dalamnya rasa cinta ini
Betapa besarnya rasa sayang ini
Dan betapa tingginya khayal ku untuk bersamanya
Hingga membuat ku jatuh terlalu dalam tanah hatinya
R apuh seketika diperjalanan kisah cintanya
Namun sulit bagiku untuk membencinya
Melainkan tetap menyayanginya dengan seutuhnya


^_* Dengarkan Aku Bercerita….!!!! *_^




^_^ Jingga is Biografi

Namaku Jingga Fitriani, aku terlahir dari keluarga yang sederhana dan tiga bersaudara. Hidup kadang sulit ditebak, kadang hari ini kita bahagia, kadang juga hari ini kita bercucuran airmata. Namun semua itu hanyalah misteri ilahi, tanpa kita tau jalan cerita hidup untuk sekarang dan masa sepan. Tapi yang pasti hari ini aku bahagia, dan berharap rasa bahagia ini utuh sampai besok.
Jingga, orangnya suka tebar pesona kepada insan lelaki yang lewat. Matanya slalu tertuju tajam dan sesekali memuji dihatinya pada siapa yang dilihatnya. Rasa ingin memiliki pun kadang datang kepadanya. Jingga, tanpa sadar dirinya menebarkan pesona pada insan lelaki yang melihatnya. Itu semua karna ketidak percayaan dirinya yang tinggi alias minder yang slalu rasakannya.
` Diam-diam Jingga gemar mengoleksi lagu-lagu, lagu lawas maupun lagu baru sama saja ditelingnya. Asalkan enak didengar dan suka pada lagunya. Lagu cinta, lagu religi, lagu barat ada di Mp3 handponenya sendiri begitupula dikomputernya. Hanya lagu-lagu terpilih yang ada padanya, maksudnya yang disukainya atau lagu favoritnya. Dan Jingga paling suka dengan yang namanya lagu cinta.
Orang rumah yang suka membuatnya untuk bersenda gurau, adalah sosok papanya. Meski kadang-kadang Jingga harus marah-marah karna situasi yang tidak mood. Terus yang suka ngomel-ngomel, marah-marah, bentak-bentak, pokoknya serba salah adalah sosok mamanya. Sedangkan yang suka usil adalah adiknya yang laki-laki, kadang suka bertengkar dalam satu hari berkali-kali. Dan yang terakhir paling lucu, ngegemesin baginya, dia adalah adik perempuannya.
Kini Jingga masih duduk dibangku SMP, tepatnya dibangku MTs. Tiga tahun sudah ia menimba ilmu disana, detik-detik terakhirpun segera ia dapatkan. Dipandang mata, memang cukup lama ujian itu akan hadir. Tapi kalau tidak memikirkannya, ujian itu datang dengan cepat lalu mengancam konsentrasi yang ditanam. Saat-saat inilah yang bisa membuat salah-satu siswa-siswi mendadak stres, atau stres dadakan.
Lain halnya dengan keluarganya, maksudnya yang remaja dan ada yang masih beranjak remaja. Sebut saja Islamiyah, kakak sepupunya yang pengertian sekaligus tempat curhatnya. Ada juga Jannah, adik sepupunya yang mulai beranjak remaja. Dulu sosopknya sempat terkenal tomboy, tomboy abis. Dan sekarang, dia berubah menjadi gadis manja juga kebiasaan tomboinyapun mulai memudar.
Yang terakhir, Mifta kakak sepupunya yang tertua, yang belum menikah dan kini baru selesai kuliah. Sedangkan yang tua darinya sudah pada menikah. Dan dia berteman sama salah-satu tetangga, tak jauh dari rumahnya hanya berbeda empat rumah dari rumahnya dan tiga rumah dari rumah Jingga. Mifta, orangnya asyik, tapi kalau marah emosinya tak karuan. Memang seram kedengarannya, tapi enak ketika bersamanya.

********

^_^ Back to school!!!

Tepatnya senin hari pertama Jingga masuk sekolah, setelah beberapa minggu meninggalkannya, karna libur panjang yang telah dijatuhkan usai keputusan kenaikan kelas. Kini Jingga berjalan menuju dimana namanya tercantum, dan disitu dia akan berdiam untuk belajar. Jingga pun mulai mencarinya dengan mengeceknya satu-persatu. Kelas 9A no name, 9B no name juga, dan 9C akhirnya tempatnya berdiam untuk belajar.
Saat Jingga berdiri didepan kelas, tepatnya bersandar dipagar dengan tas yang masih dipikul, tiba-tiba datang seorang siswi yang asing banget dimatanya. Karna selama dua tahun dirinya tidak pernah berada dalam satu kelas dengan siswi asing tersebut. Dan sisiwi itu datang bersama salah-satu temannya.
“kamu Jingga, kan?” Sapa siswi itu dengan akrab.
“iya, ada apa yah?”
“kamu anak kelas 9C?” Tanyanya untuk kedua kalinya.
“iya!”
“kamu mau nggak duduk sama aku? Aku anak 9C juga!”
Siswi itu langsung menariknya, dibawanya kekelas lalu ditunjukkannya dimana tempatnya berdiam. Posisinya paling pinggir dibagian pintu masuk, paling belakang tepatnya dipojok. Baru saja menyimpan tas, tiba-tiba bel telah berbunyi. Dan kini duduk manis menunggu pengarahan dari guru.
“oyah, kita kan belum kenalan! Nama aku Dian!”
“terus, nama panjang kamu siapa?”
“nama panjang aku, Dian Novita Sari, baguskan!?”
“bagus, seperti kereta api! Abisnya panjang banget!”
Siswi itu tertawa atas tuturannya yang ngasal. Baru satu hari masuk, Jingga sudah membuat lelucon dengan caranya berbicara yang asal keluar. Disaat asyiknya bercanda, tiba-tiba ada yang menegurnya dengan mengejutkam.
“Hey, kamu anak kelas mana?” Tegur siswa kepadanya.
“anak kelas ini!”
“apa, nggak salah dengar? Kamu itu anak kelas sebelah!”
“kamu yang anak kelas sebelah!”
Semua tertawa ketika siswa itu tertawa mengejeknya yang tidak tau apa-apa. Dan siswa itupun pergi dan kembali ketempat semula. Sedangkan ketiga temannya itu masih tertawa mengejeknya yang begitu dikenalnya.

********

Masih bercerita tentang sekolah dihari yang kedua. Saat Jingga akan memasuki kelas, tiba-tiba saja digawangi sama kedua orang siswa. Mereka melihat Jingga dengan ejekan dibibirnya. Ketika berusaha untuk menerobos, dengan cepat mereka menghalangi. Dan Jingga masih berada diluar dan belum berhasil. Untung saja bel cepat berbunyi, dan mereka mulai mengijinkannya untuk masuk kedalam dengan mengantri dibelakangnya.
Pada saat jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba ada yang mengusiknya dengan lemparan kertas kearah dirinya. Namun Jingga tidak memperdulikannya melainkan tetap fokus mendengar penjelasan guru didepan. Dian yang melihatnya, tertawa lalu menggelengkan kepalanya. Sedangkan keempat Siswa itu masih mengusiknya yang masih serius dengan apa yang ada didepan.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

“ramai banget! Disana aja yuk!” Ajak Dian.
“nggak, disana itu anak cowok! Masa kita perempuan sendirian!”
“bukan sendiri, tapi berdua sama gue!”
“gue, gue, lo, lo, udah ah!”
Jingga langsung menariknya lalu menerobos untuk mendapatkan makanan. Dikantin, semua berdesak-desakan untuk mendapatkan makanan, suarapun terdengar semakin ramai layaknya dipasar. Kini Jingga duduk manis bersama Dian menikmati makan siangnya.
“Jingga, kalo boleh tau, kamu sama Gana udah lama kenalnya?”
“yaiyalah, gue kenal dia, waktu duduk kelas dua!”
“jadi, lo kenal sama Gana karna pernah satu kelas!” Jingga mengangguk. “pantesan aja Gana usilin lo terus!”
“itu masalahnya, masa gue harus sekelas lagi sama dia! Dulu aja dia usil banget sama gue!”
“Gana memang gitu orangnya! Suka nyari sensasi!”
“pokoknya, Gana, Fadil, Mi’raj, Ferdi, itu yang gue benci!”
“masa sih? mereka berempat kan keren, nggak mungkin dong kamu benci sama mereka?”
“keren sih boleh! Tapi kalau mereka suka usilin orang, gimana?”
Dian tersenyum malu tertunduk dengan memakan-makanannya. Jingga yang melihatnya terdiam, merasa lega juga menarik nafas panjang. Ketika melihat arah kanannya, Jingga kembali melihat keempat siswa usil itu. Dengan langsung Jingga memalingkan perhatiannya kearah Dian yang asyik makan.

********

^_^ Teman sepermainan

“ANAK GAUL GANG WAHYU” mungkin kata itu cocok buat Jingga juga dengan para sahabatnya. Hanya gang wahyu yang paling terang, paling luas, juga anak remajanya yang kompak. Dimana tetangganya yang ramah-ramah, meski kadang-kadang menyinggungkan dan mengesalkan. Namun dari itulah dapat tercipta keharmonisan dari tetangga lama maupun tetangga yang baru datang.
Cimara, Eka, Khusnul, Novi, Iis, Alfi, Afit, Ricky, Ihrom, Ari, mereka adalah teman semasa kecilnya dulu. Mereka semua yang mengisi hari-harinya pada masa kanak-kanak dulu, karna sama masih kanak-kanak. Tak lupa dengan dua sepupunya yang ikut mengisinya, Islamiyah dan Jannah yang merupakan kakak beradik. Tiada sedih yang terfikir melainkan canda tawa yang slalu hadir.
Masih ingat dimemory tentang permainan yang sering dimainkan. Seperti petak umpet yang bahasa Pontianaknya tapok pipit, gala hadang yang bahasa Pontianaknya glaseng, kejar branak, kejar patom, masih banyak lagi permainan yang bisa dilakukan. Tapi yang sering dilakukan adalam permainan gala hadang, glaseng yang menguras banyak keringat. Tapi dari itu puas yang dirasakan.
Masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Dimana garis tawa tersebar, wajah-wajah ceriapun tak lepas mewarnai hari yang kadang melelahkan. Tak peduli panas, dingin, mendung, hujan, gelap, maupun sepi tak bersuara. Juga tak peduli dengan kotor juga lelah yang bisa mengancam ketahanan tubuh. Yang ada dipikiran, hanyalah bermain beramai-beramai untuk melawan hari yang kadang sunyi.
“berlari tanpa henti sebelum mendapat mangsa”, itu sebutan untuk permainan kejar branak. Permainan ini sungguh melelahkan, karna harus berlari sekencang mungkin untuk mengthindari lawan. Dipermainan ini, siapa yang dapat terlebih dahulu, dia yang nantinya jadi tawanan untuk mencari mangsa, usai semua mangsa didapatkan dengan cara bergiliran. Permainan ini bisa dibilang dengan olahraga lomba lari cepat dengan singkat.
Apalagi pesta tujuh belasan, HUT RI yang begitu heboh ditelinga pada masa kanak-kanak dulu. Perlombaan yang sering diikuti adalah lomba makan kerupuk, dan tak peduli dengan kondisi gigi yang ompong maupun tidak. Lokasinya tak jauh dari rumah, melainkan diujung gang tepatnya ditanah kuning sebelah masjid “Sirajul Ulum” atau biasa dikenal dengan sebutan “Surau”.

********

Ceria, adalah makanan sehari-hari menjalani kehidupan. Roda terus berputar, dan terasa waktu itupun berlalu juga dengan masanya. Banyak orang bilang, masa kanak-kanak adalah masa terindah. Dimana kenakalan, keusilan, perkelahian, tangisan, turut mewarnai masa kanak-kanak. Tertawa lepas tanpa mengenal malu pada sosok insan lelaki yang lewat didepan mata.
Waktu bermain sangat bebas, malam, pagi, sore, maupun malam bisa-bisa saja. Tak ada ragu untuk melangkah pergi kesana-kesini atas ajakan yang kadang dihalangi sama orangtua. Alasannya banyak, panas takut sakit, sore mandi dulu, malam takut hilang. Apalagi kata-kata itu sering terdengar saat asyiknya bermain. Dan bagi yang bandel menolak, lalu dibawakan sapu sama mamanya lalu dipukul sampai nangis.
Orangtua slalu berpesan “senakal-nakalnya kamu diwaktu kecil, jangan sampai kau bawa disaat dewasa kelak”. Pesan itu amat berarti, juga bisa disebut kewaspadaan terhadap anaknya kelak dimasa depan agar slalu dingatnya. Bila masa kanak-kanaknya belum habis, mungkin bertanya-tanya pada orangtuanya tentang maksud nasehatnya. Dan mulai mengartikannya pada masa remaja yang sebentar lagi datang menjemputnya.
“Child in Memoriam” mungkin kata itu yang pantas buat Jingga, gadis berwajah sendu berhiaskan matanya yang lentik. Ada satu sifat buruknya, yaitu kurangnya rasa kepercayaan diri yang slalu menganggap dirinya lebih jelek dari sekumpulan teman-teman sebayanya. Tapi suka narsis ketika melihat didepan cermin tentang dirinya yang dianggapnya jelek.
Jika mengingat masa kecilnya dulu, Jingga ingin kembali bermain secara berombongan, tertawa lepas sepuasnya, dan bebas dari gosip juga isu-isu tak sedap yang sering didengarnya. Namun siapa sangka, kalau roda sudah terlanjur berputar. Waktu terlanjur menutupnya, dan masa kanak-kanak itupun terlanjur pergi. Dan tak bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi meski memohon untuk keseribu kalinya.

********

^_^ Usil banget!!!!

“Jingga, kamu nungguin siapa sih? Masuk yuk!”
“digerbang aja dulu! Kita lihat orang-orang jalan!”
“pasti ada sesuatu, ada apaan sih? Ada hantu dikelas?”
“ceritanya panjang, nanti aja dikelas!”
“janji ya lo akan cerita!”
“gue, gue, lo, lo, lolot kali!”
Dian kembali tertawa dibuatnya, sedangkan Jingga masih melihat orang-orang yang lewat didepannya, karna sekolahnya terletak dipinggir jalan. Lima belas menit berlalu, bel pun berbunyi dan kini mulai beranjak kekelas. Ketika masuk melewati bangku siswa jail itu, Jingga hampir saja terjebak. Karna ada kaki yang menghalangi langkahnya. Lalu Jingga melihatnya dengan kusut, sedangkan siswa itu tersenyum mengejeknya.
“capek gue diusilin melulu!” Katanya dengan terduduk.
“diusilin, sama siapa?”
“sama setan sekolah yang lo sebut tadi!”
“siapa?”
“siapa lagi kalau bukan Gana cs!”
Tanpa sadar olehnya kalau Gana mendengarnya, Siswa usil yang dibencinya. Gana hanya melihatnya dari tempatnya berdiam melihat Jingga yang kesal padanya.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

Pada jam pelajaran ke dua, guru yang bersangkutan tidak dapat hadir karna sakit. siswa-siswi bandelpun bersorak gembira karna jam pelajaran kosong. Padahal mereka semua tau kalau kelas tiga tidak ada yang namanya main-main, seperti nasehat kepala sekolah. Namun mereka semua yang tergolong bandel membalikkan fakta. Yaitu berhura-hura saat guru tidak ada dan waktunya bermain.
Rasanya capek harus melihat pemandangan seperti itu. Ditambah lagi dengan Dian, yang suka tidur bila ada jam kosong tanpa membaca buku. Juga meninggalkan pesan minta dibangunkan kalau ada guru masuk. Apalagi didepannya Gana cs terus mengusiknya dengan lemparan kertas.

********

Kejadian-kejadian lucu terjadi disekolah, kocak dan tidak membosankan. Lalu bagaimana dengan setan sekolah yang slalu mengganggunya setiap hadir disekolah terutama dikelas? Gana, Fadil, Ferdy, Mi’raj, mereka tergabung dalam julukan “Setan Sekolah” dibenaknya yang slalu jadi pemangsa utama pelampiasannya. Mungkinkah Jingga bisa bertahan lama atau memutuskan untuk berhenti bermain dengan mereka?
Gana, orangnya tinggi, tubuhnya ok, tapi sayang rambutnya kriting. Sebenarnya dia baik, tapi nggak terkenal, dan yang terkenal hanyalah sifat usilnya saja terhadap anak-anak cewek. Hampir semua siswi diusilin olehnya, terutama yang cantik-cantik dan seksi. Matanya langsung merah berbentuk hati “kartun kali yah…..”. Tapi kalau berdiam diri, rasanya sepi karna suaranya keras dan membuat suasana sepi jadi berisik.
Mi’raj, orangnya pendek, tubuhnya kecil kayak kerdil, rambutnya kriting, dan kulitnya hitam. Dia sering diejek orang Negro, karna kulitnya yang hitam. Dia adalah duanya Gana, pengacau, pengusil tanpa berbobot. Terus mulutnya seperti cewek, comel abis. Pantesan bibirnya besar, awalnya aja comel, malah lebih comel dari perempuan.
Fadil, orangnya tinggi tak jauh dari Gana, bisa dibilang sebelas-duabelas sama Gana. Tubuhnya kurus, rambutnya tipis seperti bulu kucing. Ada satu yang Jingga tidak suka terhadapnya, yaitu sifatnya yang seperti perempuan. “klemak-klemek” itu sebutan Pontianaknya, atau biasa dikenal “letoy”. Namun dia lain daripada yang lainnya, alias dia tergolong anak yang pintar.
Kalau Ferdy, tubuhnya sama seperti Fadhil. Rambutnya sama seperti Gana, tapi sayang bibirnya manyun kalau berdiam diri. Hanya gerakannya saja yang berbeda sama Fadil. Yah, bisa dibilang sebelas-duabelas sama Fadil. Dari keempat setan sekolah, hanya satu yang memiliki kriteria paling jelek, yaitu Mi’raj. Why not! Sudah jelek bergaya pula. “ampuuuunnnn………….!”

********

Seperti biasa, setiap masuk pasti digawangi sama setan sekolah. Hari ini cuma bertiga yang menggawangi pintu. Jingga pun membuka mulutnya untuk bisa mengecoh mereka yang berjaga.
“kenapa kalian bertiga? Rajanya mana, nggak ikut?”
“Raja, siapa?” Tanya Fadil.
“siapa lagi kalau bukan Gana!”
“ye…..kangen sama Gana!” Ejek Ferdi. Fadil tersenyum.
Melihat keduanya lengah, Jingga langsung menerobosnya. Mereka berdua terjatuh karna menerima sebuah senggolan darinya. Jingga yang melihatnya, tertawa karna mereka berdua terbaring malu ditonton sama adik kelas yang lewat. Puas, mungkin itu yang dirasakannya. Sedangkan mereka berdua sudah mulai duduk dibangkunya untuk menghindari yang barusan terjadi.
Jingga kini duduk sendiri menunggu temannya, Dian yang dinantinya untuk curhat. Tiba-tiba setan sekolah datang, yaitu rajanya, Gana. Dia masuk sambil bernyanyi tidak jelas. Jingga yang melihatnya merasa muak dan ingin muntah sesaat melihat dirinya yang duduk sambil berbicara sama Fadil.
“Gan, lo tau nggak? Dikelas ini ada yang kangen sama lo!” Bongkar Ferdi.
“siapa lagi kalau bukan Jingga!” Sambung Fadil. Jingga menunduk kesal.
“gue, terima kangennya Jingga? Yang bener?” Dengan tertawamengejeknya.
Ferdi dan Fadil pun ikut serta untuk menertawainya, sedangkan Jingga makin kesal dibuatnya. “Tuhan……! Ampuuuuun…….!” Itulah kata kekesalannya dihati. Kini beralih pada jam pelajaran pertama, yaitu bahasa inggris. Disaat suasana terdiam, tiba-tiba ada yang menyebutkan, “I’m crazy”. Guru yang mendengarnya langsung menanyai siapa yang berkata barusan.
“siapa yang berkata begitu?” Dengan tertawa.
“Jingga, Miss!” Ejek Gana.
“bukan, Miss! Bohong-bohong! Yang bilang itu Gana, Miss!”
“Jingga, Miss!” Sambung Fadil.
“apa-apaan sih!” Marah Jingga. Melempar gumpalan kertas.
“sudah-sudah jangan ribut! Miss tau kok siapa yang salah!”
Semuanya pun kembali normal, kembali belajar seperti yang semestinya. Namun tidak bagi setan sekolah itu, yang terus mengganggu Jingga dengan lemparan kertas.

********

^_^ Kondisi teman sepermainan sekarang!!!!

Persahabatan yang utuh adalah persahabatan yang tetap bertahan bukan terpecah belah. Mungkin kata itu hanya berlaku untuk dulu, masa kanak-kanak. Dan mati alias tidak berlaku lagi pada masa saat ini, masa remaja. Hancur berantakan, sekarang yang ada bukannya bertambah melainkan berkurang. Keadaan ini bermula dari salah-satu teman sepermainan yang bertengkar heboh.
Cimara, gadis putih manis yang banyak ditaksir sama insan lelaki. Tanpa disangka, dia menyukai seorang insan yang sama dengan sahabatnya. Ini bermula dari tempat berkumpul yaitu dirumah Islamiyah tepat diterasnya. Disaat asyiknya ngumpul, lewat seorang lelaki yang memujinya dengan kata “salam buat baju merah”. Dan pada saat itu juga hanya Cimara yang mengenakannya.
“Cimara, dapat salam niyee…!” Ejek Eka.
“terima nggak! Ganteng loh!” Sambung Islamiyah.
“buruan! Nanti diambil orang!” Sambung Jingga.
Cimara hanya bisa tersenyum tanpa membalas salamnya. Sedangkan Eka, Jingga, Islamiyah yang ikut berkumpul terus mengejeknya. Disitu Cimara tersipuh malu dan hanya berdiam tanpa bersuara.

SaTu HaRi KeMuDiAn….

Tanpa sadar, kabar itupun sampai ketelinga Novi. Novi yag tidak terima, merasa marah karna lelaki pujaannya direbut sama Cimara, teman sepermainannya. Namun amarahnya tak dapat dibendung lagi, Novi pun menyindirnya ketika lewat didepan rumah Cimara yang sepi. “siapa yah yang ngambil pacar orang? Nggak malu tuh!” Sambil berjalan melewatinya.
Cimara yang tak sengaja mendengarnya, tersetrum kaget dan sakit hati atas sindirannya. Mengetahui Novi yang berada dirumah Islamiyah, Cimara pun bergegas untuk menghampirinya dengan membawa sebuah pisau dapur.
“Novi, maksud kamu apa nyindir-nyindir aku? Emangnya apa salah aku?” Dengan pisau ditangannya. Islamiyah kaget. “mulut kamu tuh lancang amat!”
“Cimara pulang! Simpan pisau itu dirumah!” Mamanya menyuruh dengan tiba-tiba. Cimara pergi. “kamu juga! Kalau ngomong hati-hati!” Dengan marah. Pulang kerumah.
Tetangga-tetangga pada keluar melihat kejadian barusan. Islamiyah yang melihatnya mengaku kaget karna tidak tau apa-apa. Sedangkan Novi hanya berdiam bungkam seribu bahasa.

********

Berkurangnya jumlah anggota dalam pertemanan, bukan hanya diwarnai kekacauan, perkelahian yang baru saja mewarnainya. Namun ada perpisahan yang tiba-tiba terjadi dan sulit untuk diterima. Kehilangan seorang teman sepermainan, bagaikan kehilangan seseorang yang berharga. Apalagi mereka hadir sejak kanak-kanak turut mewarnai indahnya permainan bila dilakukan bersama-sama.
Sebut saja Ihrom, anggota paling gemuk dari yang lainnya. Perpisahan itu terjadi saat orangtuanya memutuskan untuk pindah ketempat lain. Karna terlanjur membeli rumah dan kini sudah bisa dihuni. Satu-persatu dari anggota teman sepermainan mendengar berita itu. Dan rasa kaget itupun muncul berdatangan dibenak mereka masing-masing, termasuk Jingga.
Kini anggota berkurang dua, dan dihitung-hitung kini tinggal sembilan orang lagi yang masih bertahan. Kurang lebih tiga hari Ihrom pergi, mulai tersiar kabar yang mengejutkan lagi. Yaitu berita kepergian Ricky, masalahnya sama seperti Ihrom. Dia harus pindah ketempat lain mengikuti orang tuanya diseberang sana. Dan jumlah anggota berkurang kembali, yaitu dengan hilangnya tiga orang teman sepermainan.
Kini teman sepermainan yang laki-laki tinggal dua orang, mereka adalah Ari dan Afit. Namun yang disebut-sebut hanyalah Afit, karna Ari terlalu sibuk dengan dirinya sendiri daripada ngumpul bareng atau main bareng seperti dulu. Sementara Khusnul kini berubah menjadi orang yang tertutup, jarang menampakkan dirinya, melainkan sembunyi dibalik rumahnya yang slalu tertutup.
Lain pula dengan Jannah, sekarang jadi pemalu terhadap insan lelaki yang tampak dimatanya. Disaat dirinya mulai beranjak dewasa, banyak perubahan pada dirinya. Dan biasanya dia dijadikan bahan untuk gosip, isu-isu tentang cinta kepada Afit, teman sepermainannya dulu. Namun dia hanya bisa diam, masa bodoh memikirkan gosip-gosip tidak jelas yang menimpanya.

********

^_^ Apa-apaan sih!!!!

Jingga yang baru saja datang dari sekolahnya, langsung beranjak kekamarnya usai membuka sepatunya dan melepaskan tasnya yang berat. Dia merasa gerah, panas, karna bersekolah di MTs dengan memakai jilbab. Disekolah saja dia memakai jilbab, sedangkan dirumahnya tidak. Namun ada satu cara menghormati sekolah agamanya, yaitu tidak pernah memakai pakaian bertali satu, melainkan slalu berlengan.
Jingga yang capek berat, tetidur seketika melepaskan kelelahannya. Namun ada satu yang lupa dilakukannya, yaitu lupa mengganti baju seragamnya. Padahal baju seragam tersebut masih berlaku untuk dipakai. Namun Jingga masih tidak menyadarinya, melainkan tertidur menikmati mimpi-mimpinya dialam sana.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

Sekitar pukul tiga sore, tiba-tiba Jingga terbangun dari tidurnya, karna ada suara mamanya yang membangunkannya dengan berteriak dari luar. Kesal, itu yang dirasakan seketika bangun dari tidurnya. Karna mamanya telah mengganggu tidurnya yang asyik dengan sejuta mimpi yang menghampirinya. Kemudian terasa hawa lapar dari dirinya, tanpa pikir panjang Jingga pun pergi kedapur untuk makan.
Kini Jingga terduduk dimeja makan dengan lauk sederhana, dengan sabar tangannya mengambil satu-persatu lauk yang ada dan masih memakai baju seragamnya. Disaat asyiknya menyantap makanan, tiba-tiba mamanya menegurnya kembali yang dianggapnya menyinggung perasaannya yang lagi makan.
“anak gadis harusnya udah rapi! Mana ada anak gadis baru bangun, juga belum ganti pakaiaan!” Jingga tersinggung.
“tenang aja! Masih awal, baru jam tiga lewat lima belas menit!” Kata kesinggungannya.
“Jingga, mama pergi dulu! Kamu harus mandi, rapi-rapi, baru deh keluar!”
“iya….! Tenang aja!”
Mamanya pun pergi usai berkata, sedangkan Jingga masa bodoh mendengarkan nasehat mamanya itu. Usai mengisi perut, mulai ada rasa malas untuk mandi, rapi-rapi, seperti nasehat mamanya tadi. Dan kini Jingga kembali berbaring dikamarnya sambil menonton TV.

********

Jingga yang terbangun dari tidur siangnya, merasa aneh pada dirinya. Begitu berhadapan dengan cermin, dirinya senyum-senyum dan hatinya berbunga-bunga. “Jingga, jika diperhatikan baik-baik, kamu manis juga yah!” Itulah kata narsisnya didepan cermin dengan senyuman narsisnya. Kemudian berbalik membelakangi cermin sambil memikirkan sesuatu.
Ternyata yang dipikirkannya adalah sebuah mimpi tentang penampilan dirinya yang begitu anggun. Didalam mimpinya terlihat kalau dia bercermin dengan model rambut seperti Bunga Citra Lestari, yang poninya berbentuk pelangi. Dan rambut itupun membuat wajahnya terlihat indah seperti bukan Jingga. Lalu rasa percaya diri itupun datang kepadanya usai mengingat mimpinya tadi.
Tiba-tiba ada yang mengusik andai-andainya, yaitu Jannah yang tiba-tiba datang lalu masuk menghampirinya.
“Jannah?” Kaget.
“Jingga, keluar yuik! Aku nggak ada teman nih!”
“boleh, boleh! Tapi kamu harus rela nunggu!”
“nunggu, nungguin apa?”
“nungguin Jingga mandi!” Dengan senyum malu.
“oh….! Tenang aja, Jannah nunggunya diteras rumah, ok!” Jingga mengangguk.
Dengan cepat Jingga mengambil handuk lalu berlari kekamar mandi usai melihat Jannah pergi dari kamarnya. Sedangkan Jannah yang melihatnya berlari dari kamarnya, menggelengkan kepalanya lalu menarik nafas panjang. Jingga yang berada dikamar mandi, bahagia tersenyum-senyum “yes” kata kegirangannya dikamar mandi. Sementara Jannah masih menunggunya diteras dengan duduk didekat pagar rumah Jingga batasan tetangga.
Tanpa diketahui sama Jannah, Jingga lagi sibuk memilih baju untuk dihari sorenya. Semua baju dilihatnya, dan Jingga pun mendapat baju yang tepat. Usai memakai pakaiaan yang dikenakannya, tak lupa dengan bandonya yang warnanya mirip dengan baju yang dikenakannya. Melihat tampilannya yang sudah lengkap, dengan percaya diri Jingga beranjak dari cerminnya.
Jannah yang terduduk bosan menunggunya, mengaku terpana melihatnya yang kini duduk disampingnya.
“kamu cantik banget hari ini! Ada angin apa….?” Jingga memotong.
“nggak ada apa-apa kok!” Dengan senyum.
Jannah yang melihatnya berubah, merasa penasaran terhadapnya. Karna yang didengarnya dari cerita mamanya Jingga, kalau Jingga jarang sekali berpenampilan seperti yang dilihatnya. Justru sebaliknya, Jingga malah cuek atas kecantikan yang dimilikinya.

********

“selamat sore dunia….!” Katanya didepan cermin dengan rapi. “kayaknya ada yang kurang?” Masih didepan cermin melihat barang-barang kecantikannya. Kemudian dilihatnya bando berwarna putih didepannya. Jingga pun kembali menatap dirinya dicermin, lalu terlihat kepalanya tanpa mengenakan sebuah bando. Melihat kenyataan itu, dengan cepat Jingga memasang bandonya. Dan sesekali tersenyum melihat pesonanya dicermin.
Mamanya yang tak sengaja melihatnya keluar dari kamarnya dengan rapi. Terkejut hingga membuatnya tertawa.
“Jingga….!” Tegurnya saat Jingga akan keluar.
“iya ma!” Jawabnya dengan berbalik.
“kamu mau kemana rapi-rapi seperti itu?”
“mau ngumpul sama anak-anak!” Mamanya menggeleng. Jingga pergi dengan senyum.
Tanpa ragu Jingga melangkahkan dirinya keluar. Langkahnya bukan menuju apa yang dituturkan pada mamanya, melainkan berpaling kesuatu tempat. Dihampirinya sebuah warung kecil tak jauh dari rumahnya, hanya berbeda dua rumah.
“mbak, pop ice nya satu!” Katanya sesaat tiba diwarung.
“Jingga, ada yang mau kenalan nih!” Salah satu orang menegur dari dua orang yang duduk.
Kemudian Jingga melihat orang yang menegurnya, tanpa memperdulikan ejekannya. Sedangkan orang yang disebelahnya itu menatap Jingga dengan senyuman. Tapi sayang Jingga tidak melihatnya dan belum menyadarinya melainkan fokus terhadap minumannya yang masih diracik. Sementara Jingga sudah tidak betah diwarung itu. Dan akhirnya Jingga bisa mengambil minumannya yang sudah diracik.
“makasih ya mbak!” Katanya pamit.
“Jingga, jangan berhenti jajan disini yah!” Jingga tersenyum. Berbalik pergi tanpa memperdulikan dua orang yang menggodanya.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

Sekarang Jingga berada dirumah sepupunya, yaitu Islamiyah tempatnya berbagi kisah. Meski kadang-kadang Islamiyah jarang memerhatikan curhatannya karna sibuk dengan sms pacarnya.
“barusan, ada cowok yang godain aku! Terus, orang itu bang Mann!” Katanya terbuka dikamar Islamiyah.
“jangan mau digodain sama dia! Pasti kamu ngeladeni?” Islamiyah menerka.
“enak aja, nggak dong! Emang nggak ada yang lain apa?” Jingga menolak.
Kemudian perhatian Islamiyah tertuju pada handpondnya, karna ada sms dari pacarnya. Islamiyah tertawa kegirangan sambil memukul-mukul Jingga dengan bantal karna bahagia. Jingga yang melihatnya merasa aneh seperti orang gila.

********

Seperti hari kemarin, Jingga kembali digoda sama dua orang lelaki hingga membuatnya tak berdaya untuk meladeninya. Kejadian ini kembali terulang saat akan pulang kerumah dari sekolahnya. Baru saja melewati warung kecil terdengar suara memanggilnya. Kali ini yang memanggilnya bukan bang Man, melainkan orang yang tak dikenalnya. Dengan singkat Jingga memandangnya lalu mengencangkan langkahnya.
“bete……….! Siapa sih tuh orang! Jingga, kamu harus tenang!” Katanya dengan menarik nafas panjang sesaat berbaring dikamarnya. Kemudian terbayang kembali wajah lelaki yang memanggilnya tadi. Jingga pun tersenyum malu sesaat mengingatnya.
“Jingga, sini deh mama mau bicara!” Katanya dari dapur.
“Jingga capek, nanti aja bicaranya!” Jawabnya berteriak dari kamar.
Jawabnya mengelak dari perintah mamanya. Tiba-tiba handponenya berbunyi, ternyata ada sms masuk dari Jannah, adik sepupunya yang masih lugu. Ternyata sms itu berisi sebuah ajakan untuk berkumpul diteras rumahnya, karna banyak cerita yang akan disampaikan. “ok! Gue terima ajakan lo!” Katanya sesaat membaca sms dari Jannah.

TiGa JaM KeMuDiAn….

“Jingga, buruan dong!” Tegur Jannah dari teras.
“iya, sabar!” Balasnya dari kamar.
Terpaksa Jannah kembali menunggunya, menunggu dandanannya yang memakan waktu lama. Namun Jannah tidak pernah bosan menunggunya, karna dandanannnya tidak menor seperti ABG lainnya yang berlebihan.
“selamat sore….!” Katanya sambil duduk.
“kamu kasmaran, apa kesambet?”
“kesambet, kayaknya nggak deh! Kasmaran, I don’t know!”
Jannah yang mendengar jawabannya langsung menarik nafas panjang. Sementara Jingga perhatiannya tertuju pada lelaki yang memanggilnya tadi. Lelaki itu tersenyum padanya seolah-olah ingin berkenalan dengannya. Tapi yang dia heran dari lelaki itu adalah dari mana lelaki itu tau namanya. Sedangkan mereka baru bertemu dan belum terbilang lama hanya berkisar tiga hari doing.

********

^_^ Berkurang satu!!!!

Disekolah, ada pemandangan aneh yang terjadi dimata Jingga. Biasanya Jingga slalu dihalangi sama keempat setan sekolah yang suka menggawangi kelas. Tepatnya hari ini, keempat setan sekolah itu tidak menggawanginya. Jingga pun merasa bebas dan akan segera masuk dengan santai. Baru saja melangkah, Jingga kembali melihat keempat setan sekolah itu baru datang secara bersamaan dari arah kanannya.
Tanpa sadar, Jingga masih berdiri melihat keempat setan sekolah itu, lalu dihitungnya satu-persatu dan ternyata lengkap sama rajanya. Ketika sadar keempat setan sekolah itu menngejarnya dari jauh dengan lari kecil, dengan cepat Jingga neranjak masuk dengan ngos-ngosan.
“kamu lama banget datangnya? Biasanya kan awal!” Tanya Dian kepadanya.
“gue tadi sempet nyangkut didepan kelas!”
“emangnya ada tontonan apa diluar!”
“tadi, gue sempat heran, kenapa setan sekolah nggak ada dipintu! Ketika gue mau masuk, nggak sengaja ngeliat mereka semua!”
“terus, lo diusilin lagi sama mereka?”
“hampir, mereka ngejar gue dari jauh karna ngeliat gue! Untung aja gue cepat masuk!”
Tiba-tiba keempat setan sekolah itu datang memasuki kelas. Perhatiannya pun tertuju pada mereka berempat yang selalu usil. Mereka masuk dengan berbaris sambil tertawa kepada Jingga yang duduk melihatnya. Dan kini mereka berempat mulai duduk dibangku masing-masing masih dengan tawa ejekannya terhadap Jingga.
“Jingga….!” Gana menggoda, Jingga membuang muka.
“berani! Jingga berani sama kita!” Fadhil dengan menunjuknya.
Gara-gara ulah mereka berdua, Jingga kembali ditertawakan sama dua anggotanya, Mi’raj sama Ferdi yang hanya ikut-ikut. Dian yang melihatnya, ikut tersenyum sedangkan Jingga masih membuang muka dan berpura-pura tidak tau.

********

Dikelas, dihebohkan dengan ulah raja setan sekolah, Gana yang terkenal pembuat ulah khususnya dikelas 9C. Tanpa dia, kelas akan terasa hampa karna tidak ada yang memulai untuk membuat ulah, apalagi ulahnya gokil-gokil dan konyol banget. Bisa dibilang lucu, kalau dia sudah berbuat. Bisa dibilang menjengkelkan, kalau sudah berlebihan. Namun itu semua yang membuat kelas semakin ramai.
Keempat setan sekolah itu membuat ulah lagi. Seperti biasa, Jingga lagi sasarannya sekaligus pelampiasan permainannya. Awalnya Gana, raja setan sekolah melemparinya sebuah kertas gulung bundar. Jingga yang sibuk dengan bukunya, kaget tak terduga. Keempat setan sekolah itupun tertawa ketika melihatnya. Jingga yang mengetahui, langsung memarahinya.
“kalian usil banget sih jadi orang! Nggak boleh apa orang seneng!” Katanya marah ditempat duduk. Semua terpana.
“apa! Apa! Usil!” Gana sambil tertawa.
Kemudian semua yang terpana ikut menertawainya, begitupula dengan keempat setan sekolah itu. “huh! Capek banget ngeladeni mereka!” Kata hatinya dengan sangat kesal. Tiba-tiba terlihat olehnya keempat setan sekolah itu berbisik-bisik sambil mencuri perhatian darinya, Jingga. Jingga yang sadar, berpura-pura tidak tau dan diam-diam mencurinya. Rasa curiga itupun ada dipikirannya sesaat melihat ulah mereka berempat.
Beberapa menit mengintai, tiba-tiba ada yang mengejutkan seisi kelas. Hingga membuat kelas yang tadinya ribut kini terdiam kaku, karna ada guru yang masuk secara tiba-tiba. Yang masuk bukannya guru untuk mengajar, melainkan guru piket. Dan bertugas untuk mengecek murid yang masuk kelas 9C, agar tidak ada yang kesasar. Setelah dicek dengan mengabsentnya satu-persatu, ternyata ada yang salah tujuan.
Sebut saja Mi’raj, salah-satu anggota setan sekolah terburuk tapi bergaya superstar. Dia terpaksa dikeluarkan karna kelasnya disebelah, malu, itu yang dirasakannya. Semua masih terdiam kaku tak bersuara dan ketika guru itu pergi seisi kelas dibuatnya lega lalu menyambung ributnya. Sedangkan Jingga tersenyum bahagia karna setannya berkurang satu. “akhirnya!!!!” katanya dalam hati gembira.

********

Suasana sekolah terasa ramai bila menunjukkan pukul setengah tujuh. Disana-sini siswa-siswi bercanda, didepan kelas, didalam kelas, juga dikantin. Namun ada satu keburukan yang sering terjadi, tepatnya dikantin. Yang pertama, mereka tidak mau masuk kekelas sebelum bel berbunyi dengan tas masih dipikul. Dan yang kedua, ada yang berkumpul dikantin sambil menunggu jam masuk, padahal tas mereka sudah ada dikelas.
Jingga yang baru saja menginjakkan kakinya dikelas, terpana melihat ketiga setan sekolah yang merana karna kehilangan satu anggota. “aha, ini kesempatan gue!” idenya dihati. Dengan santai Jingga melewati mereka, sedangkan mereka tertuju padanya hingga Jingga terduduk dibangkunya.
“hm!” Tegurnya berpura-pura batuk. Ketiga setan sekolah itupun terkejut lalu menyadarinya. Mereka bertigapun mulai memalingkan pandangannya, ada yang menunduk, ada yang lurus kedepan, dan yang terakhir kearah jendela kelas, melihat orang-orang jalan. Sedikit senyuman kecil dibibirnya untuk mereka bertiga. Meski senyuman itu merupakan senyuman ejekan, tapi Jingga ikhlas memberinya, karna senyuman itu sebagian dari ibadah.

BeBeRaPa MeNiT KeMuDiAn….

Jingga yang terkejut karna bel berbunyi secara tiba-tiba, kesal menarik nafas panjang mengelus-ngelus dadanya. Why not! Karna sedari tadi matanya tertuju pada mereka bertiga. Sementara semua teman sekelasnya berlomba-lomba untuk duduk sebelum terlambat. Ketiga setan sekolah itupun mulai beraksi dengan mengajak bicara siapa saja yang datang disekitarnya. Karna mereka bertiga sedari tadi berdiam kaku tanpa suara.
“kamu tau nggak, dikelas ini ada yang merana?” Jingga menyindir.
“nggak! emangnya siapa yang merana?” Tanya Dian polos.
“siapa lagi kalau bukan Gana cs!” Buka Jingga. Kaget Dian. Sinis Fadil.
“Jingga, Fadil tau tuh!” Katanya dengan pelan.
“bagus dong kalau gitu! Biar dia nyadar, kalau dia itu salah!” Dengan melihat Fadil.
Fadil kembali mendengarnya lalu mendiamkannya. Jingga yang telah berpaling pandangannya dari Fadil, tak sadar olehnya Fadil membalas pandangannya dengan sinis. Dian yang mengetahui mencoba memberinya kode, namun Jingga tidak memperdulikannya melainkan masih bercerita bertatap muka padanya.

********

^_^ Ngumpul bareng yuk….!!!!

Sekitar pukul lima sore, Jingga berniat akan bermain kerumah Islamiyah, kakak sepupunya untuk bercerita tentang sekolahnya. Baru saja menutup pintu kamarnya, dirinya mendapat teguran dari mamanya. Apalagi teguran itu paling malas didengarnya, yaitu teguran perintah dari mamanya. “tolong belikan mama pop ice diwarung kecil sana!”, katanya sambil memberikan uang padanya, lalu Jingga menerimanya dan beranjak pergi.
Baru saja diteras memakai sandal, orang itu kembali muncul dengan duduk santai disana. “males banget ketemu sama dia! Sebel!”, kata ketidak suka hatinya pada orang itu. Dan kini terpaksa Jingga harus berjalan juga harus berfikir terhadap orang itu.
“mbak, pop icenya dua ya, mbak!” Katanya dengan lembut. Orang itu menatapnya.
“Jingga, ada yang mau kenalan nih!” Goda Bang Man dengan terduduk. Jingga cuek.
“jawab dong!” Mbak menyambung. Orang itu tersenyum.
“emangnya harus???” Jingga dengan jutek.
“nggak sih, tapi kan kurang sopan!” Buka mbak.
“oyah, salam kenal!” Dengan senyuman kecil dengan melihat mereka berdua.
Usai menyapa, Jingga kembali jutek, acuh terhadapnya. Sedangkan laki-laki itu masih melihatnya, hampir saja Jingga dibuatnya mati gaya, untung saja pop ice pesanannya sudah jadi. Dan tanpa pikir panjang, Jingga langsung beranjak tanpa harus menyapanya lagi. “yes, bebas!!!!”, katanya sesaat tiba diteras rumahnya. Dengan rasa bebasnya, Jingga pun melangkah masuk untuk memberikan es kepada mamanya.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

“laki-laki itu, godain aku lagi! Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan bahasa tubuhnya! Mata, dan tatapannya yang buat aku mati gaya!” Curhat Jingga dirumah Islamiyah tepatnya diruang tamu.
“laki-laki itu siapa? Bang Man, atau orang lain?”
“aku juga nggak kenal sama dia! Dia asing banget dimata aku!”
“pokoknya kamu harus cari tau! Siapa tau laki-laki itu PDKT lewat hati, sama kamu!”
Jingga terpana akan kata kakak sepupunya barusan, Islamiyah. Hatinyapun bergetar-getar akan kata-kata yang didengarnya barusan. Dan jantungnya mulai berdegug kencang ketika terbayang tatapan lelaki itu.

********

Hari ini waktunya ngumpul diteras rumah Cimara, Sekitar pukul empat sore nanti. Satu jam lagi Jingga harus bersiap, mandi yang bersih dan wangi. Sore, waktu yang indah dan cocok buat ngumpul. Kata-kata itulah yang ditulisnya didalam buku hariannya. Usai menulis, dirinya kembali berbaring tak sabar menunggu waktunya bermain. “kali ini bukan main, tapi curhat!”, kata kegirangannya.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

“so, I’m very-very happy!”, katanya didepan cermin dengan merias wajahnya. “hah, lo, manis banget sih!”, katanya dengan narsis masih didepan cermin. Dengan sabar tangannya merias rambutnya dengan jepit usai menyisirnya dengan rapi. Sesuai dengan suasana disore hari, Jingga memakai baju yang cerah yaitu kuning, sama dengan warna matahari yang sebentar lagi akan pamit untuk sekejap malam.
“Jingga mana sih! Lama banget datangnya?” Kesal Eka.
“maklum, namanya juga lagi kasmaran!” Buka islamiyah.
“hah, sama siapa!” Eka, Cimara serentak.
“hai semua!” Jingga dengan tiba-tiba dan terduduk disamping Eka.
“Jingga, kamu benar lagi kasmaran!” Tanya Eka.
“kasmaran???” Jingga kaget.
“udah, ah, nggak penting! Mending kita cerita-cerita aja!” Islamiyah memalingkannya.
Cimara yang menunggunya jawabanya, merasa bosan lalu memalingkannya pada Islamiyah untuk curhat tentang pacarnya. Sementara Eka yang melihatnya terkejut, karna ada yang menghubunginya. Sekarang perhatian mereka berdua berpaling, sedangkan Jingga masih terdiam memikirkan pertanyaan Eka.
“aku tau sekarang!” Katanya dengan berdiri.
“Apa?” Islamiyah, Ciamara, Eka serentak. Jingga tersenyum malu dan kembali duduk.
“itu, so, soal kasmaran yang tadi!” Jingga gugup.
“itukan pertanyaan Eka, sekarang jawab!” Tegur Eka yang kaget akan ucapannya.
“bisa dibilang, kalau aku lagi kasmaran! Tapi, aku nggak kenal orang itu siapa!”
“oh….gitu…..!” Mereka bertiga kembali serentak dengan nyaring.
Untung saja Jingga reflek menutup kupingnya ketika akan terjadi. Usai mereka melakukannya, mereka kembali menyambung kesibukanya tadi. Cimara melanjutkan ceritanya, sedangkan Eka melanjutkan acara telponannya.

********

Seperti hari kemarin, diwaktu yang sama Jingga kembali bermain kerumah teman sepermainannya dulu. Masih berlokasi diteras rumah Cimara, yang hanya berbeda dua rumah dari tempatnya. Ditemuinya Cimara sedang duduk sendiri dengan handpone disanpingnya. Melihat keadaan itu, Jingga pun menyapanya dengan ramah dan duduk berdampingan dengannya.
“nggak salah lagi! Orang ini pasti lagi kasmaran!” Katanya dengan pelan.
“apa? Barusan kamu bicara apa?”
“nggak, nggak kok! Hari mau hujan aja! Tapi nggak hujan-hujan!”
“oh….! Cimara!”
“yah!”
“rasanya jatuh cinta itu, seperti apa sih?”
Ketika Cimara akan menjawabnya, tiba-tiba ada yang memanggilnya dari dalam. Cimara pun beranjak pergi sebentar darinya juga memintanya untuk menunggunya sejenak. Dengan sabar Jingga menunggunya, menunggu jawaban atas pertanyaannya. Kemudian terbayang kembali tentang pesona orang itu. Dirinya kini terbawa semakin larut sampai-sampai tak sadar olehnya kalau Cimara sudah ada dihadapannya.
“Hello….!” Tegur Cimara. Jingga kaget.
“Cimara!” Kata kagetnya. “kamu, kapan datangnya?” Dengan gugup.
“sebenarnya sih beberapa menit yang lalu! Tapi karna kamu melamun, jadinya barusan!”
“oh, maaf!” Dengan malu.
“dari tadi aku perhatiin, kamu senyum-senyum sendiri, terus mata kamu berbinar-binar! Apa benar kamu lagi kasmaran?” Jingga mengangguk tersenyum malu. “pantesan aja kamu aneh banget! Kayak orang gila!”
Jingga makin tersenyum malu, bahagia, itu yang dirasakannya. Cimara yang melihatnya, bisa memakluminya karna dia juga pernah merasakannya. Jingga yang masih bahagia akan perasaannya, lupa akan niatnya yang menunggu jawaban dari Cimara atas pertanyaannya.

********

Puas terasa bila apa yang tertulis dihati dapat dituturkan pada sahabat yang baik, yang mau menyimak apa yang kita kata. Sebut saja Jingga, yang mengutarakan seluruh isi hatinya, kisahnya pada teman-teman sepermainannya. Meski kadang-kadang mereka semua menanggapinya secara negatif. Namun itulah manusia, yang terkadang salah untuk menilai sesuatu yang baru dimatanya juga yang didengarnya.
Rasa sabar yang cukup banyak dimiliki Jingga, membuat teman-teman sepermainannya itu tak pernah ragu untuk bergurau negatif padanya. Apalagi kalau perasaannya tersinggung, marah tapi bukan seperti layaknya orang marah, melainkan mengolok-ngolok. Karna suaranya yang kecil, tutur katanya yang lembut, tingkah lakunya yang gemah gemulai, membuatnya sulit untuk bertindak seperti orang yang marah.
Tersadar olehnya kalau dunia sudah memasuki malam, terfikir olehnya lagi untuk bersiap-siap. Menyadari kalau bulan telah tampak sempurna, kakinya pun melangkah tanpa ragu. Dilewatinya satu-persatu rumah tetangga, dan akhirnya sampai ketempat tujuan.
“kak, Islamiyah nya ada nggak?” Katanya didepan pintu.
“masuk dulu, nggak baik didepan pintu!” Jingga masuk duduk disebelahnya.
“kak, Islamiyah nya ada?” Tanya kedua kalinya.
“nggak ada! Dia pergi, malam ini kan malam minggu!”
“malam minggu, malam sabtu kak?!” Katanya kaget.
“maunya sih gitu! Salah nyebut aja!” Dengan membaca majalah.
“cape deh! Orangnya nggak ada lagi!”, kata hatinya dengan menarik nafas panjang. Dilihatnya kak Mifta yang membaca majalah dengan tertawa. Penasaran, kemudian Jingga melihatnya secara diam-diam. Ternyata artis korea yang dilihatnya, artis favoritnya. “everybody good but boring…….!”, teriakan dihatinya. Sedangkan kak Mifta masih asyik dengan majalahnya tanpa memperdulikannya.
Ketika menghadap kebelakang, terlihat Jannah keluar dari kamarnya dengan mata bengkak seperti orang yang habis nangis. Kemudian berbalik seperti semula usai Jannah menghilang dari pandangannya. Jingga lebih memilih bertahan disamping kakak sepupu tertuanya, daripada harus pergi tanpa bertemankan satu orangpun.

********

^_^ Namanya Dela

“dear diary, apa kabar buku harian?”, katanya dengan bangga saat akan mengisi diarynya sambil berbaring. Dengan bahagia ia mengisinya, seperti suasana hatinya yang berbunga-bunga. Cinta, itulah topik yang ditulisnya hari ini. Beberapa saat usai menulisnya, mendadak berubah seperti orang gila. Tertawa sendiri, senyum sendiri, kadang melamun membayangkan wajah orang itu. “kamu manis banget siih!”, kata pujiannya.
Hari demi hari kini dilewatinya dengan cinta, dengan hati yang berbunga-bunga, yang jelas dengan seribu rasa. Kini Jingga duduk manis diteras rumahnya meladeni sebuah pesan dari teman sekolahnya lewat handpone. Dengan sabar jemarinya menjalani perintah darinya, perhatiannyapun hanya tertuju pada handpone yang digenggamnya. Niatnya yang mula ingin melihat orang itu, batal karna sebuah pesan dijemarinya.
Disaat asyiknya membalas-balas pesan, tiba-tiba ada yang mengejutkannya, yaitu ada yang menepuknya dari samping. Dan tanpa sengaja kata kasar pun keluar dari mulutnya.
“Jingga, mulutnya lebih banget!” Tegur kaget Jannah.
“kamu sih pakek ngagetin segala! Kamu kan tau, aku sibuk apa tadi!”
“kan negor doang! Emangnya salah?”
“bukan negornya, tapi cara kamu yang salah!”
“oh…..gitu…..!” Handpone kembali bunyi.
Kemudian Jingga kembali melanjutkan balas-balasan pesan sama teman sekolahnya. Jannah yang merasa dicuekin sama Jingga, mengaku kesal lalu beranjak tanpa pamit. Sementara Jingga masih belum menyadarinya, melainkan masih tertuju pada handponenya. Ketika akan berpaling kearah kiri, dirinya tidak melihat sosok Jannah yang tadi datang bersamanya. “yah, pergi….!”, katanya dengan sadar.
Kemudian handponenya kembali berbunyi, tangannya pun cepat mengambilnya lalu membalasnya. Usai membalasnya, perhatiannya kembali berpaling tepat kearah kanannya, arah warung kecil itu. Tiba-tiba ada yang membuatnya terpana, dilihatnya orang itu baru datang tanpa kendaraan dan duduk diwarung kecil itu. Jingga pun semakin terpana saat orang itu tersenyum padanya dari kejauhan.
Namun Jingga tidak membalasnya, melainkian jaim padanya. Kemudian ada yang memanggilnya dari dalam sekaligus membuatnya terkejut. Dengan terpaksa Jingga beranjak untuk masuk menghindari orang itu. Ternyata orang dalam yang memanggilnya adalah mamanya sendiri, yang meminta bantuannya untuk membersihkan sayur didapur.

********

“selamat sore dunia….!”, katanya masih kusut didepan cermin dari tidurnya yang melelahkan. Usai menyapa didepan cermin, Jingga langsung mengambil handuknya lalu beranjak pergi kekamar mandi dengan berlari karna kebelet pipis. Sementara Jannah disana mencoba untuk menghubunginya, karna ada sesuatu yang akan ditanyakannya pada Jingga menyangkut gosip-gosip yang sampai ditelinganya.
Tiga kali mencoba, tiga kali juga mengalami kegagalan. Tidak aktif, tidak diangkat, itulah yang menyebabkannya gagal. Sedangkan Jingga yang sedari tadi berada dikamar mandi, kini sudah ada dikamarnya lekas berpakaiaan tanpa memerhatikan keadaan handponenya terlebih dahulu.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

“selamat sore dunia! Now, everything good! I am sweet!”, sapanya kembali didepan cermin dengan kata narsisnya. Kemudian muncul didirinya hasrat untuk melihat orang itu, orang yang membuatnya penasaran. Ketika akan beranjak keluar, tiba-tiba langkahnya terhenti sejenak dan belum melewati pintu rumahnya. Terfikir olehnya bagaimana caranya untuk bertemu dengan orang itu agar tidak ketauan kalau memang ingin bertemu.
Kemudian ide cemerlang muncul dipikirannya, yaitu berpura-pura membeli pop ice diwarung kecil itu, tempat biasa orang itu berdiam santai. Dengan percaya diri Jingga melangkahkan kakinya, langkahnya makin cepat ketika melihat orang itu ada diwarung kecil yang ditujunya.
“mbak, pop icenya satu!” Katanya masih jaim. Orang itu melihatnya.
“tegur lah….!” Mbak menggoda.
“dia siapa sih namanya?” Tanyanya dengan pelan.
“namanya Dela!” Kaget Jingga. Orang itu masih melihatnya.
Hatinya bergetar-getar, tubuhnya berinding ketika mendengar namanya. “what? Your name Dela?” Tanya kagetnya dalam hati. Ketika orang itu berpaling dari pandangannya, diam-diam Jingga mencurinya. Dan ketika orang itu kembali berbalik melihatnya, Jingga kembali berpura-pura jaim padanya sambil mengambil pop ice pesanannya.

********

Kini Jingga sudah mengetahui nama orang itu, rasa penasarannya itupun sudah terbukti. Dan rasa keinginan untuk memiliki orang itupun semakin menggebu-gebu, begitupula dengan hasratnya. Mungkin tiba saatnya Jingga untuk merasakan indahnya cinta, seperti yang dirasakan teman-teman sebayanya sekaligus teman sepermainannya. Berbunga-bunga, itulah kondisi hati Jingga saat ini.

KeEsOkAn HaRiNyA….

Hari-hari kini jadi indah, dimana-mana siap ditaburi bunga cinta, yang hanya ada untuk orang-orang yang terkena sambaran petir asmara. Dan bila petir itu sudah menusuknya, maka tak ada seorangpun yang mampu mengelaknya, melainkan terpana dibuatnya. Sebut saja Jingga, yang mulai berani mengatakan kalau dirinya jatuh cinta pada seseorang, dan itu Dela yang berhasil memikat hatinya.
Sore, hujan deras tanpa henti terus menghalangi langkahnya. Jingga yang sedang jatuh cinta, merasa kesal karna tidak bisa melihat pujaan hatinya. Hujan semakin lama semakin deras diperhatikannya, anginnyapun semakin kencang berhembus semakin dingin terasa. Jingga yang masih menunggu hujan yang reda sejenak, tertidur seketika karna kelelahan dan lupa dengan niatnya.

********

^_^ Diusilin lagi!!!!

Jingga yang mulai memasuki pintu pagar, tersenggol dirinya sama salah-satu setan sekolah, sebut saja Fadil. Jingga yang mengetahui, merasa kesal karna fadil berpura-pura tidak tau. “brengsek….!”, katanya dalam hati sesaat melihatnya sambil berjalan dibelakangnya. Ketika akan memasuki kelas, tiba-tiba Fadil berhenti dan Jingga hampir saja menabraknya dari belakang.
“what?” Tanyanya dengan kaget, kesal.
“sorry, tapi I sengaja!” Katanya masih membelakangi Jingga.
Terpaksa Jingga menunggunya dari belakang seperti orang linglung. Untung saja ada yang memanggilnya dari dalam, sama-sama dengan setan sekolahnya. Jingga pun merasa bebas dan bisa masuk meski harus berbaris dibelakangnya. Jingga yang baru terduduk membuka tasnya, lalu mendapat teguran dari Fadil.
“Jingga, Gana mana?”
“nggak tau tuh!”
“pacarnya kok nggak tau?” Ferdi menyambung.
Kemudian Jingga menarik nafas panjang membuang muka pada mereka berdua. Sedangkan mereka tertawa iseng padanya. Namun Jingga tidak memperdulikan mereka berdua yang masih dengan tawa isengnya.

DuA JaM KeMuDiAn….

Dua jam berlalu, kini saatnya untuk belajar bahasa Indonesia. Dengan ramah guru bahasa Indonesia menyapa sesaat memasuki kekelas. Kemudian menyuruh para muridnya untuk berbentuk senuah kelompok dengan pilihannya. Karna kalau memilih sendiri-sendiri, akan ada salah satu anak didiknya tidak kebagian. Semua setuju dengan keinginannya dan ada juga yang tidak setuju dengan keinginannya.
Sebut saja Jingga, yang mulanya setuju, kini berubah tidak setuju. Karna harus satu kelompok dengan salah-satu setan sekolah, yaitu Gana, sebagai raja setan sekolah dimatanya.
“eh, Jingga!” Katanya mengusik.
“Gan, ini masih jam belajar! Bukan jam istirahat!” Jingga dingin.
Gana tersenyum lalu mengalihkannya pada Putra, yang sama merupakan anggota kelompok, bukan anggota setan sekolah. Putra, merupakan sosok yang polos, kalem, tapi suaranya seperti orang dewasa, tubuhnya saja yang terbilang kecil.

********

Pada saat jam pelajaran kosong berlangsung, ketiga setan sekolah itu mulai membuat ulah lagi. Kali ini ulahnya tidak cuma-cuma, anak cewek disamakan dengan pelacur. Sebut saja Gana yang mulai berulah duluan.
“Dian, Dian!” Panggil Gana dari bangkunya.
“apa!” Dengan melihatnya.
“Fadil aku tawarin lima ribu rupiah! Mau nggak!”
“terlalu murah! Buat Jingga aja, Jingga kan harganya murah!” Jingga kaget dan melihatnya kesal.
“Jingga tuh udah diboking sama Ferdi!” Fadil menngejek.
Mereka berdua tertawa iseng dengan melihatnya, sedangkan Ferdi berusaha membalasnya dengan anak lain. Namun mereka tidak mendengarkannya melainkan masih mengejeknya. Begitupula dengan Dian yang tertawa secara diam-diam. Lain dengan Jingga yang memerhatikan ketiga setan itu dengan dingin yang masih membuat ulah dengan anak cewek lainnya.
Namun ada yang membuatnya takjub, sebut saja Putra yang berteman dengan ketiga setan sekolah itu, yang tak pernah membuat ulah sedikitpun melainkan berdiam diri. Tingkah-lakunya memang dingin dan sulit untuk diajak bicara.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

“akhirnya, bebas juga dari kelas!” Katanya sambil berjalan.
“bebas dari setan sekolah!” Dian menyambung sambil berjalan bersamanya.
“yaiyalah!”
Tiba-tiba langkahnya terhenti tepatnya didepan perpustakaan. Ternyata ada Gana yang menghalangi mereka berdua sesaat akan kekantin.
“bagi duit dong! Uang warnet!” Minta Gana.
“sorry yah Gan, kita nggak ada duit buat kamu!” Ucap Dian.
Usai berkata, Dian langsung menarik tangan Jingga lalu membawanya pergi dari Gana. Sedangkan Gana masih berdiri kesal terhadapnya. Dan mulai beranjak ketika Fadil menegurnya dari belakang lalu mengajaknya untuk pergi kekantin.

********

Seperti hari kemarin, bila Jingga berdiam seorang diri dikelas, pasti ada yang mengusik. Siapa lagi kalau bukan ketiga setan sekolah itu. Pagi-pagi, sekitar pukul enam lewat dua puluh menit, ditemuinya Jingga seorang diri dikelas oleh ketiga setan sekolah itu. Dengan serempak mereka mengelilingi Jingga serta mengambil posisi yang tepat. Jingga yang menyadarinya, hanya berdiam melihat mereka yang siap berbuat.
Ferdi berjaga dibelakang, Fadil berjga didepan, lalu Gana disamping kirinya. Mereka masih melihat Jingga dengan serius, sedangkan Jingga masih berdiam tanpa menegurnya.
“Jingga, Jingga! Nggak takut sendirian didalam kelas!” Gana menegur.
“ih….serem…..! Dulu, disini katanya ada cewek, berambut panjang!” Sambung Fadil menakuti.
“cewek! Bukannya cowok!” Sindir Jingga.
“siapa?” Fadil, Gana serentak.
“yah kalian bertiga lah! Setan, sekolah!” Dengan tegas. Ferdi menarik jilbabnya.
“kamu berani sama kita!” Ferdi bertanya.
“lepasin nggak! Sebelum aku jambak rambut kamu!” Ferdi melepaskannya.
Kemudian Ferdi beranjak kedepan untuk duduk dibangkunya. Gana mengikuti jejaknya, begitupula dengan Fadil yang mulai turun dari bangku dan menuju bangkunya. Kini mereka bersama-sama duduk dibangku masing-masing dengan perhatiannya kearah jendela.

BeBeRaPa SaAt kEmUdIAn….

Pada saat jam pelajaran berlangsung, terlihat Jingga sibuk dengan catatannya. Jenuh, karna ada lembaran catatannya yang hilang. Kemudian pandangannya beralih ketiga setan sekolah itu. Mereka bertiga cukup tenang dan dengan sabar mendengarkan penjelasan dari guru didepan. Terutama Fadil, yang sedari tadi terus memerhatikan meski kadang-kadang Gana suka mengusiknya.

********

Seperti biasa, Jingga kembali berjalan beramai-ramai menuju kelas bersama anak-anak lainnya. Bahagia, karna bisa bersama-sama meniti langkah yang melelahkan untuk menuju ketempat tujuan. Bersama-sama melangkah, namun berbeda-beda tempat yang dituju. Ada yang diatas dan ada yang dibawah, begitupula dengan posisi kelasnya, ada yang didepan dan juga ada yang disamping.
Kini jingga berada didepan kelas tepatnya bersandar dipagar. Pagi-pagi sebelum masuk lebih santai berdiam diluar kelas. Karna banyak angin segar yang menghampiri, juga semangat yang datang secara tiba-tiba hingga membuat kita tersenyum. Disaat keasyikkannya melihat panorama diluar kelasnya, tiba-tiba ada yang berdiam disampingnya. Dan ternyata orang itu Fadil.
Jingga yang mengetahui, langsung menghindarinya dengan masuk kekelas. Ketika akan menuju kebangkunya, tiba-tiba ada yang menghalanginya lagi. Sebut saja Gana, Fadil yang masuk melihatnya menjadi tertawa seketika. Jingga yang mendengarnya langsung menerobos hingga Gana tergeser kebangku satunya. Fadil yang tetawa, berhenti seketika melihatnya.
Kini suasana berbeda, kelas yang dahulunya berisi guru, kini berubah tak berisi. Karna guru tersebut pamit sebentar untuk kekamar mandi. Baru saja beberapa detik ditinggal, anak-anak sudah heboh dengan brisiknya, termasuk dengan ketiga setan sekolah itu.
“Jingga, Gana suka sama you!” Fadil mengusik. Jingga melihat diam.
“Fadil yang suka, kenapa Gana yang jadi sasarannya?”
“bilang aja Gan, ngggak usah malu!”
Jingga yang melihat tingkah mereka berdua, menjadi gerah dan akan berpaling. Dian yang medengarnya, mencoba untuk mengejeknya dengan mereka berdua.
“Jingga! Kamu suka sama Fadil!” Sapa Geby padanya.
“bukan Fadil, Gana!” Dian menyambung.
“kalau Fadil nggak boleh! Udah ada yang punya! Nanti dimarah Ragil!” Dengan menunjuk.
Dian tertawa dibuatnya, sedangkan Geby dipukul sama Ragil dengan buku karna mengejeknya. Sedangkan mereka berdua, Gana, Fadil tertawa tanpa memikirkannya. Lain dengan Jingga yang masih melihat mereka satu-persatu yang mulai mengejekya.

********
Balas-balasan surat cinta

Dela, adalah orang pertama yang berhasil memikit hatinya serta memberinya harapan baru. Selama ini, Jingga slalu rapuh tak berdaya ketika melihat dua insan menyatu, dan terkadang rasa iri itupun datang menghantuinya. Namun yang bisa dilakukannya hanyalah bersedih, merenung, juga menggebu-gebu ingin mendapatkan pacar dengan secepatnya alias dalam waktu yang singkat.
Dengan harapan yang baru, Jingga berkeinginan perasaanya terbalas juga mendengar kata cinta darinya. Dengan sabar Jingga menunggunya, dan sabar itupun membuahkan hasil untuknya. Semua itu bermula saat pergi kewarung kecil itu dengan membeli minuman favoritnya. Tiba-tiba mbak yang meladeninya memberinya sebuah surat, dan ternyata surat itu persembahan dari Dela, pujaan hatinya.
Hatinya kembali berbunga-bunga, bergetar-getar seketika membaca satu-persatu kalimat yang tertera. Dan ketika akan membalasnya, tangannya terkadang kaku dingin, dan gugup harus berbalas apa. Usai menulis, tangannya mulai melipatnya dengan rapi. Melihat keadaan suratnya yang rapi, Jingga pun beranjak untuk mempersembahkannya lewat mbak itu, mbak Vera.

SaTu HaRi KeMuDiAn….

Jingga kembali menerimanya, dengan hati bahagia, Jingga membukanya dengan deg deg an. Dibacanya dengan teliti, bibirnya tersenyum manja karna terdapat kalimat yang memujinya. “oh….so sweet!”, katanya sesaat membacanya. Kini Jingga mulai berpikir untuk membalasnya. Dikeluarkannya apa yang ada dihatinya, dan mulai ada sedikit agresif pada tulisan yang ditulisnya.

********

Hari-hari kini dilewatinya dengan surat-menyurat, dan tiada hari tanpa sepucuk surat. Semua berawal dari mbak Vera, mbak yang slalu melayaninya seketika dirinya berjajan diwarung kecil, awal perjumpaannya dengan Dela. Baru kali ini Jingga menerima surat cinta dari narasumbernya. Tapi sayang, narasumbernya tidak punya nyali untuk mempersembahkannya secara langsung. Melainkan lewat bantuan orang lain.
Hari ini, tepatnya hari senin, sepulang sekolah mendadak dirinya kegirangan. Dengan cepat ia merebahkan tubuhnya dan mulai membuka apa yang diterimanya tadi. Ternyata surat cinta itu lagi yang diterimanya dari mbak Vera sesaat melewatinya. Bibirnya tersenyum, kepolosan, lugu yang ia punya mulai menunjukkan tanda-tanda asmara. Matanya berbinar, lalu muncul hasrat dibenaknya untuk memilikinya dengan segera.

KeEsOkAn HaRiNyA….

“mbak, ada balas suratnya nggak?” Dengan polos dan sedikit pelan.
“belum! Kamu diam-diam aja!” Katanya masih meracik minuman Jingga.
Jingga yang bertanya kepadanya dengan polos, merasa ada yang aneh dari perkatannya. Namun Jingga hanya berdiam dan tetap berpikiran positrif. Hatinya kini bertanya-tanya, lalu Jingga melampiaskannya dengan terbuka pada kakak sepupunya, Islamiyah.
“kalo nggak percaya, nih suratnya!?” Dengan memberikannya.
“surat dari siapa? Banyak banget!” Kaget Islamiyah.
“itu baru dua, beberapa hari lagi bisa lebih! Tunggu aja! Oyah, surat itu dari Dela!” Terbuka Jingga polos. Islamiyah membacanya.
“ya ampun, manis banget kata-katanya!” Katanya sesaat membacanya.
“gombal! Tapi hati aku berbunga-bunga!” Tatap Jingga padanya.
Islamiyah yang membalas tatapannya, menarik nafas panjang dan kembali melanjutkan acara membacanya. Sedangkan Jingga langsung merebahkan tubuhnya lalu berandai-andai. Seketika bibirnya tersenyum terbawa andai-andainya, sementara Islamiyah masih mengamati isi surat yang diterima Jingga dengan teliti.

********

Sore, Jingga kembali menerima balasan dari suratnya. Hatinya kembali berbunga-bunga, dan hasratnya pun semakin jauh. Dengan tangan terbuka ia menerimanya, juga dengan mata yang berbinar-binar. Seolah-olah mengisyaratkan, kalau dirinya benar-benar jatuh cinta diusianya yang masih teramat muda. Namun masalah itu tak terpikirkan olehnya, yang penting, hari ini dirinya bahagia dan seterusnya.

KeEsOkAn HaRiNyA….

Pulang sekolah, langit tak bersahabat dengannya, ingin pulang dengan suasana yang kering, justru pulang dengan suasana yang basah. Dengan setia Jingga berdiam diangkot yang akan membawanya pulang dengan hujan yang deras. Sesampainya disana, mendadak hujan yang tadinya deras berubah menjadi gerimis. Dengan cepat Jingga melangkahkan kakinya sebelum hujan kembali deras.
Melewati tikungan, melewati juga warung kecil itu, kemudian ada seseorang menegurnya. “Jingga!” Katanya merayu. Jingga berhenti sesaat. Ketika mengetahui orang tersebut adalah Dela, tanpa pikir panjang Jingga langsung berlari kecil menghindarinya. Dan mulai merasa bebas seketika memasuki kamarnya dengan seragamnya yang basah masih melekat ditubuhnya.

DuA HaRi KeMuDiAn….

“mbak, beli pop ice nya ya satu!” Katanya basa-basi.
“kamu sih pakai kabur segala!”
“emangnya kenapa?”
“Dela, kemarin mau ngasih surat sama kamu!”
“aku nggak siap! Makanya kabur, lagi pula kemarin kan hari ujan!”
Tiba-tiba mbak Vera memberinya sebuah surat balasan dari Dela padanya dengan mimik yang mencurigakan. Begitupula dengan minuman yang dipesannya. Kemudian Jingga beranjak pergi usai menerimanya.

********

^_^ Filmnya mengharukan banget!!!

Kembali kesekolah, sungguh hal yang membosankan. Apalagi jika teringat sama tingkah-laku ketiga setan sekolah itu, yang slalu memancing emosi Jingga. Kini ketiga setan sekolah itu kembali menggawangi kelas. Dengan setia mereka menunggu mangsa yang tepat, siapa lagi kalau bukan Jingga. Dengan tas masih dipikul, mereka masih berdiri menggawangi kelas.
Sedangkan Jingga yang tak sengaja melihatnya, terhenti menghindarinya. Sementara ketiga setan sekolah itu belum menyadarinya. Disaat Jingga masih berdiri menunggu jam masuk, mendadak ada yang menegurnya.
“Jingga, masuk yuk!” Geby mengajak.
“ma, masuk!” Gugup tersenyum malu.
“Jingga, kamu jangan takut! Kan ada Geby! Kamu kan tau, mereka bertiga nurut sama Geby!”
“ta, ta….?” Belum selesai Jingga bicara, Geby langsung menariknya.
Was-was, itu yang dirasakan Jingga. Namun lain dengan Geby, yang biasa saja saat mulai memasuki kelas. Kini mereka berdua semakin dekat, dan berhadapan langsung dengan ketiga setan sekolah yang sedari tadi menggawangi kelas. Disaat mereka berdua tiba berhadapan langsung, ketiga setan sekolah itu terpana memerhatikan mereka berdua. Jingga semakin takut terasa, dan tiba-tiba Geby kembali menariknya dengan menerobos ketiga setan sekolah tersebut.
“makasih ya, Geb! Kamu, udah mau bantuin aku!” Katanya sesaat tiba dikelas.
“sama-sama!” Geby membalas dengan menuju bangkunya, begitupula Jingga.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

“Jingga, break dulu dong belajarnya! Gurunya aja masih main-main diluar!”
“ada apa sih Dian? Kok kayaknya penting banget! Apa tentang setan sekolah itu lagi?” Katanya sambil menutup bukunya.
“bukan! Makanya tatap gue sekarang!” Jingga menatapnya. “ntar, pulang sekolah ikut gue nggak?”
“mau kemana?” Tanyanya dengan polos.
“mau nyewa DVD, tepatnya diseberang sekolah!”
“boleh! Gue juga butuh DVD!” Katanya setuju.
Selang beberapa jam, waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Dengan cepat Dian menariknya yang masih terduduk hingga membuatnya hampir jatuh. Setibanya disana, Jingga mulai mencari sebuah film yang akan ditontonnya. Film itupun ditemuinya, yaitu “Cinta Pertama”, film yang berhasil menarik perhatiannya. Tanpa ragu, Jingga langsung menunjukkannya saat Dian mengajaknya untuk memberitahu kepenjaga kaset.

********

Kini Jingga berada dikamarnya, tepatnya didepan televisi tempatnya untuk menyaksikan sebuah DVD yang menarik perhatiannya. Dengan setia dirinya menunggu, setelah dimasukkannya sebuah DVD yang akan ditontonnya. Entah kenapa, dirinya begitu tertarik dengan DVD tersebut. Apalagi judulnya yang bertakjub “Cinta Pertama”, yang begitu membuatnya penasaran.
Kini film itu sedang berputar, Jingga pun mulai serius untuk menyaksikannya. Dengan suasana sepi, hanya sendiri, dan yang terdengar hanyalah suara DVD yang diputarnya. Seperti suasana diboskop, itulah yang dirasakannya. Film itupun mulai bercerita, hingga membuatnya takjub akan kata-katanya yang didengarnya dari film tersebut. Kemudian terbayang perasaannya tentang orang itu, Dela.
Apalagi pembukaan film itu disertai dengan sebuah lagu sekaligus video klipnya, “Cinta Pertama [sunny]”, yang dibawakan oleh Bunga Citra Lestari sekaligus pemain utamanya. Kemudian film tersebut menyentuh perasaannya yang dalam, juga akan kata-katanya yang seperti puitis, begitupula dengan bahasa pengucapannya. Dari situ, Jingga mulai terbawa dan larut berandai-andai secara mendadak.
Sungguh malang yang dialami sama Bunga Citra Lestari, yang berperan sebagai Alia dalam film tersebut, yang harus rela menunggu cinta pertamanya dalam keadaan yang tak sadarkan diri selama empat bulan. Sebut saja Ben Joshua, yang berperan sebagai Sunny yang merupakan cinta pertamanya. Semua itu terbongkar, saat tunangannya mengetahui isi diarynya yang merupakan hadiah ulang tahunnya dari sahabatnya.
Didalam diarynya, begitu banyak nama Sunny yang disebut dibanding dirinya. Sedikit kecewa dibenaknya, namun tunangannya bisa memakluminya. Karna bantuan tunangannya, mereka berdua dapat bertemu meski diwarnai dengan kedukaan. Dan ketika perpisahan itu kembali terjadi, Alia menghembuskan nafas terakhirnya lalu meninggalkannya sendiri.
Serentak penyesalan timbul dihati Sunny begitupula dengan tunangannya, karna baru mengetahui perasaan Alia sekarang, disaatnya sekarat lalu pergi untuk selamanya. Jingga yang masih menyaksikannya, bergetar-getar, berinding, menyimak ceritanya yang begitu mengharukan baginya. Sesaat hatinya tersedih, namun airmatanya tak jua menetes. Dan film itupun berakhir dengan berjalannya waktu.
Baginya, film cinta pertama sangat mengesankan dihatinya. Kisahnya yang mengharukan, soundtracknya yang mendukung, juga kata-katanya yang menebarkan, membuatnya akan slalu ingat pada film tersebut. Karna hatinya sudah terlanjur tersentuh dan terbuka hingga membuatnya tak berdaya saat mengetahui jalan cerita film tersebut. Usai menyaksikannya, Jingga kembali teringat pada sosoknya, Dela.

********

^_^ Sensitive thinking!?

Seperti biasa, Jingga harus kembali bersekolah. Waktu memang cepat berputar, dan hari tanpa sadar tlah berganti. Cerita apa lagi yang akan didapatkannya pada hari ini, esok, dan seterusnya. Berbagai cerita dirangkumnya, berharap ketiga setan sekolah tersebut tidak ikut serta untuk melengkapinya. Namun fikirnya salah, Jingga terpaksa membagi kisahnya dengan disertai ketiga setan sekolah tersebut.
Seperti hari-hari sebelumnya, anggota setan sekolah itu kembali menggawangi kelas. Kejadian ini kembali terulang saat Jingga akan memasuki kelas. Setibanya didepan kelas, terlihat kembali olehnya anggota setan sekolah yang sedari tadi berdiri menggawangi kelas. Terpaksa menunggu, menunggu dermawan yang mau membantunya. Disaat asyiknya menunggu, tiba-tiba datang seorang padanya.
“Jingga, masuk yuk! Aku ada perlu sama kamu!” Ajak Gana.
“perlu, perlu apa? Mau ngerjain aku lagi!?” Jingga curiga.
“kamu mau selamat nggak dari mereka?”
“justru sama kamu aku bahaya! Bukannya sama mereka!”
“ya udah kalau nggak mau!” Beranjak pergi.
Jingga yang melihatnya beranjak pergi, menarik nafas panjang seketika. Karna yang ada dipikirannya, kalau dia terbebas dari makhluk berbahaya yang baru saja mengajaknya berbicara. Selang waktu berjalan bel tanda masuk pun berbunyi. Sedikit lega yang dirasakannya, dan kini duduk manis bersama teman sebangkunya sambil menunggu datangnya seorang guru.
Gana yang sempat mengajaknya berbicara, bermaksud mengutarakannya pada Fadil. Tentang apa yang didengarkannya dan disaksikannya dari sosok Jingga yang slalu diusilin olehnya.
“tadi Jingga sinis banget sama gue! Gue aja kaget dengarnya!”
“kaget! Masa lo kalah sama dia!” Fadil mengejek.
“bukan gitu! Masalahnya, waktu gue ajakin kekelas bareng-bareng, dia nggak mau!”
“yaiyalah Jingga nggak mau! Lo kan sering jailin dia!”
“emang sih! Tapi setidaknya, dia hargai kepedulian gue dong!”
“lo suka sama Jingga!” Fadil mengejek.
“males gue! Ya nggak lah!”
Fadil tertawa atas ucapannya, dan terus mengejeknya. Sedangkan Gana mencoba bersabar tanpa membalas ejekannya. Kemudian pandangannya tertuju pada Jingga yang sibuk dengan teman sebangkunya, Dian. Kemudian kembali berpaling ketika menyadari kalau dirinya terpana pada sosok Jingga yang slalu diusilin olehnya.

********

Ketika mengetahui jam pelajaran kosong, Jingga bermaksud akan mengutarakan isi hatinya pada Dian, teman sebangkunya. Namun sesaat akan dikonfirmasi, mendadak Dian tertidur karna mengantuk. Sedikit kecewa yang dirasakannya, dan beralih dengan memandangi anak-anak lain yang berbuat ulah. Suasana kelas makin ribut, ketika ketiga setan sekolah itu mulai beraksi.
“mulai lagi deh, tingkah-lakunya! Minta dipuji banget sih jadi orang!” Kata tanpa sadarnya sesaat melihat Gana berulah.
“kamu ngomong apaan sih! biarin aja nggak usah ikut campur!” Dian menyambung. Jingga kaget.
“kamu tidur tapi kuping kamu on terus!”
“yaiyalah!” Jawabnya dengan mata tertutup.
Usai bercengkrama dengan teman sebangkunya, Jingga kembali memandangi anak-anak lainnya yang secara bergantian membuat ulah didepan kelas. Hampir semuanya tertawa akan ulahnya yang berlebihan, semuanya makin tertawa, ketika ada drama dadakan yang ditunjukkan didepan kelas oleh beberapa murid yang gemar melucu. Jingga pun ikut serta menertawainya sesaat kelucuan itu muncul.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

Dengan menunggu jam berakhirnya waktu istirahat, Jingga berniat akan mengutarakan isi hatinya yang sempat gagal karna teman sebangkunya, Dian tertidur karna mengantuk.
“Dian, may I ask you?” Jingga bertanya.
“yes, utarain aja semuanya!”
“kalau kita berkata, “mana duli”, apa seperti anak kecil!?”
“nggak semuanya kok! Tergantung aja! Biasanya aku juga makai kata itu kalau lagi marah sama dia!”
“dia, dia siapa?” Tanya Jingga polos.
“ya sama gebetan gue lah!”
“jadi, nggak semuanya orang dibilang anak kecil, ketika berkata seperti itu!?”
“yes! So!”
“udah ah, udah cukup!” Dengan senyuman kecil menatapnya.
Jingga yang mengutarakan isi hatinya, merasa lega dan bangga. Karna apa yang mengusik pikirannya, kini terjawab sudah ditangan teman sebangkunya, Dian.

********

“sekolah, sekolah, sekolah! Borink you know!” Kata hatinya sesaat memasuki halaman sekolahnya. Dengan santai Jingga mengayunkan langkahnya, juga dengan pandangannya yang berlukiskan ketidaksukaan hatinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti, karna ada seseorang yang menghalanginya secara tiba-tiba. Dirinya makin kesal, ketika mengetahui siapa seseorang tersebut.
“Gana, Fadil, Ferdi, kalian ngapain ngalangin gue lagi?” Tanyanya marah.
“kalau dikelas nggak bisa! Makanya kita-kita ngalangin lo disini!” Ucap Fadil dengan santai.
“up too you!”
“whatever!” Gana, Fadil, Ferdi serentak.
Kemudian mereka bertiga beranjak pergi darinya. Jingga yang menerima perlakuan mereka, mengaku tersinggung dan menyimpan dendam pada mereka bertiga.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

Pada jam istirahat, suasana kelas begitu sepi, karna banyak penghuninya yang lebih memilih untuk mengisi perut dikantin. Dikelas yang begitu sepi, terlihat sosok Jingga yang berdiam dikelas dengan membaca buku. Buku itu bukan buku pelajaran, melainkan sebuah novel. Gara-gara asyiknya membaca, tak sadar olehnya kalau ketiga setan sekolah itu sudah mengelilinginya.
“ya ampun! Kalian!” Katanya dengan kaget sesaat menyadarinya.
“disekolah kan nggak boleh bawa novel! Apa perlu kita laporin!?” Fadil mengancam.
“serah gue dong! Buku-buku gue!”
“tapi ini bukan sekolah lo!” Gana menyambung sinis.
“siapa bilang ini sekolah gue?” Jingga membalas emosi.
“payah lo! Nggak bisa diajak baik-baik!” Gana menyambung lalu beranjak. Sambung Fadil juga Ferdi.
Jingga yang melihatnya, mengaku kaget karna dilihatnya sosok Gana yang berubah sensitif padanya. Tak mengerti olehnya, dan hanya bisa berdiam tanpa mengomentarinya lebih lanjut.

********

^_^ Sore romantis

Jingga masih terduduk manis dirumah teman sepermainannya. Bukan dirumah Islamiyah, Anggi, juga Eka. Melainkan berada dirumah teman sepermainannya yang tertutup, sebut saja Khusnul. Dirinya masih berdiam seorang diri menunggu kedatangannya dari atas rumahnya.
“Jingga, jadi nggak hari ini kita jalan-jalan?” Katanya ketika datang dengan terduduk disampingnya.
“jadi dong!”
“let’s go!” Katanya kembali dengan menarik Jingga.
Ketika melangkah pergi dengan bercanda, tiba-tiba ada yang menggetarkan hatinya. Dilihatnya sosok Dela yang duduk manis diwarung kecil itu dengan sebuah majalah ditangannya. Lebih parahnya lagi, dia duduk paling barisan depan dari beberapa kursi yang ada. Mengetahui Jingga yang lewat didepannya bersama seorang temannya, dia langsung mensiulnya seperti mengusir tikus. Namun Jingga tidak peduli padanya.
Masih melangkah dan terus melangkah, hatinya tak lagi bergetar-getar, namun masih terbayang jelas kejadian yang baru saja terjadi.
“em, em, em! Ada yang godain niye!” Khusnul menggoda sesaat tiba disebuah toko.
“whatever!” Dengan sinis.
“tapi kamu suka kan!” Jingga tersenyum malu dengan menatapnya.
Kemudian mereka kembali melangkah untuk pulang. Jingga yang masih ragu untuk pulang, berharap sosok Dela pergi dan tidak mengganggunya lagi seperti yang tadi. Masih melangkah dan mulai mendekati warung kecil itu. Ternyata yang ada dipikirannya salah, dan Dela masih duduk seperti semula. Namun ada yang berbeda, tadi dia duduk seorang diri. Dan kini dia duduk bersama ibu-ibu dengan mengedepankannya.
Kiranya Dela tidak akan mensiulnya kembali seperti mengusir tikus karna tau malu dengan ibu-ibu yang sedang ngumpul. Namun tidak, Dela kembali melakukannya ketika Jingga tepat lewat dihadapannya. Mulai terdengar ibu-ibu tetawa dibuatnya. “Jingga, bales dong!” Kata Khusnul dengan pelan serta senyuman. Jingga menariknya untuk berjalan lebih cepat tanpa membalas kata-katanya dan menuruti perintahnya.
“akhirnya, kita sampai juga!” Katanya lega didepan rumah dan masuk. Disusul Khusnul.
“siapa sih orang itu?” Tanyanya ketika terduduk.
“Khusnul, orang itu namanya Dela!”
“what? Dela? Nama itu kan perempuan! Nama samaran kali yah?”
“bisa jadi bisa nggak!” Jingga kembali tersenyum.
Kemudian Khusnul membuka makanan yang dibelinya dari sebuah toko, begitupula dengan Jingga. Dan mereka berdua mulai memakannya dengan bercanda.

********

“sore romantis!” Katanya didepan cermim.
“Romantis itu apa sih, kak?” Sambung adik perempuannya dipintu kamar.
“kamu anak kecil tau apa sih!?”
“kakak punya pacar yah?”
“up too you adikku sayang!”
Kemudian kembali menyisir rambutnya serta memakaikannya sebuah bando putih sesuai dengan warna pakaiannya. Semua terlihat rapi, dan kini tinggal melangkah pergi. Ketika akan beranjak keteras, tiba-tiba mamanya datang lalu menyuruhnya untuk menemani adik perempuannya membeli kue snack disebuah toko tempatnya yang dituju bersama Khusnul kemarin sore.
Dengan terpaksa Jingga menemaninya serta menggandeng tangannya agar tidak jatuh ketika berjalan. Dan ketika melewati warung kecil itu, terdengar kembali pensiulan seperti mengusir tikus menarik perhatiannya. Terhenti sejenak lalu menoleh, ketika sadarnya kalau orang yang melakukan pensiulan itu adalah Dela. Dengan cepat Jingga melangkah dengan menggendong adik perempuannya.

KeEsOkAn HaRiNyA….

Jingga masih berdiam dikamarnya dengan membaca sebuah novel. Dirinya terduduk ditempat tidurnya dengan bersandar manikmati jalan cerita sebuah novel yang dibacanya. Tiba-tiba terdengar ditelinganya kalau ada suara yang sedang bernyanyi, tepatnya sebuah lagu pop yang berjudul, “Cinta pertama (Sunny)”. Jingga tertawa, sesaat menyadari kalau suara itu adalah suara adik perempuannya.
Kemudian Jingga kembali melanjutkan acara membacanya dan masih mendengar suara adik perempuannya bernyanyi. Disaat asyiknya menyimak jalan cerita, tiba-tiba ada yang membuka pintu serta membuatnya kaget. Dirinya bernafas lega, setelah mengetahui kalau adik perempuannya yang datang menemuinya.
“kakak, kakak lagi baca apa sih!” Tanyanya dengan polos duduk disampingnya.
“anak kecil nggak boleh tau!” Dengan sombong.
“kakak sombong sama Aya! Oya, kak! Kemarin kenapa berhenti? Itu tuh, kemarin waktu mau beli kue!”
“kemarin, ada suara hantu, makanya berhenti!”
“hantunya serem nggak, kak?”
“seremnya seperti kamu!”
Kemudian Jingga mendapat tamparan kecil dimulutnya. Jingga yang kaget, melihat adiknya tertawa lalu mencubit pipinya dengan pelan.

********

^_^ Kenapa harus marah?

Jingga yang mulai memasuki kelas, merasa aneh pada pemandangan kelasnya. Ditemui sosok Gana seorang diri menggawangi kelas. “dimana anak buahnya?” tanyanya dihatinya. Begitu curiga tatapannya yang dirasakannya. Jingga, Gana, saling bertatapan dengan curiga, dan sama-sama berpaling ketika Jingga lewat disampingnya memasuki kelas. Melihat keadaan Gana yang tiba-tiba sinis padanya, membuatnya semakin curiga.
Ketika akan beranjak kebangkunya, tiba-tiba saja langkahnya terhenti kaget. Dilihatnya kedua setan sekolah yang sedang duduk dibangkunya dengan menatapnya terdiam. Mulai melangkah lalu melihat ada buku tulis dimeja mereka dan berhenti lagi ketika melewati bangku mereka.
“em, tumben kalian nggak ikut bos kalian!” Tegur Jingga berani.
“kita nggak ikut, karna Gana melarang!” Balas Fadil.
“nggak ikut, apa ngerjakan pr?!”
“enak aja nggak dong!” Sambung Ferdi. Jingga tersenyum.
Kemudian beranjak pergi menuju bangkunya. Ketika terduduk, tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya. Tanpa sengaja dilihatnya sosok Gana yang kembali menatapnya dengan sinis seperti yang dilakukannya tadi dan masih berdiam dipintu kelas. Kemudian terputus, ketika ada siswa yang menyapanya dari luar mengajaknya bicara.

BeBeRaPa SaAt KeMuDiAn….

“Dian, kamu ngerasa nggak, kalau hari ini ada yang aneh!?” Katanya sesaat terduduk dikantin.
“nggak! Biasa-biasa aja tuh!” Dengan santai.
Ketika akan membalasnya, tiba-tiba terlihat lagi sosok Gana beserta kedua temannya datang mengantri makanan. Kemudian Gana membalas pandangannya dengan dingin, sedangkan Jingga masih memandanginya dengan polos. Hanya sekejap Gana memandanginya lalu memalingkannya kearah lain. Jingga pun tertunduk lalu meminum-minumannya tanpa melihatnya lagi.
“Jingga, sebenarnya ada apa sih?” Dian kembali mengajaknya bicara.
“ada apa, apanya?” Dengan gugup.
“balik nanyak lagi! Lo tadi bilang, kalau hari ini ada yang aneh nggak bagi gue!”
“kan, udah lo jawab!”
“emang sih, tapi apa alasannya?” Dian penasaran.
“satu, dua, tiga, lupakan! Ok!”
“it’s ok!” Dian membalas lemas.
Jingga pun merasa lega dan menarik nafas panjang, karna Dian telah menyetujui apa yang diucapkannya meski dengan berat hati. Kemudian kembali kekelas ketika bel tanda masuk mulai berbunyi.

********

Sama seperti hari kemarin, Gana kembali menatapnya dengan dingin. Hampir setiap kali terpandang, Gana selalu memberinya pandangan sinisnya, dan tanpa mengajaknya untuk bercanda kembali seperti dahulu. Tidak peduli dengan awal masuk, belajar, seta istirahat juga dengan perasaan Jingga yang menerima pandangan sinis yang terlanjur dipersembahkannya.
“Gana tunggu!” Katanya dengan keras dijalan sesaat pulang sekolah.
“kamu nggak perlu panggil aku sekeras itu!” Dengan sinis.
“kalau nggak keras, kamu nggakkan tanggap! Aku disini, mau bertanya sama kamu!”
“tanya apa?”
“kenapa tiba-tiba kamu marah sama aku?”
“itu karna kesalahan kamu!”
“maksud kamu apa? Aku benar-benar nggak tau!” Jujur Jingga.
Kemudian Gana bercerita yang sebenarnya, kalau dia sangat tidak menyukai tentang ejekannya, yang dinilai sangat keterlaluan. Baginya, Jingga cukup mengejeknya dengan kata “setan sekolah”, bukan dengan kata “raja setan sekolah”. Karna dirinya sangat tersinggung dengan kata “raja setan sekolah” dibanding dengan kata “setan sekolah”. Dan memberitau kalau dia mendapat informasi semua itu dari temannya, Dian.

KeEsOkAn HaRiNyA….

Jingga yang menunggunya dengan kesal dipintu gerbang, mencoba untuk bersabar yang kesekian kalinya, dan berusaha untuk memendam amrahnya yang sudah terkumpul. Tiba-tiba teringat kembali dipikirannya tentang tuturan Gana yang begitu jujur dan terbuka kepadanya. Jingga merasa bersyukur, karna bisa memaksa sosok Gana yang menjengkelkan untuk terbuka atas apa yang membuatnya marah.
Masih menunggu, dan masih berdiri dipintu gerbang. Disaat letihnya menunggu, tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang. Jingga berbalik.
“lagi nungguin siapa sih? Masuk yuk!” Sapa Dian.
“tunggu!” Dengan memegang tangannya. “aku mau bicara sama kamu!”
“bicara apa?”
“kenapa kamu nggak bilang, kalau kamu ngebongkar rahasia itu sama Gana!?” Jingga serius, Dian terkejut.
“sorry, bukan maksud….?” Jingga memotongnya.
“aku udah tau semuanya! Dan sekarang, aku kecewa sama kamu!”
Usai mengatakan amarahnya, Jingga langsung beranjak pergi meninggalkannya dengan langkah yang cepat. Sedangkan Dian masih berdiam dan tidak menyangka sama sekali.

********

^_^ Cinta yang salah

Seiring berjalannya waktu, mulai terdengar isu-isu tak sedap yang mulai masuk ketelinganya. Terlalu sering orang berkata, “semua itu palsu! Semua itu bohong!”, yang kini mengusik ketenangannya, kedamaiannya, kepercayannya, serta kenyamanannya ketika bercinta dengan sosoknya, yang diyakini cinta pertamanya. Dan sampai sekarang, Jingga masih belum mempercayai semua itu, semua yang orang kata.
Sebut saja Eka, yang tidak suka mendengar namanya ketika Jingga bercerita, justru membantahnya dan mengalihkannya kepada yang lain, asalkan tidak ada kaitannya dengannya. Pernah suatu hari dia bilang sesuatu kepada Jingga, hingga membuat Jingga menggebu-gebu ingin memilikinya.
“kalau kamu bisa mendapatkan Dela, berarti kamu hebat?!”
“emangnya kenapa? Perasaan nggak ada yang spesial!”
“Jingga, Dela itu tampan! Banyak yang suka!”
Itulah sepenggal ucapannya yang telah membuat Jingga menggebu-gebu untuk merebut hati sang pujaan sekaligus cinta pertamanya. Lain halnya dengan Islamiyah, yang tersenyum kecil tanpa berkata-kata ketika Jingga bercerita tentang Dela kepadanya. Dari situ Jingga mulai merasa curiga, merasa kalau ada yang disembunyikan dari mereka yang dikenalnya.
Hari ke hari Jingga menunggunya, menunggu kejujuran dari teman-teman sepermainannya yang mengetahui hubungannya bersama Dela yang telah dianggapnya cinta pertama. Kurang lebih dua minggu mereka tertutup, kurang lebih dua minggu juga mereka berdiam atas hubungannya bersama Dela. Tiada keterbukaan dari mereka terhadapnya, hingga mengantarkannya untuk mencari tau sendiri.
Ketika hari memasuki malam, tiba-tiba ada yang memanggil yang kediamannya bersebelah dengan warung kecil itu, teriakkannya seperti sangkakala, hingga telinga ini mendengar dengan sangat jelas. Langkah kaki telah dilangkahkan, menujunya yang memanggil dengan teriakkan.
“Jingga, temenin aku yuk!” Katanya sesaat tiba dihadapannya.
“emangnya kamu mau kemana?”
“kakak aku minta belikan makanan sate! Masa aku perginya sendirian, kan bete!”
“udah aku temenin, aku juga bete dirumah!”
Kemudian mereka berjalan menuju Dimana dijualnya makanan tersebut. Ternyata orang yang memanggilnya dengan keras itu adalah Ivan, temannya dulu. Ditengah perjalanan menuju tempat yang dituju, tiba-tiba Ivan mengajaknya berbicara sambil berjalan.
“ada satu rahasia yang harus kamu tau! Dan aku tau, kamu pasti sakit mendengarnya!”
“apaan sih, kamu jangan buat aku penasaran?!” Katanya masih berjalan.
Kemudian Ivan membongkar semuanya, rahasia yang sangat terkunci rapat hingga membuat Jingga terlambat untuk mengetahuinya. Sesungguhnya, apa yang diterimanya selama ini hanyalah palsu, tiada kebenaran yang mewarnai, melainkan kepalsuan yang turut mewarnainya. Terutama surat-suratan yang telah membuatnya berangan-angan. Dan kata-kata manis yang kian membuatnya tersenyum.
Ketika mendengar penjelasan dari Ivan, terhenti sejenak terdiam malu. Yang jelas kecewa dirasakan, hancur, serta malu yang mulai datang menghantuinya. Dan kembali berjalan usai menatapnya tersedih atas penjelasan yang terlanjur didengarnya.

********

Bagaikan tersambar petir, kilatnya menghidupkan amarah, hingga amarah tersebut menaik drastis tanpa diminta. Dunia begitu cerah, suasana begitu damai. Tapi lain baginya, dunia penuh kepalsuan, pangkhianatan, serta kebohongan yang merajalela. Ingin berteriak sekuat tenaga, namun tersadar kalau tenaga telah habis. Ingin menangis sepuas-puasnya, namun airmata tak tercukupi.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin pepatah itu yang pantas untuknya yang menjadi korban pelampiasan didunia percintaan. Apakah salah bila mencintai? Apakah salah bila menyayangi? Dan apakah salah bila mengasihi? Pikirnya sesaat tersedih menyesal dikamarnya. Saat itu orang rumahnya pergi entah kemana, tanpa memperdulikan keadaannya yang tersedih sendirian.
“sekarang aku sendiri, nggak ada yang peduli!”
“siapa bilang, masih ada aku!” Islamiyah menghampiri.
“aku, aku udah tau semuanya! Dan sekarang, penyesalan itu aku rasa! Rasanya sakit!” Katanya tersedih.
“aku bahagia, karna kamu sudah tau semuanya!”
Islamiyah mencoba menghiburnya, sedangkan Jingga masih tersedih menangisi penyesalannya.
Cukup sekali tersakiti, terkhianati, terbohongi karna cinta. Cukup sekali dibutakan dengan sebuah surat dan kata-kata manis, pada dirinya yang sama sekali tidak bersalah. Kepadanya yang masih anak kecil tidak tau apa-apa juga masih terbilang polos. Kemudian teringat kembali tentang kata-kata manisnya, senyumannya, rayuannya, serta suratnya.
Senyumannya hanyalah topeng semata. Kata-kata manisnya hanya untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Rayuannya hanyalah rayuan gombal semata. Kemudian surat-suratan hanya untuk hiburan akan tetapi sangat menyakitkan dibelakangnya. Andai semua itu tidak terjadi, andai dapat mengetahui sebelum terlambat, tentu penyeselan tidak terlalu sakit dirasa dan dapat dimengerti.
Semakin tersiksa jika teringat, semakin hancur bila terukir, namun yang bisa dilakukan hanyalah menyesal menahan kebencian yang ada. Malu, karna selalu membanggakan dirinya kepada teman-temannya. Kini semua rasa itu bercampur menjadi satu, dan masih didalam pikiran yang dulu tenang kini berubah menjadi kacau.

********

Dimalam itu, angin berhembus dingin menerpa jiwa yang lemah, jiwa yang tergores kesakitan. Bulan tak tampak sempurna atas penampilanya, melainkan setengah yang ditunjukkanya. Bintang tak terlihat terang, melainkan menjauh muram dipandang. Langit begitu jauh begitu gelap, angin semakin berhembus dingin semakin terasa sakit menusuk jiwa.
Kini berdiam disuatu tempat, tepatnya disebuah café ditepi jalan, sebagai pelarian untuk membuang kesal yang ada. Disaat asyiknya terduduk memandangi pemandangan malam, kemudian ada yang datang secara tiba-tiba.
“hai!” Sapanya ketika terduduk dihadapannya.
“Ivan, ada apa kamu kesini?”
“aku juga nggak tau ada apa aku kesini!” Jingga menarik nafas panjang.
“oyah, kenapa kamu nggak bilang dari awal, kalau semua itu bohong! Aku kira, kamu temen aku yang mau terbuka dari semua itu! Ternyata apa yang ada dipikiran aku semuanya salah! Ternyata kamu sama seperti mereka, menusuk aku dari belakang!”
“Jingga, kamu salah paham!”
“busyet! Aku nggak percaya lagi sama kamu!” Jingga pergi. Ivan terdiam.

DuA HaRi KeMuDiAn….

“Ivan, maafin aku! Aku tau aku yang salah! Aku tau kamu pasti marah sama aku! Maka dari itu, aku minta maaf sama kamu!” Kata maafnya ketika bertemu dijalan.
“aku udah maafin kamu dari jauh-jauh hari! Aku nggak pernah marah sama kamu!” Jingga tersenyum.
Betapa bahagia yang dirasakan Ivan, kesalah pahaman yang sempat menghampiri Jingga, terungkap sudah kebenarannya. Dan kini tadinya mereka berdiam, mulai beranjak untuk pergi. Dengan bahagia mereka melangkah, dan tanpa duka mereka tersenyum.
Asal mula Jingga mendapatkan kebenaran itu adalah dari sosok teman sepermainannya, Eka. Saat Jingga diselimuti kesalah pahaman terhadap Ivan, Eka berusaha meyakinkannya dengan kebenaran yang dipunyainya. Selama Eka bercerita yang sebenarnya, Jingga mulai mengambil kesimpulan kalau dirinya memang sedang berada dalam kesalah pahaman.
Menyadari kesalah pahaman itu, Jingga pun berniat untuk menemui Ivan lalu maminta maaf padanya. Yang lebih parahnya lagi, dalang dari semua itu adalah mbak Vera, orang yang ikut serta saat percintaannya dengan Dela masih berlangsung. Betapa hancur yang dirasakannya, orang yang dipercayainya selama ini telah mengkhianati kepercayaannya juga menusuknya dari belakang.

********

^_^ Puing-puing cinta

Dulu aku masih bisa mangambil hatinya, menyentuh cintanya, juga merasakan sayangnya. Memelihara cintanya adalah satu kebanggaan untukku. Karna baru pertama kalinya aku dapat memelihara cinta yang seutuhnya meski berujung kebutaan. Kuakui cinta ini memang cinta yang salah, bentuknya yang abstrak disamakan dengan perasaanku yang nyata didirinya.
Kini cerita itu tinggal kenangan, masih membekas, dan masih tercium aroma cintanya. Kadang teringat jelas bila melewati tempat-tempat yang pernah disinggahinya. Tempat-tempat yang pernah disinggahinya memang sedikit, tapi menyimpan sejuta makna sejuta cerita. Sebut saja, warung kecil, taman pendopo, gerobak tela-tela, juga diujung gang berkah. Puing-puing itulah yang terkadang mengingatkan sosoknya.

WaRuNg KeCiL….

Diwarung kecil itu awal perjumpaanku padanya. Waktu itu dirinya masih dingin, hanya bisa tersenyum ketika bertemu tanpa bisa berkata-kata. Diwarung kecil itu pula aku dapat mengetahui tentangnya, terutama tentang siapa namanya yang pernah membuatku kaget. Dan diwarung kecil itu juga, asal mula perasaanku tumbuh yang mulanya biasa-biasanya hingga pada puncaknya menjadi sangat dahsyat.
Ketika beranjak keteras rumahnya dari tersedihnya yang memilukan, tiba-tiba terlihat lagi warung kecil itu dan mengingatkamnya pada suatu kisah. Yaitu sebuah kisah saat dirinya baru mengetahui namanya, yang terbilang nama itu untuk anak perempuan.
“mbak, pop icenya satu!” Katanya masih jaim. Orang itu melihatnya.
“tegur lah….!” Mbak menggoda.
“dia siapa sih namanya?” Tanyanya dengan pelan.
“namanya Dela!” Kaget Jingga. Orang itu masih melihatnya.
Hatinya bergetar-getar, tubuhnya berinding ketika mendengar namanya. “what? Your name Dela?” Tanya kagetnya dalam hati. Ketika orang itu berpaling dari pandangannya, diam-diam Jingga mencurinya. Dan ketika orang itu kembali berbalik melihatnya, Jingga kembali berpura-pura jaim padanya sambil mengambil pop ice pesanannya.

********

TaMaN PeNdOpO….

Ditaman itu, aku sempat bercengkrama dengannya. Ditaman itu, aku puas melihatnya, menikmati keindahannya serta mengamati sosoknya yang hebat karna telah berhasil membuatku jatuh cinta. Cinta ini tulus, cinta ini murni, tapi mengapa harus dibalas dengan kebutaan? Tunjukan apa kesalahan yang aku perbuat!? Kenapa kamu tega menyalahkan aku dari semua permasalahan ini!
Kutatap kembali taman itu, kuamati secara langsung, juga tak lupa kuraba pintu gerbang taman itu yang kini tertutup. Kulihat isi dalamnya melalui pagar taman tersebut. Isinya begitu hijau, tanpa sampah juga tersusun rapi. Entah kenapa ditutup, padahal taman ini adalah tempat permainan yang baru bagi remaja yang mencari tempat bermain.
Disaat asyiknya mengamati isi taman itu, tiba-tiba teringat kembali olehnya saat bercengkrama dengannya.
“Jingga!” Teriak Dela dari sebuah ayunan. Jingga menoleh.
“apa!” Jawabnya membalas.
“Jingga! Sini!” Dengan teriakan serta tangannya mengajak.
Mendengar perintahnya yang mengajaknya betbicara, Jingga menggeleng dan lebih memilih untuk menemani adiknya. Sedangkan Dela, bang Man masih meneriakinya.

GeRoBaK TeLa-tElA….

Gerobak itu menjual sebuah makanan kecil. Dan makanan kecil itu bernamakan tela-tela. Sebab itulah gerobak itu dinamakan gerobak tela-tela. Terlebih lagi saat aku mengetahui siapa salah-satu karyawan yang bertugas melayani digerobak tela-tela yang cukup sederhana, membuatku ingin membeli karna tergiur dengan salah-satu karyawannya yang merupakan cinta pertamaku.
Awal mula aku mengetahui semua itu dari adik sepupuku sendiri, Jannah. Yang terlanjur memberi kabar kalau dia bekerja digerobak tela-tela yang sederhana itu. Hampir setiap waktu, setiap hari aku mengunjunginya dengan beralasan ingin membeli makanan kecilnya. Padahal dilain sisi tergiur akan sosoknnya dan ingin mengulanginya lagi. Dan terkadang Jannah suka mengejek dengan sebutan “Tela Dela”.

DiUjUnG JaLaN GaNg BeRkAh….

Pagi itu sangat sepi, keadaannya begitu cerah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Memang terlihat sepi disekitar gang, tapi akan terlihat ramai bila mulai beranjak pergi menuju gedung sekolah. Penuh semangat, berwajah ceria, senyum dimana-dimana, turut mewarnai bagi siapa yang akan beranjak untuk bekerja juga beranjak untuk belajar kesekolah.
Pagi itu aku beranjak pergi kesekolah dengan melewati ujung jalan gang berkah. Ketika melewati orang-orang pengangguran yang sedang berkumpul, tiba-tiba aku melihat sosoknya diantara orang-orang pengangguran itu. Tertampak dirinya melihatku dengan santai dan mulai terasa dingin tubuh ini juga bergetar-getar bertandakan cinta.

********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar