Jumat, 21 Mei 2010

“PERDEBATAN ASMARA AREL ARILA”










PART ONE
{Monday, 1 january}
Dear Diary….
Diary, tepatnya 1 januari mama pergi dari Arel. Arel marah, karna mama pergi mendadak banget. Padahal yang Arel mau, mama ada disini disaat detik-detik menjelang ujian. Meski dihitung kurang empat bulan lagi….!!!!



PART TWO
{Sunday, 18 march}
Dear Diary….
Diary, hari ini Arel bahagia banget. Karna Arel sudah membahagiakan orang yang Arel siksa perasaannya selama ini. Semoga aja Arila bahagia dan tau kalau Arel cinta sama dia. Abisnya Arila spesial banget dimata Arel. Moga aja dengan ginjal ini, Arel dapat bersanding bersamanya dan menjadi miliknya yang utuh. Arila, I HaVe YoU FoReVeR….!!!!



PART THREE
{Wednesday, 29 juni}
Dear Diary….
Diary, hari ini Arel sedih banget. Empat tahun lamanya Arel menanti kedatangannya. Tapi kenapa disaat pertemuan itu hadir harus diwarnai dengan kekecewaan? Arel tau, kalau Arila sakit banget melihat Arel yang sudah ada ikatan sama Vicky.
Diary, jujur Arel nggak mau bersanding sama Vicky. Karna yang Arel impikan hanya Arila seorang. Lebih baik Arel menghilang dari dunia ini. Daripada impian Arel empat tahun lamanya berjalan gagal secara sia-sia….!!!!





Sekitar beberapa tahun yang lalu, terjadi kebakaran hebat disuatu komplek. Hampir semua rumah hangus terbakar, dan barang-barang berhargapun tak dapat diselamatkan. Lebih tragisnya lagi, kurang lebih lima belas orang hangus terbakar, karna terlambat untuk menyelamatkan diri dari rumah tersebut.

LiMa BeLaS tAhUn KeMuDiAn….

Kini kebakaran hebat itu sudah berlalu, dan sekarang berubah menjadi aman dan tenang. Sudah lima belas tahun kebakaran itu berlalu. Namun, bayang-bayangnya masih membekas dihati masyarakat yang menyaksikannya. Dikomplek yang sudah rata, datanglah seorang gadis dengan mobil mewahnya. Diperhatikannya satu-persatu dan menyentuh puing-puing yang ada.
Tiba-tiba ia mengingatnya lagi, ingatan itu begitu luas, dan masih jelas dimata. Rasa haru itupun muncul, karna kebakaran itu terjadi diusianya yang masih muda, masih balita yaitu tiga tahun. Tanpa terasa airmatanya pun jatuh, dan beranjak pergi usai menyadarinya.

DuA hArI kEmUdIaN….

Disebuah sekolah, telah diadakannya penyuluhan bantuan. Semua murid berkumpul di “Hall School” setelah dibunyikannya bel istirahat. Semua murid berlari dan memilih tempat duduk yang sesuai. Terdapat dua sahabat yang dengan setia mendengarkan penyuluhan tersebut. Tiba-tiba mereka jadi terganggu karna lemparan kertas.
“apa! Ini nggak adil!”
“nggak adil? Nggak adil apanya?”
Dari situ mulailah terjadi perkenalan antara kakak senior dan sang junior. Ketika acara penyuluhan itu berakhir, dua sahabat itu langsung diserbu oleh para junior termasuk yang lainnya demi mendapatkan sebuah tanda tangan. Dua sahabat itu memilih untuk berpencar, yang satu kekiri dan yang satu kekanan. Apa mungkin mereka bisa bertahan untuk menghindarinya?
Mereka bertemu diwaktu SMP dulu, dan terciptalah sebuah persahabatan yang panjang. Sebut saja Arel, yang terkenal dengan kejeniussannya dan berkepribadian baik. Sedangkan Ega, terkenal dengan sikapnya yang tomboi dan suka sekali dengan olahraga menantang. Kini mereka berdua sedang asyik membagikan tanda tangan kepada junior masing-masing.
Lapangan basket yang sepi, dan dilewati beberapa murid hanya numpang lewat. Ega, dia berusaha mencari keberadaan sobatnya yang bernama Arel. Sementara Arel masih asyik berteduh dilapangan basket tepatnya dipojok sana. Bagaimana tidak, pohonnya yang rindang menimbulkan kesejukan dan oksigen yang banyak. Jadi sangat cocok untuk membuang lelah.
“hey! How are you today?” Sapa seseorang kepadanya.
“eh, fine-fine aja kok! Kamu sendiri gimana?”
Orang itu hanya memberinya sebuah plastik kecil berbentuk sebuah tas. Ketika Arel akan memanggilnya kembali, orang itu mendadak hilang. Hatinya pun bingung, dan mulai memeriksa apa yang diterimanya. Ternyata plastik itu berisi sebuah kupu-kupu yang hidup. Hatinya pun tambah bingung dengan kupu-kupu yang hidup itu.

* * * * * *

Dirumah, Arel dibuat sibuk sama kupu-kupu hidup itu. Dia berusaha untuk mencarikannya tempat yang bagus. Beberapa tempat telah ditawarkan, tapi sayang tidak ada yang cocok. Mau tak mau kupu-kupu hidup itu masih beralaskan alam bebas. Kupu-kupu hidup itu mengelilingi kamarnya, dan Arel pun terpesona dibuatnya. “kupu-kupu hidup yang indah” itulah kata terpesonanya.
Keesokan harinya, Arel berjalan menyusuri lika-liku teras menuju kelasnya. Ditengah jalan, Arel melihat orang itu dilapangan basket. Ketika akan memanggilnya, orang itu pergi duluan dibanding dirinya. “yah, tau aja tuh orang” itulah kata keluhannya. Sesampainya didepan kelas, tiba-tiba ada yang menariknya dan membawanya duduk dikelas. Dan Arel setengah copot dibuatnya.
“Arel, ada berita bagus!”
“Ega, lain kali bilang-bilang dong mau tarik gue! Jantung gue hampir copot nih!”
“tapi nggak copot kan?”
“udah deh! Tutup point aja!”
Ega pun menarik kuping Arel dan membisikan sesuatu kepadanya. Kurang lebih lima menit Ega membisikan sesuatu, dan akhirnya selesai. Ega kegirangan setelah memberitaukan sesuatu kepada Arel. Sedangkan Arel merasa lega dan merasa tidak setuju atas bisikan dari Ega. Dan kebingungan itupun hadir dibenaknya lagi. “mungkin nggak yah! Bingung nih!” itulah kata kebingungan dibenaknya.
Bel tanda istirahat berbunyi, sebentar lagi kelas akan sepi dan mendadak kantin akan ramai dalam waktu beberapa menit saja. Semua murid berkumpul untuk mengisi kekosongan perut dan ada juga yang menghabiskannya diperpustakaan.
“Ega, lo serius dengan rencana lo? Apa nggak dipikir-pikir dulu?”
“buat apa dipikirin! Dia pantes, bahkan lebih pantes!”
“apa nggak terlalu sadis?”
“lo bayangin, udah dua kali gue dipermaluin sama dia! Jadi wajar dong kalau gue balesnya lebih sadis!”
“ya tapi….?”
“keputusan Ega, tertulis! Tidak dapat diganggugugat!” Dengan memukulkan sendoknya tiga kali.
Arel kembali menarik nafas panjang karna tingkah laku sahabatnya itu. Jam istirahatpun berakhir, semua murid mulai meninggalkan kantin tersebut. Perasaannya biasa-biasa saja saat memasuki kelas. Tapi ketika duduk, tiba-tiba ada yang membuatnya kaget. Tiba-tiba dikolong mejanya yang bersih, tersimpan sekuntum bunga mawar yang masih harum. Dan meninggalkan sebuah pesan yang bertuliskan “best friend”.
“cup, cup, cup, bunga mawar dari siapa tuh?” Arel kecolongan.
“udah ah, nggak penting! Lupain yah!” Dengan memasukannya ke tas.
“iya deh, gue terima! Tapi lo janji! Lo bakal beri tau semuanya sama gue!”
Arel menganggukan kepalanya dengan malu-malu dan berusaha meyakinkannya. Ega pun terpaut pada bahasa tubuh yang dikeluarkan oleh Arel padanya. Sementara Arel masih penasaran dengan identitas bunga mawar tersebut. Disaat jam belajar sedang berlangsung, konsentrasi Arel terganggu akibat bunga mawar itu. Apalagi saat membuka tasnya, karna kembali melihat bunga mawar itu. Dan menutupnya secara singkat untuk menutupnya kembali.
“Rel, lo kenapa? Kayaknya bingung banget?”
“nggak kok! Nggak ada apa-apa!”
Ketegangan itupun berakhir, namun kecurigaan Ega tetaplah berlaku. Dan Ega berusaha secara diam-diam untuk mengelabui Arel yang mulai menyimpan rahasia tersembunyi darinya.

* * * * * *

Arel bingung dengan dirinya sendiri. Dapat sekuntum bunga mawar tanpa mengetahui siapa orangnya. Arel menatapi kupu-kupu hidup itu yang letaknya tak jauh dari tempat tidurnya. Dengan beralaskan tabung kecil dan tutup sedikit berlubang berhiaskan sebuah bunga berwarna pink diatasnya. Kupu-kupu hidup itu sudah terlihat jelas dimata, ditambah lagi dengan penampilannya yang menawan.
Arel pun sedikit terhibur karna kupu-kupu hidup itu. Dan mulai lupa atas masalah yang menimpanya. Ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari ruang tamu. Dengan segera ia turun dan menuju ruang tamu. Sesampainya disana, mendadak dirinya kaget, karna banyak koper siap bawa didepannya.
“mama, kok banyak koper sih?” Tanyanya dengan kaget.
“mama mau pergi keluar kota sebentar!”
“sebentar? Sebentar kapan ma?” Dengan emosi.
“yah, kurang lebih enam bulan! Kamu harus jaga baik-baik diri kamu!”
Terpaksa Arel menuruti perkataannya dan menerima apa yang dibuatnya. Meski sejujurnya, hatinya kecewa dan berusaha tegar untuk menerimanya. Setelah melihat keberangkatan mamanya, hatinya pun menangis dan langsung berlari menuju kamarnya. Arel pun masuk dan menghadap kecermin kamarnya. “aku nggak suka punya mama seperti kamu!!!” dengan bentakan keras, lalu memecahkan cermin tersebut dengan handbodynya.
Untung saja ada mbok yang setia menghiburnya yang slalu hadir disaat hatinya menangis. Dan berhasil membujuknya untuk bicara.
“non, sebenarnya ada apa? Cerita sama mbok!”
“aku nggak suka punya mama seperti dia! Aku nggak mau wanita itu ada dirumah ini! Dia nggak pantes ada disini!” Katanya masih kecewa.
“bagaimana pun juga dia ibu non! Ibu yang udah ngerawat non dari kecil!” Mencoba untuk menyadarinya.
“tapi aku nggak suka dengan sikapnya, mbok! Aku ngerasa, kalo aku tuh anak yang ditelantarin begitu aja! Tanpa memikirkan perasaan Arel sedikit pun!” Mencoba terbuka.
Arel pun menyandarkan dirinya sambil menangisi sakit hati dan kekecewaannya terhadap mamanya.

DuA hArI kEmUdIaN….

Sudah dua hari mamanya pergi, dan Arel masih memendam amarahnya. Mungkin, Arel sudah terlalu jauh mendapat perlakuan seperti ini, dan merasa tidak puas atas apa yang didapatkannya selama lima belas tahun. Yaitu hidup tanpa seorang ayah disampingnya.
Arel harus rela melepaskan ayahnya untuk berdiam disuatu tempat. Hanya karna sebuah kebakaran hebat yang terjadi lima belas tahun yang lalu. Dan puing-puing kebakaran itu masih membekas dibenaknya hingga sekarang. Bahkan foto rumahnya pun diabadikannya sebagai kenangan yang kelam.

* * * * * *

Keesokan harinya, Arel pergi kesekolah dengan bus kota. Sesampainya disekolah, Arel melihat Ega kaget seketika ia mencoba turun dari bus kota tersebut. Arel mencuekinya dan biasa-biasa saja saat melewati sobatnya itu. Sementara Ega masih berdiri dan masih tak percaya atas apa yang dilihatnya. Begitu banyak komentar yang tersimpan pada diri Ega, dan mulai mengutarakannya saat duduk manis bersama Arel.
“Rel, apa gue nggak salah lihat?”
“salah lihat? Maksud lo?” Pura-pura tidak tau.
“serius, lo kesekolah pakek bus kota?” Arel menganggukan kepalanya.
Ega pun menarik nafas panjang dan mengipas dirinya setelah mendengar curahan Arel. “aduh, mimpi apa ya gue kemaren?” itulah kata hatinya sesaat melihat sobatnya itu.

TiGa HaRi KeMuDiAn….

Sudah tiga hari Arel melakukan hal itu, yaitu pergi kesekolah dengan bus kota. Hari pertama, Ega dibuatnya kaget secara tiba-tiba. Hari kedua, rasa kaget itupun tertular pada anak-anak lainnya. Sedangkan pada hari ketiga, Ega langsung menariknya sesaat turun dari bus kota tersebut. Ega mengomentarinya sambil berjalan menuju kelas, namun Arel tidak mempedulikannya. Justru sebaliknya, dia tersenyum dan berkata “I don’t care”, dan pergi meninggalkannya sendiri.
Dari situ hati Ega terasa panas, dan amarahnya pun mulai berdatangan. Ega pun langsung mengipas dirinya dan melangkah menyusul sobatnya itu. Ega segera beraksi untuk menyadarkannya kembali tentang jati dirinya yang sesungguhnya. Dikelas, Ega hanya berdiam dengan memerhatikan gerak-geriknya tanpa menimbulkan kecurigaan sekalipun. Dan mulutnya mulai terbuka pada jam istirahat, tepatnya dikantin.
“mas, baksonya dong satu!” Sapa Arel dengan duduk manis.
“Rel, sudah tiga hari kamu pergi dengan bus kota! Apa kamu nggak malu?”
“buat apa sih malu! Nggak ada untungnya tau nggak!”
“iya sih! Tapi image kamu bisa tercemar! Arel, lahir dengan keluarga kaya, udah gitu menawan, sampai-sampai banyak laki-laki yang gantri untuk jadi pacarnya!”
“gue lagi nggak butuh cowok! Yang gue butuhin, kejujuran dari seseorang!”
Arel mengataknnya dengan melihat seseorang yang memberinya kupu-kupu hidup beberapa hari yang lalu. Sementara orang itu tak sadar dibuatnya, karna asyik bercanda dengan teman sebayanya. Sedangkan yang dirasakan teman sebayanya itu justru sebaliknya, dia merasakan ada yang memerhatikannya. Tapi sayang, dirinya tak punya nyali untuk mencari kebenarannya. Dan yang dilakukannya hanyalah berdiam.
“Rel, lo kenapa sih? Dari tadi mandang kebelakang terus? Udah bosen ya sama baksonya? Ya udah, ambil aku aja!” Dengan mengambil baksonya.
“enak aja! gue masih mau kok! Alias masih laper! Oyah, sepertinya ada yang beda sama lo! Tapi apa yah?”
“beda? Kayaknya tetap-tetap aja tuh!”
“gue tau sekarang! Sejak kapan lo makai-makai kipas kaya gitu? Perasaan lo nggak pernah kaya gini deh! Lo jatuh cinta ya?” Ega tersenyum.
“bisa iya, bisa nggak!?”
“kayaknya iya deh!” Mereka mengucapkannya dengan serentak.
Mereka berdua tertawa gembira sambil menyantap makanan yang ada didepan mereka. Tanpa sadar bel tanda masuk berbunyi. Mereka berdua pun segera meninggalkan kantin tersebut dengan suka cita. Seketika mereka berjalan menuju kelas, tanpa sengaja mereka tabrakan sama dua orang sekaligus. Dan mereka hanya tertawa tanpa menucap sepatah kata pun.

* * * * * *

Arel sedang melakukan pelatihan disekolahnya, tepatnya hari minggu, dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore, selebihnya untuk kegiatan lain. Berbagai macam peralatan tersusun rapi ditasnya. Dan sekarang tinggal berangkat dengan bus kota yang biasa ditumpanginya. Dengan setia Arel duduk ditengah panas, penat, dan diantara desak-desakan masyarakat.
Sesampainya disekolah, Arel disapa Ega dari kejauhan, tepatnya disekitar lapangan basket. Semua murid berkumpul dilapangan basket, dan tugas pun mulai dibagi untuk mengisi lomba. Tugasnya terbagi empat bagian yaitu dancer, basket, paskibra, dan pramuka. Setelah diberi pengarahan, secara langsung mereka masuk kedalam kategorinya masing-masing.
Semuanya berbaris dengan kategorinya masing-masing dilapangan basket. Dan mulai memisahkan diri setelah mendapat pengarahan dari pembimbingnya. Pertama paskibra, kedua pramuka, dan yang terakhir basket. Sedangkan kategori dancer harus menunggu pembimbingnya hadir tanpa harus langsung latihan. Serentak semua kategori dancer kaget karna harus menunggu.
Kategori paskibra mulai beraksi, beragai macam gaya dilakukan, dan tak lupa dengan latihan baris-berbarisnya yang slalu kompak, begitu pula dengan kategori pramuka. Sedangkan kategori basket sibuk dengan keberadaan bolanya agar sesuai dengan gerakan tariannya. Termasuk juga dengan gaya tubuhnya dan langkah kakinya. Serentak anak-anak kategori dancer mensorakinya ketika melihat mereka berlatih dengan sempurna.
“aduh, mereka latihannya kompak banget!” Puji Ega.
“yaiyalah, paskibra sama pramuka kan slalu kompak!” Sambung Arel.
“ye….siapa yang dukung mereka! Nggak care gitu lo!”
“kalau bukan mereka, terus siapa?”
“basket gitu lo….! Gue suka banget dengan caranya megang bola! Tariannya, lincah abis deh pokoknya!”
Ega kegirangan dan memberikannya tepukan. Dari situ, Arel baru mengetahui kalau pemuda itu masuk dalam kategori basket. Dan hatinya pun berubah tidak menyukai basket karna pemuda itu. Sedangkan yang lain masih setia mempersembahkan tepuk tangan dan seruan yang meriah untuk mereka. Semua itu berakhir saat pembimbing sudah hadir dan pergi menuju hall school untuk latihan.
Selang beberapa jam berlalu, kegiatan pun selesai dengan tepat waktu. Tepatnya jam tiga sore, semua kegiatan bubar untuk beristirahat dan mulai meninggalkan gedung sekolah. Kini suasana sekolah mulai sepi, dan hanya tinggal daun-daun jatuh berguguran. Sesampainya dirumah, Arel kembali harus mendapat arahan. Arahan tersebut bukan dari gurunya, melainkan tantenya sendiri.
“silahkan diminum tante! Nanti keburu dingin!” Sapanya dengan sopan.
“siapa yang menyuruh kamu untuk bicara seperti itu?”
“nggak ada kok tante! Arel sendiri!” Jawabnya manja.
Tantenya pun berdiri dan menuju ketaman samping rumahnya yang tidak begitiu luas. Begitu namanya dipanggil, Arel pun langsung menyusulnya dari tempat duduknya diruang tamu.
“darimana kupu-kupu itu berasal? Warnanya bagus, dan bentuk sayapnya seperti hati!”
“dari teman Arel tante!”
“siapa yang menyuruh kamu panggil saya tante lagi? Panggil saya, Madam Sonya!” Dengan mengagetkan.
“i, iya Madam Sonya!” Dengan gugup.
Kemudian tantenya, Madam Sonya menyuruhnya untuk mencari identitas kupu-kupu tersebut. Karna menurut ramalannya, kupu-kupu itu menyimpan sebuah makna yang sangat rahasia. Dari situ juga Arel mulai merasa bingung dan berharap cemas.

* * * * * *

Ditengah kebingungan hatinya, Arel pun mengambil langkah seribu lalu berjanjian disuatu tempat sama seeorang. Tanpa memberi tau pokok bahasan yang akan dibahas disana. Dengan setia Arel menunggunya sambil bengong dan menoleh-noleh dari sudut-kesudut. Setelah beberapa menit, hatinya pun lega karna orang yang ditunggu sudah datang.
“sory ya telat! Tumben banget lo seperti ini! Ada apaan sih?”
“yah, seperti biasa! Masalah gue nambah lagi! Lo kan tau, masalah bunga mawar aja belum selesai! Eh, ditambah lagi dengan kupu-kupu hidup itu!”
“kupu-kupu hidup! Perasaan lo nggak pernah cerita tentang itu! Jangankan cerita! Nyebut aja baru sekarang!”
“emang sih! Tapi yang gue penasaran, makna dibalik kupu-kupu itu?”
“tunggu dulu! Lo tau darimana kalau kupu-kupu itu menyimpan makna?”
“tante gue senidiri yang bilang! Udah gitu, gue harus cari identitas kupu-kupu itu! Kayak manusia aja harus dicari identitasnya!”
“eits, jangan salah! Gitu-gitu makhluk hidup juga! Itu sih gampang, gue sedia kok bantuin lo! Tenang aja sob, semuanya bakal kebuka lebar! Okey!”
Keesokan harinya, tepatnya disekolah, Arel pun mulai menunjukan siapa yang memberikannya kupu-kupu hidup itu. Kesana-kemari Arel mencarinya dengan menyebutkan cirri-cirinya. Karna ia tidak mengetahui identitasnya sama sekali. Seketika dirinya dan Ega berada disekitar perpustakaan, pemuda itu tampak didepannya bersama teman sebayanya. Mereka berdua pun langsung menghampirinya.
“hey, lo kan yang ngasih kupu-kupu hidup itu sama gue?” Arel mengagetkan.
“Edo, jadi lo yang ngasih kupu-kupu itu sama Arel?” Ega tanya kagetnya.
“oh, jadi nama lo Edo! Bilang dong dari kemaren!” Jengkel Arel padanya.
“seharusnya kamu sadar, kalau seharusnya kamu tau namanya dari dulu! Bukannya baru sekarang!” Sambung teman sebayanya yang dingin itu.
“ya wajar dong kalo gue nggak tau! Gue nggak pernah sekelas sama dia!” Arel dengan dingin.
“lo anak baru diem!” Ega memberinya pukulan mesra tepat dipipinya.
Arel kaget dibuatnya dan Edo pun tercengang melihat kejadian barusan. Mereka berempat jadi pusat tontonan anak-anak, lalu berakhir ketika bel masuk berbunyi. Perkelahian sudah berakhir, dan damai pun kembali tumbuh. Pulang sekolah, Arel mencari sobatnya itu, Ega yang terkenal dengan ketomboiannya dan pelari yang handal. Setelah dicari-cari, Arel menemukan Ega ribut disudut sana. Ketika Ega akan memberikan pukulan mesra, tiba-tiba ditangkis oleh tangan Arel.
“stop! Jangan pukul dia!” Dengan ngos-ngosan.
“tapi dia pantes dapetin apa yang gue persembahin!” Bentak Ega.
Tiba-tiba Arel reflek menamparnya, Ega pun terjatuh lalu melihatnya. Sedangkan Edo dan teman sebayanya itu tercengang tak habis pikir. “gue nggak suka punya temen seperti lo!” Dengan membetaknya kemudian pergi meninggalkannya. Ega merasa sakit hati dan menaruh dendam kepada anak baru itu. Karna yang dia rasa, anak baru itulah penyebabnya.

* * * * * *

Arel berdiam diri dikamarnya, merenungi apa yang disaksikannya. Dirinya kini bingung dan bertanya-tanya, karna banyak kejadian aneh yang menimpanya. akhirnya Arel bangun, dan mengambil bunga mawar itu. Diperhatikannya dan dipikirkannya kembali tentang bunga itu. Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari arah taman samping rumahnya. Dengan cepat ia berlari menghampirinya.
“a, ada apa tante? Eh, Madam?”
“sekali lagi kamu panggil saya tante, saya robek mulut kamu!”
Arel pun terdiam lalu mengikuti langkahnya. Ternyata langkah tantenya, Madam Sonya berhenti ditempat kupu-kupu hidup itu, dan mengeluarkan sebuah pertanyaan.
“mana orang itu?”
“orang? Orang siapa Madam?”
“dia adalah pemuda, pemuda yang mempersembahkan kupu-kupu ini! Dan pemuda itu bukanlah pemuda sembarangan!”
“maksud Madam, pemuda itu bukan manusia?”
“sst….jaga omongan kamu! Nanti juga kamu ngerti! Yang pasti, kamu harus bawa pemuda itu kemari!”
Arel menarik nafas panjang dan membiarkan tantenya, Madam Sonya pergi usai berkata. Sedangkan ia masih berdiri dengan mengelus-ngelus kupu-kupu hidup tersebut.
Hari menjelang sore, fajar pun mulai berpamitan untuk pergi sejenak. Menyadari hari yang mulai gelap, dirinya pun turun untuk menyantap hidangan malam. Semua berkumpul dimeja makan, termasuk pembantunya agar terlihat ramai. Dan keadaan rumah pun terasa lebih nyaman. Usai menyantap hidangan malam, tantenya, Madam Sonya mengajaknya jalan-jalan ke mal. Hatinya pun terasa bahagia.
Kebiasaan buruk tantenya adalah terlalu royal, akibatnya hampir semua baju diambil asalkan menarik. Lain juga pada Arel, kurang tertarik dengan berbelanja, tapi harus rela menunggu tantenya berbelanja. Sampai-sampai kewalahan untuk memegang barang yang diambil karna kebanyakan. Arel pun bertanya saat tantenya asyik memilih baju lagi.
“Madam, apa nggak kebanyakan?”
“coba Madam hitung! Satu, dua, tiga, baru empat! Tambah satu lagi yah, jadi pas lima!”
Arel kaget secara cuma-cuma atas tuturannya, ketika perhatiannya berpaling dari tantenya, tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya. Ia pun meminta ijin untuk ketoilet sebentar. Untung saja tantenya memberi ijin kepadanya, dan Arel segera beraksi. Target yang dituju pun ditemukannya, tepatnya di tempat pernak-pernik. “cowok! Pergi ketempat cewek seperti ini! Aneh….?” Itulah katanya, dan kembali bersembunyi saat hampir saja kecolongan. Dan Arel pun mengikutinya secara diam-diam.
Usai sudah pengintaiiannya, dan sekarang saatnya kembali pada tantenya yang tlah lama menunggunya.
“gimana Madam, belanjanya udah selesai?”
“sudah….!”
Usai berkata, tantenya langsung pergi dan kembali mencueki dirinya. Namun Arel hanya bisa menerima tanpa harus banyak komentar terhadap tantenya.

* * * * * *

Disekolah, Arel berpura-pura bersikap dingin pada Ega. Dirinya ingin Ega sadar atas perbuatannya beberapa hari yang lalu. Rencananya bermula pada saat Ega menegurnya, namun ia mencuekinya dan menganggapnya orang lain. Terlebih dikelas, Arel duduk dimeja lain, dan tidak mempedulikannya saat bertanya. Justru sebaliknya, Arel pergi meninggalkannya lalu bicara sama anak yang lain.
Pupus sudah harapan maafnya pada Arel. Ega terduduk lemas dengan mengipas dirinya. Tiba-tiba saja Ega menerima sebuah kertas kecil dari lemparan seseorang, lalu membacanya. Setelah mengetahui isi surat tersebut, Ega pun setuju untuk melakukannya. Sedkit bahagia dihatinya, karna pintu maaf didepan mata. Ketika bel berbunyi, Ega langsung berlari menuju luar, dan Arel pun tersenyum dibuatnya.
Ega langsung mencarinya menurut informasi dari teman-temannya. Begitu melihatnya, Ega langsung menariknya ke tempat duduk tepatnya dilapangan basket yang sejuk, tanpa memperdulikan Edo yang sedari tadi bersama anak baru itu.
“sory yah! Gue terlalu kasar sama lo!”
“sejak kapan lo care sama gue? Atau jangan-jangan, lo ada maksud lain sama gue?”
“nggak kok! Nggak ada! Gue kesini serius sama lo!”
“serius! Maksud lo apa?”
“gue, mau, minta maaf sama lo!” Dengan gugup.
“apa bisa gue pegang?” Ega mengangguk. “yah, gue maafin!”
Ega terkejut bahagia, dan secara reflek Ega memeluk anak baru itu. Anak baru itupun kaget secara spontan. Sedangkan Edo yang melihatnya terasa tak mau melihatnya. Namun Edo terlanjur melihatnya tanpa disengaja. Ega masih kegirangan karna telah mendapat maaf dari anak baru itu. Dan segera memberitaukannya pada Arel. Tiba-tiba ada yang mengagetkannya saat pandangannya tertuju pada lapangan basket.
Disana, Ega melihat Edo mempersembahkan bunga mawar pada Arel. Arel tersenyum bahagia sambil mencium bunga tersebut. Sakit, hancur, kecewa, yang dirasakan Ega. Namun lain yang dirasakan anak baru itu, dia bahagia dan turut bersuka cita. Kemudian Ega berlari sejauh mungkin untuk menghindarinya, dan memilih bersembunyi ditoilet untuk menangis sejenak.
Sementara Arel mencarinya, dikantin tidak ditemukannya sosok Ega. Diperpustakaan, masih sama seperti dikantin. Arel masih berdiri didepan perpustakaan, tiba-tiba ada yang menegurnya dari samping kanannya.
“Ega, kamu darimana aja?”
“aku, tadi habis ke toilet! Oyah, aku udah minta maaf sama anak baru itu!”
“terus! Apa keputusannya?”
“dia, orangnya pemaaf banget! Sampai-sampai, rasa dendam yang gue rasa nggak nyetrum ke dia! Buktinya, gue dimaafin sama dia!”
Arel pun memberinya selamat dan mengajakya kekelas. Kemudian Arel menunjukan Sesuatu padanya, Ega pun kaget atas tulisan yang tertera dipapan tulis. “sorry yah! Gue nggak bermaksud ngerjain lo! Suwer deh!!!” itulah tulisannya. Dan Ega pun merasa malu pada teman-temannya juga pada dirinya sendiri.

* * * * * *

Pada hari minggu, Arel menyuruh temannya untuk datang. Karna ada urusan penting yang harus dibahas bersama-sama. Teman yang bersangkutan pun datang tepat waktu, karna kegiatan disekolah ditiadakan. Semua duduk rapi diruang tamu, termasuk tantenya sebagai pengamat.
“benar, kalian berdua adalah sahabatnya Arel?” Tanya tantenya dengan dingin.
“iya tante!” Edo dan Ega serentak.
“jangan panggil saya tante! Panggil saya, Madam Sonya!”
“Madam, Arel ambil sesuatu dulu yah dikamar! Soalnya ada yang ketinggalan!”
Arel mulai beranjak pergi dengan dicuekin sama tantenya. Sedangkan Edo juga Ega merasa aneh dan penasaran terhadap tantenya. Lalu mereka berdua diajak kearah kupu-kupu hidup itu dan akan menerima beberapa pertanyaan dari tantenya tersebut, Madam Sonya.
“kalian tau, didepan kalian ada kupu-kupu hidup yang sedang bernafas! Dan kalian juga tau, kupu-kupu merupakan makhluk hidup, seperti manusia pada umumnya!”
Tiba-tiba Arel datang dengan membawa sebuah benda ditangannya. Ketika terlihat oleh tantenya, dengan cepat menyuruh Arel meletakkannya dimeja. Usai sudah perkejaannya, Arel pun memberi tau sesuatu padanya.
“Madam, ada yang Arel mau sampein!”
“apa itu?”
“Arel mau bilang! Kalau ini orangnya, orang yang udah ngasih kupu-kupu hidup itu!” Dengan menunjukannya.
“dari auranya, saya merasa bukan dia! Tapi seseorang!”
“Madam, Arel saksiin sendiri kok! Kalau dia yang ngasih kupu-kupu itu! Iyakan, Do!”
“iya, bener tuh!!!!”
Usai bertanya tentang kupu-kupu itu, tantenya langsung beranjak pergi tanpa bersuara sekali lagi. Ega pun merasa lega karna sedari tadi dirinya tegang saat bicara sama tantenya Arel. Mereka bertiga kini duduk santai ditaman itu.
“gila, tante lo dingin banget! Dari tadi kita ditanyain melulu!” Jujur Ega.
“oya, temen lo mana, Do? Kok nggak datang?”
“oh, dia nggak bisa datang! Katanya sih! mendadak ada acara keluarga!”
“acara keluarga, apa….?” Ega dengan curiga. Edo langsung memotong.
“serius! Gue nggak bohong kok! Buktinya dia sms gue!” Edo mengelak.
“udah ah jangan diperpanjang! Mendingan kita cerita-cerita aja!” Arel menghentikan.
Mereka bertiga pun bercerita sambil mengemil makanan dan minuman kecil. keceriaan pun hadir mewarnai rumah yang sunyi. Dan tantenya ikut tersenyum sesaat melihat mereka bersenda gurau. Karna sangat jarang pemandangan itu ada dirumahnya yang slalu sepi.

* * * * * *

Tepatnya sabtu, lomba EGP yang keenam dilaksanakan. Begitu banyak sekolah yang ikut, berarti banyak tandingannya. Masing-masing sekolah diperbolehkan untuk tampil sesuai nomor undian. Lalu Arel harus rela mengantri, karna sekolahnya mendapat nomor undian tiga belas.
“kok lama banget yah! Perasaan nggak segininya deh kita nunggu!”
“Ega, sekarang baru urutan tiga! Sabar dikit ngapa!”
“sabar, sabar, sekolah kita dapat undian berapa sih?”
“tiga belas!!!”
“tiga belas kan angka sial!? Kalau sekolah kita kalah gimana!?”
“tapi nggak sial-sial amat kan!”
Suasana makin meriah saat beberapa sekolah menunjukkan kebolehannya. Teriakan pun semakin ramai terdengar, apalagi semakin lama semakin ramai penontonnya. Ketika sekolahnya dipanggil, yaitu SMA 7, mulai turun menuju pentas untuk menunjukkan kebolehannya.
Pertama, kategori pramuka sebagai pembuka, lalu disusul dengan paskibra. Disitu, pramuka dan paskibra beradu menampilkan yang terbaik sesuai informasi yang diatur. Kemudian disusul dengan basket, menunjukkan tariannya dan gerakan yang sudah diatur. Dan yang terakhir adalah dancer, bermacam gaya dilakukan dan terbukti bagus. Diakhir penampilannya, semua mengambil posisi yang tepat sesuai informasi. Dan tepukan meriah pun didapatkan untuk mereka.
Usai sudah penampilannya, lalu beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Arel duduk lemas karna banyak energi yang dikeluarkan saat penampilannya tadi. Mereka berdua duduk santai sambil menonton dengan asyiknya. Tanpa sadar, air minumnya habis dan harus membeli diluar area, karna stok airnya didalam sudah habis. Ketika akan berdiri mendadak dirinya kaget, karna ada yang menawarkannya air minum.
“kebetulan aku punya lebih! Mubazir kan kalau nggak diminum!” Dengan nada dingin.
“ya tapi….?” Belum selesai Arel bicara, Ega memotongnya dengan mengambil air minum tersebut.
“thanks yah! Gue haus banget!” Lalu meminumnya.
“maaf yah….?” Lagi-lagi Ega memotongnya.
“eh, Edo mana? Kok nggak bareng sama lo?”
“tuh, lagi ngerayu cewe! Liat aja gayanya!” Dengan menunjukkannya.
Mereka bertiga pun tertawa saat melihatnya, sedangkan Edo tak sadar dibuatnya. Tanpa disadari, anak baru itu duduk bersama mereka tepatnya disamping Arel. Tiba-tiba Edo datang dengan mengejutkan.
“yah, loh! Malah asyik-asyikkan pacaran sama Arel!”
“siapa yang pacaran! Arel aja bilang nggak!” Anak baru itu membalas.
“udah deh! Jangan banyak alasan! Bilang aja lo backstreet sama Arel….?”
Anak baru itu langsung menutup mulutnya lalu membawanya pergi. Kemudian Ega tertawa dibuatnya disusul juga dengan Arel. Apalagi saat mereka melihat anak baru itu memarahi Edo. Bagi mereka sangat lucu, karna seperti anak kecil yang bertarung. Dan saat pengumuman berlangsung, spontan dirinya bahagia. Karna mendapat juara satu tingkat SMA, semuanya pun ikut bersorak gembira.

* * * * * *

Sekolahnya merayakan kemenangannya pada hari senin, tepatnya pada saat upacara berlangsung. Semua bertepuk tangan saat persembahan piala dilakukan. Masing-masing wakil perlombaan turut mempersembahkan piala tersebut kepada kepsek, kepala sekolah.
Usai sudah acara persembahan, dan waktu upacara pun telah habis. Mumpung sekarang hari istimewa, jam belajar ditiadakan. Dan akan kembali belajar pada hari esok seperti biasa. Semua murid beralih ketaman sekolah, karna masing-masing kelas ditutup dan dibuka pada hari esok. Ketika asyiknya Arel berjalan, tiba-tiba Arel melihat anak baru itu dan langsung menghampirinya.
“hai, kok sendirian!” Dengan mengagetkan.
“terpaksa, abisnya Edo ninggalin gue ketaman!”
“oh….gitu alasannya!”
Usai berkata, mereka berdua berjalan bersama menuju taman sekolah. Mereka berjalan layaknya bus tanpa suara, alias tanpa ada yang bersuara diantara mereka. Maksudnya, tak seperti anak yang lain berjalan sambil bercerita. Sedangkan Edo duduk manis menanti mereka berdua bersama Ega. Ditengah asyiknya mereka ngobrol, tiba-tiba Ega tertuju pada sebuah buku disampingnya.
“loh, ini buku siapa? Perasaan ini bukan nama lo deh!” Tanya kagetnya.
“emang siapa namanya? Perasaan disini buku gue semua!”
“nama lo kan, Edo Prasasti!”
“terus, yang lo baca nama siapa?”
“Arila! Nama ini asing banget ditelinga gue!”
“bukan asing! Lo nya aja yang nggak tau!”
Edo menertawainya, sedangkan Ega dibuatnya bingung lalu berusaha mengingat siapa pemilik nama itu beserta bukunya. Ditengah kebingungan hatinya, tiba-tiba Ega melihat Arel dan anak baru itu berjalan dengan cuek, begitu pula dengan Edo. Kemudian Edo memanggilnya dengan sebutan “Arila….” Dengan berteriak dari kejauhan. Ega pun mendadak terkejut lalu bertanya kepadanya.
“Arila! Siapa Arila!” Tanya Ega dengan rasa penasarannya.
“tuh! Didepan lo!” Mendadak anak baru itu juga Arel ada dihadapannya.
“maksud lo? Anak baru ini?” Sambil menatap Edo lalu menunjuknya.
Edo mengangguk dan kembali menertawainya, begitupula dengan anak baru itu, sementara Arel bingung dibuatnya. Ketika Ega akan menjambak rambutnya, dengan cepat Edo menghindar, secara langsung Ega mengejarnya sampai dapat. Karna kalau tidak, rasa penasaran akan muncul dihatinya. Dan kini tinggal Arel juga anak baru itu yang masih berdiri.
“Rel, gue izin sebentar yah?” Sapanya memberanikan diri.
“kemana….?” Dengan malu-malu.
“gue haus! Mau beli minuman!”
Arel menganggukan kepalanya, dan anak baru itupun mulai melangkah untuk pergi. Setelah sadar kalau dirinya haus, ia berbalik arah lalu menegur anak baru itu yang sudah setengah perjalanan. “Arila….!” Itulah teriakannya. Anak baru itupun terkejut dan berbalik arah. Arel memberi isyarat kepadanya, kalau dirinya juga mau sebuah minuman. Anak baru itupun menerimanya dengan senyuman mesra dan jempol yang ditunjukannya. “ya ampun manis banget….” Itulah kata terpesonanya terhadap anak baru itu.

* * * * * *

Keesokan harinya, Arel mulai memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan tantenya. Karna sampai saat ini, dirinya belum berani melainkan menunggunya bicara. Ide cemerlang itu didapatkannya saat terdiam tanpa suara dikamarnya. Ketika Arel melihatnya diruang tamu, dengan percaya diri Arel menghampirinya dan berusaha untuk lebih dekat dengannya.
“Madam, Arel boleh terbuka nggak sama Madam?” Sapanya dengan berani.
“boleh! Kamu mau terbuka apa?” Dengan menutup majalahnya dan beralih ke Arel.
“begini, kemarin Arel jalan sama temen Arel! Jalannya sih nggak kemana-kemana, Madam! Cuma mau ketaman sekolah doang!”
“terus apa yang bikin kamu penasaran?”
“begini! Waktu Arel jalan sama dia, kita nggak ada bicara!”
“maksud kamu bungkam?”
“iya Madam! Sampai sekarang aja Arel masih penasaran! Kok bisa bungkam terus dalam perjalanan menuju taman! Padahalkan perjalanannya cukup jauh! Kurang lebih memakan waktu setengah jam!”
“kalau begitu kamu cari tau aja sendiri! Nggak usah minjam tenaga orang lain!”
“tapi, bagaimana caranya Madam?”
“usaha dong! Kamu kan udah gede!”
Usai berkata, tantenya pun kembali membuka majalah kesayangannya. Arel merasa bahagia karna usahanya berhasil mengajak tantenya ngobrol. Namun ada rasa ketidak puasan dihatinya, yaitu mengenai anak baru itu, Arila yang baru dikenalnya. Dan timbullah keraguan dihatinya terhadap Arila, seseorang yang masih baru disekolahnya.
Sementara itu Edo yang terkenal pembosan, memilih untuk pergi kerumah Arila, demi menghilangkan rasa kebosanannya dirumah. Disana, Edo disambut gembira meski mulanya kaget atas kedatangannya secara tiba-tiba. Dan Edo beristirahat ditaman belakang sambil menunggu Arila yang mengambilkannya sesuatu.
“sory ya lama! Nih, makanannya!”
“thanks yah!” Sambil mencoba makanannya.
“lo mau cerita apa kesini? Apa bersangkutan dengan Arel!”
“tante Arel tau, kalau bukan gue yang ngasih kupu-kupu itu!”
“kok bisa?” Dengan kaget.
“yaiyalah, tante nya kan peramal! Jadi serba tau! Untuk aja lo nggak datang! Jadi nggak ketauan!”
“oh, cuma itu perbedaannya!”
“siapa bilang? Masih banyak kok! Gue aja sama Ega dibikin jantungan! Ih, pokoknya ngeri deh kalau bertemu sama tantenya Arel! Bisa mati ditempat, tau nggak!”
“yah, yah, yah! Jangan sampai kedengeran yah!”
Edo tidak mempedulikannya, justru sebaliknya, masih menyantap apa yang ada didepannya. Sedangkan Arila mulai merasakan ketakutan dihatinya. Arila takut semuanya berakhir sia-sia tanpa memuaskan dirinya. Dan ia pun harus berpikir extra untuk menyelesaikannya secara sempurna.

* * * * * *

Kali ini Arel pergi dengan mobil pribadinya kesekolah, tanpa harus memakai bus kota seperti yang pernah dilakukannya. Sesampainya disekolah, Ega terkejut dan memanggilnya dari kejauhan. Kemudian mereka bercerita sambil berjalan.
“akhirnya….! Lo sadar juga!”
“sadar? Maksudnya?”
“yaiyalah, sekarang lo udah pakai mobil! Bukannya bus kota yang penat itu!”
“oh, kirain apaan! Biasa aja kok! Bagi gue, semuanya itu sama! So, I don’t care!”
“itu bagi lo! Tapi bagi gue, care, care, care!” Dengan mengipas dirinya.
Arel tersenyum, sedangkan Ega masih mengipas dirinya sambil berjalan. Sesampainya dikelas, tiba-tiba Arel dikejutkan sesuatu. ditemukannya boneka kecil bertuliskan “I love u” didadanya, tepatnya dikolong meja.
“yuhu….pemujanya rame banget sih! Tapi sayang nggak punya nyali!” Ega menggoda.
“lo mau! Nih ambil! Gue juga nggak tertarik! Lo kan suka ngoleksi boneka!”
“serius! O….thank you! Lucu banget sih bonekanya!” Sambil mengambilnya lalu memujinya.
Arel pun ikut kegirangan serta bahagia, ketika melihat sobatnya itu bahagia karna boneka persembahannya. Namun ada keraguan dihatinya, ia merasa ragu untuk memberikan boneka tersebut. Tapi sayang, rasa itu tidak diperdulikannya. Karna yang ada dipikirannya, rasa keraguan itu hanyalah bisikan setan semata. Yang menyuruhnya untuk mengambil boneka itu kembali.
Pada saat jam belajar berlangsung, Arila merasa bosan dikelasnya juga ingin cepat-cepat istirahat. Dia mulai gelisah dan mulai berusaha menenangkan dirinya. Ditengah kebosanannya, tiba-tiba saja ia melihat Arel melewati kelasnya. Arel tersenyum seolah-olah menyapanya, sedangkan Arila masih terbawa senyumannya.
“Arila! Ril!” Edo mengusiknya dengan pelan.
“eh, ada apa?” Tanyanya ketika sadar.
“lo barusan mikirin apaan? Pasti mikirin hal negatif?”
“enak aja! Gue barusan dibawa angan-angan! Indah banget!”
“ah, dasar lo!”
Mereka berdua berbicara sambil berbisik, karna takut kedengaran guru matematika yang galak didepannya. Usai bercerita, mereka kembali fokus belajar dan rasa bosan Arila pun hilang setelah melihat senyuman Arel. Dan kembali belajar tenang dengan penuh konsentrasi.
Pada jam istirahat, mereka berdua berjalan bersama menuju lapangan basket. Setibanya disana, mereka dikejutkan sama Arel yang datang seara tiba-tiba.
“yang namanya pacar! Lengket terus!!!” Edo menyindir dengan bola ditangannya.
“hai semuanya! Apa kabar?” Ega datang dengan mengejutkan.
“yah, ini lagi! Kalian berdua seperti jelangkung! Datang tak dijemput! pulang tak diantar! Ah, cape deh!” Edo mengejek.
“Arila! Bagus nggak bonekanya?” Sambil menunjukannya.
“bagus! Kamu beli dimana?” Tanya Arila.
“beli! Nggak kok! Aku dikasih sama Arel! Iya kan Rel?” Arel mengangguk dengan santai.
Edo terkejut dibuatnya setelah mendengar tuturan Ega. Sedangkan Arila mencoba sabar lalu mengeluarkan senyum yang terpaksa dihadirkannya. Sementara Ega masih memanjakan boneka tersebut tanpa memperdulikan Edo, Arila, dan Arel yang sedari tadi masih berdiri disekitarnya.

* * * * * *

Disuhu udara yang masih dingin, cahaya pun masih enggan menampakkan dirinya, begitu juga dengan awan-awan yang masih tertidur, juga langit-langit masih beralaskan warna biru-kebiruan. Dan saat itu juga, jarang sekali ada manusia yang setia menunggu cahaya datang menghampirinya.
Namun siapa sangka hal itu terjadi pada anak manusia. Di usianya yang terbilang muda, dia rela mengorbankan dirinya demi menyaksikannya secara langsung. Sebut saja Arila, hampir satu jam dirinya berdiri, tanpa memperdulikan keadaan dirinya yang masih kosong. Apa jadinya bila udara nakal itu masuk kedalam tubuhnya? sementara dirinya masih dalam keadaan kosong? Sungguh sulit dipercaya, namun hal itu sudah pasti terjadi!
Kini cahaya itu datang persembahan sang mentari. Dirinya pun tersenyum karna cahaya menyinariya dengan perlahan tapi pasti. Setelah beberapa menit bereaksi, tiba-tiba keadaan dirinya tidak memungkinkan untuk melanjutkannya. Dia pun terjatuh tanpa mengingatnya lagi. Kemudian ada binatang yang mengerti keadaannya, binatang itu menari untuk menghiburnya, tapi sayang orang yang dipilih salah.
Binatang tersebut adalah kupu-kupu dengan sayapnya berbentuk hati. Dan seolah-olah mengerti kalau Arila yang masih tertidur takut akan seseorang meninggalkannya. Kupu-kupu itupun masih berdiam diri sampai saat manusia akan membangunkannya, Arila yang tak sadarkan diri itu.
Sementara Arel terbangun dari tidurnya secara aneh. Maksudnya, dia terbangun bermula dengan keterkejutan yang sangat jarang dialaminya. Setelah menyadarinya, Arel pun mulai beranjak untuk membuka jendela kamarnya. Dengan damai, Arel membukanya perlahan tapi pasti. Tiba-tiba saja dirinya melihat seekor kupu-kupu dihadapannya, kemudian masuk dengan sendirinya. Dan Arel mengajaknya bicara, sedangkan kupu-kupu itu masih asyik bermain dikamarnya.
“kupu-kupu, kamu cantik banget sih! Apalagi waktu kamu nari-nari seperti itu! Pasti kamu bukan kupu-kupu sembarangan?” Arel pun tersenyum lalu ada yang membuka pintu kamarnya.
“Arel, kamu bicara sama siapa?” Tanya tantenya.
“itu Madam! Sama kupu-kupu!”
“udah! Mendingan kamu cepet mandi! Terus, ikut saya kepasar minggu untuk belanja!”
“Madam, bahannya kan masih lengkap? Nanti mubazir gimana?”
“persiapan ikannya sudah habis! Terutama ikan bawal! Pokoknya dalam waktu lima belas menit, kamu harus ada dibawa temui saya!”
“ok Madam!!!”
“ya harus ok dong! Masa nggak!”
Tantenya pun pergi dengan menutup pintu kamarnya kembali. Lalu Arel merasa lega karna bebas dari tantenya. Ketika kembali sadar, Arel mencari kupu-kupu yang sempat menemaninya tadi. Ternyata kupu-kupu tersebut sudah pergi saat dirinya bercengkrama dengan tantenya. Dan Arel pun melupakannya juga mempersiapkan diri untuk menemani tantenya berbelanja.

* * * * * *

Kini Arila terbaring lemah dirumah sakit. Sudah dua hari ia tak menyadarkan diri dirumah sakit itu. Dan harus absent sakit disekolahnya. Edo, sebagai seorang sahabat yang baik, pergi untuk menjenguknya. Setibanya disana, Edo mendadak kaget! Karna baru mengetahui kalau Arila dirawat diruangan ICCU, juga tak menyadarkan diri selama dua hari. Apalagi saat Edo menyaksikannya secara langsung.
Semua alat tersusun rapi ditubuhnya, dan yang disaksikannya hanyalah gambaran semata dialam mimpi. Arila hanya bisa mendengar ketika sadar, lalu menggerakan tubuhnya tanpa harus membuka matanya. Melihat keadaan itu, Edo pun terduduk lemas disampingnya.
“maafin gue Ril! Gue udah salah! Seharusnya gue jenguk lo dari kemarin!” tiba-tiba ada yang menyambung dari arah belakangnya.
“bukan kamu yang salah! Tapi tante! Waktu itu tante panik! Dan tante tidak sempat untuk menghubungi kamu!”
“nggak apa-apa kok tante! Edo bisa maklum!”
Mamanya Arila pun meminta ijin untuk keluar sebentar, juga meminta Edo untuk menjaga Arila diruangan, karna jam besuknya belum habis. Edo langsung menyetujuinya dan setia menunggu sahabatnya itu bangun. Edo terharu dan matanya mulai merah, kemudian menundukan kepalanya untuk menyembunyikan kesedihannya dari Arila. Dan Tiba-tiba ada suara yang menegurnya.
“kamu cengeng banget sih!” Dengan mengejutkan lalu membuka oksigennya.
“Ril, lo udah sadar?” Tanya kagetnya.
“yaiyalah gue sadar! Abisnya lo brisik banget!” katanya dengan lemah.
“dasar! Sakit-sakit sempet jengkelin! Gimana sembuhnya, pasti lebih jengkelin!”
Arila pun merasa sedikit terhibur atas ucapannya, begitu pula dengan Edo yang jengkel dibuatnya. Namun keceriaan tetap membanjiri mereka berdua.

TiGa HaRi KeMuDiAn….

Sudah lima hari Arila tidak nampak disekolahnya, dan hal itupun membuat tanya pada Ega. Dirinya curiga, karna sudah lima hari tidak melihat Arila sedikit pun. Semua itu dirasakannya, saat melihat Edo sendiri tanpa ada yang mendampingi. Lain dengan Arel, memerhatikan Edo yang slalu sendiri tanpa menanyakan keberadaan Arila. Karna Arel lebih jarang memerhatikan mereka berdua dibanding dengan Ega yang serba tau.
“eh, kok lo sendiri lagi? Arila mana?” Tanya Ega penasaran.
“ada kok!”
“ada, ada, mana? Udah lima hari gue nggak lihat batang hidungnya!”
“udah deh! Lo jangan care sama kita! Boleh sih! Tapi jangan terlalu!”
“yah, tapi….?” Edo memotongnya.
“Arel….!”
Begitu Ega berbalik arah, Edo langsung meninggalkannya. Setelah sadar kalau Edo membohonginya, Ega pun emosi dan mengipas dirinya kembali. Lalu berjalan untuk mencarinya, karna penasaran dengan keberadaan Arila yang sesungguhnya. Sementara Arel sedang Asyik mendengarkan musik diperpustakaan menggunakan headset sambil membaca buku yang diambilnya. Ega yang melihatnya, menarik nafas panjang dan kembali mengipas dirinya lalu melanjutkan perjalanannya untuk mencari Edo.

* * * * * *

Rasa penasaran yang dimiliki Ega mulai memuncak, dan rasa sabar itupun tak sanggup dibendungnya lagi. Ia pun berniat untuk mencari tau sendiri secara diam-diam. “Ega, waktunya beraksi!” Itulah katanya dicermin saat bersiap-siap untuk pergi kerumah Edo. Ega turun dengan pakaiaannya yang tomboi dengan mengendarai mobilnya. Setibanya disana, mendadak dirinya berhenti, karna melihat Edo keluar dengan mobilnya.
Ega pun tersenyum dan segera menyusulnya secara diam-diam. Kini mereka berbalap-balapan, dengan santai Edo mengendarai mobilnya tanpa memerhatikan sekelilingnya. Sedangkan Ega sangat pintar mengatur posisi kendaraannya untuk membututi Edo yang tak sadar dibuatnya. Kurang lebih satu jam perjalanan, mereka pun sampai. Mendadak Ega kaget, karna tempat yang dituju adalah rumah sakit.
Secara cepat, Ega langsung turun dan mulai membututi Edo yang mulai masuk kerumah sakit itu. Namun, Edo memakai lift untuk lebih cepat. Tanpa pikir panjang, Ega langsung menaiki tangga sambil memerhatikan lift yang terbuka. Sementara Edo santai didalam lift menunggu lift terbuka ditempat tujuan. Setelah berulang kali menaiki tangga, Edo pun berhenti dilantai tiga, Ega merasa lega dan masih membututinya.
Setelah beberapa menit berjalan, Edo berhenti dan masuk keruangan Anggrek tersebut. Namun Ega harus tetap diluar, dan hanya bisa mengintip secara diam-diam. Ketika mencoba, tiba-tiba mendadak kaget! Ia melihat Arila terbaring lemas ditempat tidur. Dan rasa tak percaya itupun ada dihatinya. Ketika Edo keluar dari ruangan, Ega langsung menegurnya dengan dingin.
“em!!!” Tegurnya dengan tegas.
“Ega! Kok….?” Ega langsung memotongnya.
“ternyata ini yang sebenarnya? Lo bener kelewatan! Lo tertutup tentang Arila! Lo udah bohongin gue sama Arel!”
“tunggu! Lo salah paham!” Dengan memegang tangan Ega.
“udah, gue nggak percaya sama lo lagi!” Ega berontak.
Ega langsung pergi meninggalkannya dengan emosi. Sedangkan Edo memanggilnya tiga kali, namun tak ada respon darinya untuk Edo. Kini Edo kembali masuk keruangan, lalu Arila menanyakan hal tersebut.
“gue tau kok! Lo barusan cekcok mulut kan sama Ega?”
“iya sih! Gue nggak nyangka! Kalau Ega ngikutin gue secara diam-diam!”
“Ega itu orangnya aktif! Jadi wajar dong dia bisa ngelakuin itu sama lo! Lagian lo juga sih! Terlalu lengah sama keadaan sekitar!”
“ya, ya, ya! Gue simpan omongan lo! Tapi lo mau kan bantuin gue?”
“bantu, bantu apaan?”
“Ega udah salah paham sama gue! Gue mau, lo bantuin gue untuk ngejelasin semuanya!”
“tenang aja bro! Gue bantu!”
Edo pun merasa lega, dan berharap usahanya berhasil. Lalu Edo merasa bersalah telah membuat Ega emosi karna ulahnya. Meski disadari olehnya, kalau dalang dari semua itu adalah Arila. Arila yang menyuruh dirinya untuk melakukan hal tersebut.

* * * * * *

Pada hari pertama masuk, Arila disibukkan dengan banyak tugas. Yaitu tugas kelompok juga tugas individu. Dan semua itu sudah diselesaikannya selama dirumah sakit dengan bantuan Edo, sahabatnya itu. Namun ada yang membuatnya kaget. Ketika bersiap mengumpulkan tugas, guru yang bersangkutan menyuruh Ega untuk mengambil tugasnya.
“gimana? Udah sembuh?” Tanya Ega dengan dingin.
“lumayan….?” Ega memotongnya.
“moga aja takdir baik selalu ada buat lo!” Dengan merampas tugasnya.
Ega pun pergi, sedangkan Edo yang melihatnya sedari tadi, tidak bergerak dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara Arila terdiam juga sedikit kecewa atas tingkah-lakunya lalu pergi dengan berat hati. Ketika Edo berjalan dengan sendirinya, tiba-tiba saja bertabrakan dengan Arel, dan itu membuatnya kaget. Edo hanya tersenyum padanya lalu pergi meninggalkannya, sedangkan Arel terkejut dibuatnya.
Lain dengan Arila yang menyendiri ditiang sekolah dengan memerhatikan anak-anak bermain basket. Dari situ dirinya terhibur, ketika akan melangkah, tiba-tiba ada yang menghentikannya dengan memegang keras tangannya.
“apa-apaan nih?” Tanyanya dengan kaget.
“gue mau bilang….?” Tiba-tiba ada yang memotongnya.
Tiba-tiba Ega datang langsung memukul tangan Arel yang memegang tangan Arila. Tangan mereka pun terlepas dan Ega langsung menarik Arel lalu membawanya pergi. Sementara Arila tambah bingung dibuatnya. Waktu itupun berlalu, pada saat jam belajar masih berlangsung, Arel menemukan tulisan ancaman dibuku Ega untuk Edo. Arel pun penasaran, dan bertujuan untuk melihatnya. Karna apa yang ada dibukunya, itu pasti terjadi.
Ketika bel berbunyi, Arel mulai beraksi untuk membuktikan tulisannya. Sementara Ega mencuekinya dan tidak peduli saat melangkah pergi. Setibanya disana, Arel melihat Ega bersama Arila, bukannya sama Edo. Dari situ hatinya penasaran dan bersembunyi untuk mengupingnya dari kejauhan.
“jujur! Gue marah banget sama lo! Gue nggak nyangka, lo bakal lakuin ini sama gue!” Dengan tegas.
“iya gue tau! Tapi gue mohon maafin gue!”
Ega merasa gerah atas ucapannya, ketika akan memberi pukulan mesra, Edo datang lalu memegangnya dari belakang. Ketika Arel akan membantunya dari kejauhan, tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan tegas. Semua terkejut dan tertuju pada Arel. Kemudian orang itu menyeretnya kemobil dengan bodigatnya.
“kali ini kalian boleh lolos! Tapi ingat, kalau sampai Arel tau, kalian akan menyesal!” Ancam Ega.
“serah! Gue nggak takut!” Edo menantang.
Pertengkaran itupun berakhir, karna Ega pergi dengan mengipas dirinya. Sedangkan mereka berdua masih berdiri namun lain pikiran. Edo pikirannya dengan ancaman Ega, sedangkan Arila dengan Arel yang diseret secara tiba-tiba sama beberapa orang asing.

* * * * * *

Setibanya dirumah, Arel kembali ditarik saat dirinya keluar dari mobil tersebut. Dengan kasar bodigat itu membawanya kedalam dengan cara seperti tadi. Ketika dirinya masuk, mendadak kaget karna ada seseorang lelaki berdasi dihadapannya. Ketika lelaki itu membalikkan tubuhnya, dirinya tambah terkejut.
“kamu! Untuk apa kamu kesini?” Tanya kagetnya dengan tegas.
“dia kesini kangen sama kamu, Rel!” Sambung tantenya yang sedang duduk.
“kamu nggak pantes ada dirumah ini lagi! Kamu adalah ular berkepala dua!”
Arel pun langsung pergi menuju kamarnya dengan berlari, dan tanpa memperdulikan lelaki itu yang memanggil namanya tiga kali. Dari situ, teringat kembali olehnya pada peristiwa kebakaran yang terjadi padanya lima belas tahun yang lalu. Ia pun terduduk lalu menangisi kejadian itu. Tiba-tiba lelaki itu mengetuk kamarnya, dan emosinya pun makin bertambah.
“pergi! Kamu pergi dari rumah ini!” Dengan membetaknya.
“Arel! Tolong buka sebentar! Kakak mau bicara sama kamu!”
“kamu bukan kakak Arel! Kakak Arel orangnya baik, bukan jahat seperti kamu!” Dengan membetaknya kembali.
Kemudian tantenya datang dan menyuruh lelaki itu untuk berdiam. Sedangkan Arel berpindah kekasurnya dan masih menangisinya. Dirinya pun tertidur lelap setelah banyak airmata membasahinya. Dan suasana rumah kini terasa damai. Selang waktu berjalan, Arel terbangun dari tidurnya, dan mendengar suara aneh. Ketika membuka pintu, ia melihat lelaki itu juga tantenya duduk rapi diruang tamu.
Yang membuatnya kaget, ada sebuah boneka berwarna pink sedang menari dengan holahop dipinggangnya. Sementara lelaki dan tantenya itu tidak menyadarinya, karna mereka sibuk dengan bendanya masing-masing. Kemudian Arel teringat masa pada kecilnya, saat dirinya memainkan boneka tersebut dengan papa, mama, dan kakak kesayangannya.
Tanpa sadar, Arel tertuju pada boneka itu yang asyik menari. Arel pun melangkah turun, dan mengejutkan laki-laki itu. Matanya merah, lalu tangan halusnya mengambil boneka itu yang masih menari dan duduk disamping laki-laki itu.
“dari mana kamu dapat boneka ini?”
“aku dapat waktu ulang tahun kamu! lima belas tahun yang lalu!”
“kenapa benda ini harus kamu simpan? Harusnya kamu buang benda ini jauh-jauh!”
“kalau boneka itu aku buang! Berarti aku udah buang adik aku sendiri!”
“aku nggak percaya sama omongan kamu! Hanya karna boneka ini!”
“Arel! Kakak minta maaf sama kamu! Kakak tau, kakak udah salah sama kamu!”
“maaf! Arel masih butuh waktu! Untuk nganggapin itu semua!”
Tiba-tiba Arel pergi dengan memberi boneka itu padanya. Lelaki itu hanya bisa menyentuh boneka itu tanpa bisa menyentuh adik kesayangannya. Sementara tantenya menyempatkan diri untuk menghibur lelaki itu dari kebiasaannya membaca majalah. Sebagai seorang peramal, ia pun menghibur lelaki itu dengan pengalamannya yang kocak saat meramalkan seseorang. Dan lelaki itupun terhibur dibuatnya.

* * * * * *

Arila yang terkenal dingin, diam-diam menyimpan rasa pada Arel. Arel yang terkesan baik, telah mencairkan hatinya yang beku. Namun Arila hanya bisa menunjukkannya dengan barang, melainkan harus mengungkapkannya secara langsung. Arila makin terpaut dibawa perasaannya, dan sesekali api cemburu membakar hatinya. Namun dirinya bisa maklum, karna rasa yang dia punya tersembunyi dan terkunci rapat. Hingga seseorang disekitarnya sulit untuk mengetahuinya secara terbuka.
Arel, masih bisa tersenyum ceria meski hatinya kini sedang galau. Menyendiri, menjauh, dari Ega dengan alasan tertentu. Namun bodohnya Ega, mempercayai alasannya yang sangat asing ditelinganya. Tapi tak sebodoh yang dipikirkan, ternyata Ega ada maksud lain dengan mempercayai alasan Arel tersebut. Ditengah kegalauan hatinya, tiba-tiba ada yang menawarkannya sekuntum bunga diperpustakaan.
“Edo! Kamu tau banget kalau aku suka bunga!” Katanya memuji.
“udah lama kali….! Lo nya aja yang baru nyadar!” Katanya mengejek.
“aku udah nggak tau lagi! Berapa bunga yang kamu kasih ke aku! Abisnya banyak banget sih! jadi nggak bisa dihitung!”
“yang penting kamu seneng kan!”
“so! I’m very happy! Thank you to is flower!”
Kemudian Arel mencium bunga tersebut juga diresapinya, sedangkan Edo bahagia meski akhirnya akan terluka atas ulahnya. Arel merasa dimanja olehnya, dan menganggap bunga tersebut adalah bunga persahabatannya dengan Edo. Edo memberitau hal itu pada Arila lewat pesan dihandponenya secara diam-diam. Dan pesan itupun sampai ditangan yang tepat.
Arila merasa bahagia atas pesannya, dan berjalan-jalan menghabisi waktu istirahat sekolahnya. Dengan santai, ceria, Arila berjalan dan menyapa teman-teman sebayanya. Kemudian terlihat olehnya Ega yang sedang termenung berdiam diri tanpa suara. Hatinya pun penasaran dan mengajaknya ngobrol seperti biasa.
“hei! Lo kenapa? Kok muram gini? Nggak biasanya lo kayak gini!” Sapanya dengan hibur.
“duduk lo! Nggak usah banyak bicara!” Arila pun duduk, meski Ega dingin terhadapnya.
“ada apa sih, Ga! Lo cerita sama gue! Gue bakal jadi radio buat lo!”
“gue, gue tadi ngeliat Edo ngasih bunga sama Arel! Mereka mesra banget Arila!”
“oh….lo jeles sama mereka?” Ega menggeleng. “terus apa?”
“gue iri sama Arel! Kenapa bukan gue, yang dikasih bunga sama seseorang? Gue butuh banget dimanjain seperti itu sama dia!”
“orang itu Edo kan….?” Arila meyakinkan.
“lo apa-apaan sih! pokoknya seseorang! The someone!”
Arila menertawainya lalu mengejeknya secara cuma-cuma. Sedangkan Ega masih duduk dengan mengipas dirinya tanpa mempedulikan ejekan Arila yang slalu mengusiknya.
“kok diem? Capek ya ngejeknya?” Ega membalas.
“capek! Haus!”
Kemudian Ega menariknya lalu membawanya kekantin. Setibanya dikantin, Ega memberinya minuman dengan lembut. Ketika Arila mencoba meminumnya, ternyata rasanya pedas. Ega pun tertawa terbahak-bahak karna Arila berhasil dikerjain olehnya.

* * * * * *

Arel terusik dengan keberadaan lelaki itu dirumahnya, bahkan konsentrasinya sempat terganggu bila teringat lelaki tersebut. Hampir setiap hari dirinya membuang muka juga tidak peduli pada lelaki tersebut. Lebih parahnya lagi, dirinya nekat mogok makan saat jam makan bersama berlangsung. Dan yang jadi korban pembantunya, yang harus mengantarkan makanan kekamarnya sendiri.
Hari sudah malam, dan menunjukkan pukul tujuh malam. Itu bertanda kalau makan malam bersama mulai dilakukan. Arel masih memakai cara kemarin, yaitu mogok makan lagi dengan memakan korban yaitu pembantunya. Kali ini Arel harus menerima, kalau bukan pembantunya yang mengantarkan makanan, melainkan lelaki itu, kakak kandungnya sendiri. Dengan dingin Arel menyapanya.
“siapa yang nyuruh kamu kesini? Mbok mana?”
“Arel, mbok lagi sibuk beresin dibawah!”
“tapi aku nggak suka nerima makanan dari kamu? Tangan kamu sangat kotor?”
“tapi Rel, kamu harus makan! Nanti kamu sakit!”
“makanan busuk!!!”
Usai mengatakannya, Arel langsung menutup pintu kamarnya tanpa memperdulikan jerih payah lelaki itu untuk membujuknya makan. Dan lelaki itu kembali kemeja makan duduk seperti biasa.
“kamu nggak usah peduliin omongan Arel! Hatinya masih terluka!”
“tapi madam? Sampai kapan Arel akan dendam sama Dendra seperti ini?”
“kamu sabar aja! Tenang, rileks, jangan terlalu care! Dia marahnya nggak lama! Apinya bentar lagi luluh!”
Lelaki itupun percaya akan kata-katanya, dan melanjutkan acara makan bersamanya. Dengan nikmat tanpa memikirkan apa yang terjadi. Keesokan harinya, Arel pun mengetahui tujuan datangnya lelaki itu. Dan Arel kini merasa bersalah, juga ingin mewujudkannya sebelum pergi. Ia berjanji akan membawanya sepulang sekolah nanti. Setibanya dirumah sakit, tepatnya diluar ruangan papanya, Arel mulai menanyainya.
“apa kamu siap!” Tanyanya dengan tegar.
“yah, aku siap!”
Disana papanya tertidur lemah tanpa suara. Diusianya yang muda, ia harus merelakan tubuhnya untuk berbaring kurang lebih lima belas tahun. Keadaan ini terjadi saat dirinya sok dan jatuh tak sadarkan diri ketika kebakaran hebat itu terjadi lima belas tahun yang lalu. Arel tersentuh saat melihat lelaki itu tersedih dan mencium papa kesayangannya dari jendela. Seolah-olah lelaki itu menyesal karna meninggalkan papanya dan memilih mengikuti tantenya.
“kak! Jangan nangis! Kasian papa!” Katanya dengan haru.
“kamu, manggil saya kakak???” Tanya kaget lelaki itu.
“iya! Apa Arel salah memanggil kamu dengan sebutan kakak?”
“nggak sayang! Kamu nggak salah!”
Arel pun tersenyum haru, kemudian lelaki itu memeluknya dengan bahagia, karna Arel telah memanggilnya sekaligus menganggapnya seorang kakak. Airmata bahagia membanjiri mereka, begitupula dengan ayahnya yang bisa merasakan kebahagiaan kedua buah hatinya yang selama lima belas tahun terpisah akibat kebakaran hebat tersebut. Tak lepas juga dari pengharapannya, yang slalu berharap papa kesayangannya untuk bangun dari tidur panjang yang dideritanya.

* * * * * *

Arel kembali menjalani hari-harinya dengan nuansa bahagia. Dengan ceria dirinya pergi kesekolah dan turun dengan senyuman disetiap orang melihatnya. Siapa yang tidak kagum pada dirinya, ketika senyuman itu dipersembahkan olehnya. Seketika akan memasuki kelas, dirinya mendadak kaget.
“Edo! Lo ngapain dikelas gue?”
“nggak kok! Tadi gue ada urusan sama anak kelas lo!” Edo mengelak.
“siapa?”
“Rel, gue tinggal dulu yah! Arila nunggu gue dikelas! By….!” Dengan memeras pipi Arel.
Setibanya dikelas, Arel kembali dikejutkan sesuatu, yaitu sebuah barang kecil berbungkus plastik. Dirinya pun menarik nafas panjang lalu membuka barang tersebut. Ternyata plastik tersebut isinya sebuah boneka kecil percis yang diberikannya pada Ega beberapa waktu yang lalu. Hanya yang berbeda warnanya saja.
“eh, kalian semua! Aku boleh nanyak nggak!” Tanya Arel pada salah satu temannya.
“boleh! Kamu mau nanya apa!” Balas salah satu temannya.
“apa tadi ada yang duduk disini?”
“ada! Yang duduk situ cuma Edo!”
“ngapain?”
“ngobrol sama kita, kita!”
Arel pun tertunduk dan masih menatapi barang tersebut. Tiba-tiba muncul dipikirannya, kalau barang yang ditemukannya secara rahasia adalah pemberian dari Edo. Dan hatinya kini masih ragu untuk meyakini semua itu. Karna yang dia tau, tidak ada hal yang mencurigakan dari Edo terhadapnya. Dimatanya, Edo lebih terbuka terang-terangan daripada tertutup alias sembunyi-sembunyi.
Lain halnya dengan Ega, yang sudah membuka pintu hatinya untuk Arila yang sempat dimusuhinya. Hatinya terbuka, saat Arila mencoba menghiburnya beberapa waktu yang lalu. Disaat Arila bermain basket, tiba-tiba Ega memangilnya lalu mengajaknya duduk. Dan itu membuat Arila terkejut atas sikapnya yang mendadak baik.
“Arla! Ega boleh curhat nggak?”
“boleh! Kayaknya ceria banget hari ini!”
“ceria, j-roks kali! Emang sih, hari ini gue lagi ceria!”
“ceria kenapa? Dapat gebetan baru?”
“ah, lo! Gebetan melulu!”
Usai berkata, Ega kembali mengipas dirinya, sedangkan Arila masih memantulkan bola basket yang dipegangnya sambil duduk dengan Ega ditempat yang teduh sekaligus tempat beristirahat. Kemudian Ega menawarkannya minuman, tanpa ragu Arila langsung mengambilnya, dan tawa pun hadir diantara mereka. Dari situ, kemesraan mulai terpandang dari mereka berdua.

* * * * * *

Ada kabar menakjubkan dari rumah sakit, tersiar kabar kalau papa kesayangannya berangsur membaik. Tapi sayang, Arel tidak bisa menyaksikannya secara langsung, melainkan diwakili lelaki itu, kakak kandungnya sendiri. Bahkan sekarang lelaki itu berusaha untuk mengajaknya berbicara demi memancing responnya.
“pa, ini Dendra! Dendra ada disini, pa! Dendra ada disini untuk papa!”
“Dendra….!” Katanya dengan mata masih tertutup.
“iya, pa! Buka matanya, pa! Apa papa nggak kangen, untuk melihat wajah Dendra yang sekarang?”
Tiba-tiba respon itu terputus, dan lelaki itu harus menerima kenyataan, kalau papa kesayangannya harus kembali tidur panjang juga tidak tau kapan lagi harus bangun. Dirinya pun kembali tersedih melihat keadaannya, dan tidak tau harus berkata apa ketika adik kesayangannya bertanya perihal tentang papanya nanti.

BeBeRaPa HaRi KeMuDiAn….

Sudah beberapa hari Arel selalu menanyakan perihal tentang papanya pada lelaki itu, dan lelaki itu slalu menjawab dengan alasan tertentu yang bisa membuatnya tenang. Ada rasa tak tega dihatinya untuk membohongi Arel yang masih polos. Namun ia harus melakukannya demi membuat Arel yang polos tidak terbebani oleh keadaan papanya.
“kak, anterin Arel kerumah sakit dong! Arel kangen sama papa!”
“Arel, papa lagi butuh istirahat!”
“yah, kakak! Masa Arel nggak boleh pergi? Sedangkan kakak boleh?”
“boleh kok! Tapi nanti yah! Kakak lagi nggak sempet!”
“terus kapan sempetnya?”
“nanti, kalau kakak sempet, kakak hubungin kamu!”
“janji….!”
“iya, janji….!”
Arel pun percaya akan kata-katanya lalu beranjak pergi menuju kamarnya untuk beristirahat. Sementara lelaki itu merasa lega juga beranjak kekamarnya. Kini suasana rumah itupun mendadak sepi, dan hanya berbau kesunyian tanpa suara sedikitpun yang terdengar.
Beberapa menit kemudian terdengarlah suara dari pintu, Dendra yang mendengarnya didapur, segera membukakan pintu tersebut. Setibanya disana, ada seorang lelaki misterius yang mengantarkan sebuah bunga.
“maaf! Anda siapa?” Tanya Dendra dengan curiga.
“saya, saya temannya Arel!”
“oh, silahkan masuk! Arel ada didalam!”
“makasih, saya cuma mau mengantarkan bunga ini!”
“oh, makasih! Kamu nggak masuk dulu!”
“nggak usah! Kalau begitu, saya pamit dulu!”
Lelaki misterius itupun pergi dengan sendirinya, sedangkan Dendra baru sadar, kalau dirinya lupa menanyakan nama lelaki misterius yang telah mengaku-ngaku sebagai temannya Arel. Dan kini duduk santai dengan bunga mawar kurang lebih 15 tangkai disampingnya dengan berbungkus pink. Namun perhatiannya tidak tertuju pada bunga tersebut, melainkan pada koran dan kopi yang diambilnya.

* * * * * *

Kini Arel kembali dibuat penasaran, dan tidak bisa menahannya lagi, juga berniat akan membukanya pada Ega.
“Ega, gue boleh curhat nggak? Dikit….aja!”
“maaf ya, Rel! Bukannya gue nggak mau! Tapi hari ini gue sibuk banget!”
“Ega! Bentar aja kok! Please….!”
“sorry, sorry, sorry, my baby….!”
Ega pun mengipas dirinya lalu beranjak pergi meninggalkannya. Kini Arel bingung harus bagaimana, krmudian berjalan dan bertabrakan sama seseorang.
“Sorry….!”
“Edo tunggu….!” Dengan menarik tangannya.
“ada apa nona manis?”
“gue mau curhat sama lo!”
Arel kembali menarik tangannya lalu membawanya kekantin untuk lebih leluasa mencurahkan isi hatinya.
“dirumah, ada yang beri gue bunga! Katanya sih, dia ngakunya temen gue! Tapi gue nggak tau dia siapa?”
“masa sih….? Emangnya lo nggak liat mukanya?”
“bunga itu bukan gue yang nerima pertama!”
“tapi siapa kalau bukan lo?”
“kakak gue!”
“oh, pantesan aja yah, lo nggak tau siapa orang itu!”
“yaiyalah gue nggak tau! Kalau gue tau orangnya! Gue nggak bakal minta bantuan lo!”
“bantuan! Buat apa!”
“buat orang itu! Orang yang ngasih bunga sama gue!”
Edo pun terdiam dan bersikap tidak tau menau tentang isi hati yang dikemukakan oleh Arel. Kini Edo berjalan dengan dingin mencari teman sebayanya itu, Arila. Dan mereka bertemu dikelasnya, karna saat itu Arila sedang berbicara dengan salah satu temannya.
“Arila, ada hal penting yang harus kamu tau!”
“oyah, aku lupa! Tadi Ega nanyain lo! Katanya sih kangen buat ngerjain lo lagi!”
“Ega lagi, Ega lagi! Ini bentar lagi bakal jadi masalah lo!”
“biarin aja! Nanti gue tanggung! Gue akan tanggup jawab bersih!”
“gila lo! Dapetin cewek seperti Arel tuh susah! Syukur-syukur dia care sama lo!”
“ntar dulu! Ini masalah Arel! Apa masalah lo sama anak sebelah!” Dengan kaget.
“masalah Arel, lah! Makanya dengerin dulu sebelum bicara! Puas lo!”
“itu sih udah gue pikirin dari jauh-jauh hari! Kalau Arel sudah tau semuanya! Berarti saat itu juga saatnya gue pergi! Dan otomatis, gue nggak akan ngusik dia lagi dengan kebohongan!” Katanya dengan lemas.
“whatever! Up too you! Gue nurut aja! Abisnya omongan lo haruin banget! Lagian semua ini kan rencana lo! Murni dari lo!”
Arila terdiam mendengar ucapan Edo yang sudah angkat tangan atas ulahnya. Dan mereka berhenti diskusi ketika guru matematika datang memasuki kelas untuk mengajar.

* * * * * *

Arila terduduk sendiri, ketika teringat pada omongan Edo yang telah angkat tangan atas ulahnya, hatinya kini gelisah, takut diakhiri dengan begitu saja tanpa satu yang pasti. Hatinya pun semakin gelisah, saat melihat canda tawa pujaan hatinya disudut sana. Ketika akan menghindar, tiba-tiba ada yang menghentikannya.
“Arila, apa kabar?” Sapanya dengan lembut.
“lo, bukannya lo tadi disana?” Tanya kagetnya dengan gugup.
“emang sih! Tadi gue lari! Makanya cepet! Lo kaget? Sorry yah!”
“nggak kok! Rel, mendingan lo pergi dari sini!”
“pergi? Kenapa?” Arel dengan kaget.
“Rel, please! Atau, gue yang pergi?”
“ta…?”
Arila langsung memotongnya dengan berlari menuju suatu tempat, tanpa mendengarkan Arel bicara terlebih dahulu. Hatinya kini kecewa dan duduk ditempat tersebut. Kemudian terlihat olehnya sapu tangan disampingnya, ketika diambil, mendadak dirinya kembali kaget. “darah….?” Itulah katanya. Tiba-tiba ada yang merampasnya serta membuatnya kaget yang ketiga kalinya.
“Arila! Kamu apa-apaan sih! Gue kaget tau nggak!” Katanya dengan membentak.
“bagus! Kalo lo nyadar! Siapa yang nyuruh kamu untuk megang sapu tangan ini?”
“sapu tangan itu datang sendiri ke gue! Asal lo tau! Gue nggak niat untuk nyentuh sapu tangan itu sedikitpun!”
Arel pun pergi dengan membuang muka padanya, sedangkan Arila masih kecewa dan batuk disertai sesak didadanya. Tanpa pikir panjang, Arila langsung berlari keruang kesehatan. Saat itu juga ada Ega yang mengobati kakinya karna semut merah, kemudian Ega mendengar ada yang batuk sekaligus muntah di wc ruang kesehatan. Ega penasaran dan menunggunya, ketika orang tersebut keluar, mendadak jadi kaget.
“Arila! Muka lo pucat banget! Lo sakit?”
“gue nggak tau harus bilang apa?” Dengan duduk ditempat tidur.
“maksud lo apa?”
“nggak kok! Nggak ada apa-apa?” Arila mengelak.
Tiba-tiba terdengar suara dari depan memanggil Ega, dan Ega pun beranjak dari tempatnya.
“gimana? Udah sembuh kakinya?”
“lumayan!”
Tiba-tiba Arel melihat Arila ada dibelakang Ega, yang baru beranjak dari tempatnya. Sedangkan Arila baru menyadari kalau ada Arel dihadapannya. Mereka sama-sama terkejut, juga saling membuang muka saat Arila pergi melewati dirinya. Dan kini Arila beralih pada Edo yang berada dikelas.
“Arila, lo darimana? Kok pucat banget?”
“nggak kok! Nggak dari mana-mana! Bentar lagi juga ilang!”
“dasar lo! Di ajak serius! Ada aja kocaknya!”
“hidup itukan harus santai! Ntar kalau tegang terus, kapan merdekanya!”
“iya sih! Tapi jangan terlalu santai!”
Kecurigaan sekaligus penasaran Edo pun hilang begitu saja, setelah dialihkan pada pembicaraan lain. Dari situ Arila mulai merasa lega, karna bisa menghilangkan rasa kecurigaan Edo pada dirinya.

* * * * * *

Keesokan harinya, Arila terpaksa absent karna kembali jatuh sakit. Padahal, yang bisa melengkapi kebahagiaannya hanyalah sekolah. Karna, disanalah ia bisa melihat leluasa tentang pujaan hatinya yang kini memusuhinya. Dan tersedih saat teringat bersama pujaan hatinya disekolah termasuk pertengkaran yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Dengan ketidak hadirannya, menimbulkan sebuah tanya pada sobatnya, Edo yang telah lama bersamanya. seakan takut pada peristiwa beberapa waktu yang lalu terulang lagi, saat Arila mendadak sakit secara tiba-tiba. Dan ketika dijenguk, Arila diketahui dalam kondisi yang parah alias diluar perkiraan. “gue harus positif thinking….” Itulah katanya sesaat menyadari pemikirannya yang tlah lalu.
Lain pada Ega yang terus mencari Arila pada jam istirahat, setengah bagian sekolah telah dicarinya, tapi tidak ada satupun yang terlihat. Pencarian itupun berakhir saat dirinya melihat Edo duduk sendiri dikantin.
“Edo! Kantinnya rame! Tapi Arilanya mana yah?”
“Arilanya sakit!” Dengan santai.
“sakit? Sakit apa? Jangan-jangan? Ternyata bener firasat gue!” Dengan mengagetkan..
“firasat! Firasat apaan?” Edo penasaran.
“kemarin, gue temuin dia dari wc ruang kesehatan! Lo tau dia abis ngapain!? Dia abis batuk dan muntah-mutah!”
“batuk? Dan muntah-muntah?” Edo kembali bertanya.
Ega mengangguk lalu mengipas dirinya, sedangkan Edo sempat tersedak juga berhenti dari minumnya. Melihat keadaan itu, Ega pun mencoba untuk membaginya dengan Arel dikelas. Dan berharap Arel bisa menerimanya dengan positif thinking.
“Rel, gue ganggu nggak?”
“nggak! Duduk aja!” Ega pun terduduk ragu.
“Rel, gue mau bilang! Kalau Arila sakit!”
“sakit! Mati aja sekalian!” Dengan marah.
“Rel, gue serius!”
“tapi gue juga serius!”
“harusnya lo positif thinking! Bukannya negatif thinking kaya gini!”
“whatever! Asal lo tau! Gue sama Arila musuhan! Jadi, jangan sebut nama Arila ditelinga gue! Panas gue dengernya!”
“iya, iya! Gue nggakkan nyebut nama Arila lagi didepan lo! Puas lo!”
“bukan hanya puas! But, banget….!”
Ega semakin jengkel dibuatnya, apalagi saat Arel slalu meladeni kata-kata kasarnya. Ega kembali mengipas dirinya dan cuek terhadap Arel. Sementara Edo penasaran dan ingin tau secepatnya perihal tentang Arila disana, dirumahnya. Pemikiran itu juga ada pada Ega, yang sama dihantui rasa penasaran dan ingin tau secepatnya. Kini mereka berjanjian akan menjenguknya pada hari esok sepulang sekolah secara bersama-sama tanpa sepengetahuan Arel.

* * * * * *

Ega pun menjalankan niatnya untuk menjenguk Arila bersama Edo. Mereka berdua pergi dengan bus kota. Dengan setia mereka menunggu ditempat yang panas sekaligus penat dan berbau tak sedap tersebut, demi sampai ketempat tujuan. Didalam bus, Ega tiada henti mengipas dirinya, demi menghilangkan rasa mual yang dirasakannya. Sedangkan Edo ikut bernyanyi bersama pengamen yang ada di bus tersebut.
Setibanya disana, mereka mendapat tangan kosong, dan mendapat informasi secara mengejutkan. Informasi terebut adalah perihal Arila yang kembali dirawat disebuah rumah sakit. Mereka berdua pun diantar oleh supir pribadi Arila untuk kerumah sakit, sebagaimana pesan yang disampaikan Arila ketika temannya datang. Kini mereka tiba dirumah sakit, dan suasana haru pun menyelimuti.
“Arila! Apa kabar lo?” Sapa Edo didekatnya.
“baik! Gimana kabar sekolah?” Tanyanya dengan lemas.
“semuanya baik-baik aja kok! Lo nya aja yang sakit!” Edo mengejeknya.
Arila mulai tersenyum, setelah sekian waktu dirinya berdiam bertemankan orang rumah sakit yang setiap jam datang mengontrolnya. Melihat keadaan itu, Ega tersenyum membisu ketika mengingat kata Arel mencacinya. Sekarang tinggal mereka berdua diruangan itu, karna Edo minta ijin keluar sebentar. Ditengah kediamannya, tiba-tiba dikejutkan dengan batuknya Arila. Secara spontan Ega panik dan membantunya dengan sapu tangan. Ega tambah terkejut, saat sapu tangan yang dipegangnya ada noda darah.
“Arila! Kamu….?” Ega terkejut.
“jangan bilang siapa-siapa! Cukup kamu sama Edo yang tau!” Sambil memasang kembali oksigen dimulutnya.
“oksigen itu untuk apa?” Tanyanya untuk kedua kalinya.
“nafas aku udah nggak panjang lagi! Makanya harus dipasang oksigen!”
“jadi selama ini, kamu sakit dibelakang aku!”
“maafin aku ya, Ga! Aku bohong lagi sama kamu!”
“nggak apa-apa kok! Aku ikhlas! Asalkan kamu cepat sembuh! Terus, bisa main lagi sama aku, Edo, juga sama Arel!” Tanpa disangka airmatanya jatuh.
“Ega, aku nggak suka ditangisi! Aku masih kuat! Besok, aku bakal main lagi!”
“tapi Ega nggak bisa menahan airmata Ega! Ega nggak tega ngeliat lo seperti ini!” Katanya tangis memanja.
“gue harap lo jangan kaget! Bila ada yang beda sama gue!”
“maksud lo apa Ril?” Tanya kagetnya lagi.
“pokoknya lo diem-diem aja!”
Ega terdiam atas perkataannya, dan kembali mengipas dirinya lalu mengusap airmatanya. Perilakunya itu membuat Arila merasa lega, sedangkan Edo yang melihatnya sedari tadi dijendela terduduk diluar ruangan tanpa sepengetahuan mereka berdua. Dirinya lemas melihat tuturan teman sebayanya itu, Arila yang begitu mengharukan.
Saat itu juga, Arel ada dirumah sakit tapi beda ruangan. Ketika berjalan menuju ruang papanya, dirinya melihat Edo yang sedang duduk. Ketika akan menyapa, dirinya mendapat telpon untuk segera keruangan papanya. Dirinya pun pupus untuk menyapanya, dan pergi berlawanan arah keruangan papanya tersebut, tanpa mencoba untuk menyapanya sekali lagi.
Tidak ada satupun perasaan aneh yang muncul dihatinya, sedangkan Edo baru menyadari, kalau ada orang yang memerhatikannya selama berdiam tertunduk. Ketika melihat disekelilingnya, ternyata tidak ada, dan itu membuatnya penasaran.

* * * * * *

Disekolah, Ega sibuk dengan poster barunya tentang pendidikan yang disusunnya dimading sekolah. Sedangkan Edo sibuk dengan acara mainnya sama anak-anak yang lain dilapangan basket. Arel yang berdiri ditiang sekolah, mengetahui kesibukan kedua temannya. Dan tidak berhak untuk mencampurinya, lalu pergi menghindarinya.

TiGa HaRi KeMuDiAn….

Arel terduduk termenung sendiri dilapangan basket. Terpaksa menonton basket, demi menghilangkan kebosanannya. Sedangkan Ega masih sibuk dengan kerjaannya yang kemarin, begitupula dengan Edo yang masih bermain basket meski teman sebayanya itu sudah masuk dan sembuh dari sakitnya. Ditengah kediamannya, tiba-tiba ada bola menghampirinya. Dengan jail, Arel pun mengambil bola itu dan ikut bermain.
“gue boleh nggak ikut main?” Tanyanya dengan lima orang tersebut.
“boleh! Kalau cedera jangan salahkan kita ya!” Edo dengan sombong.
“sombong lo!”
Dengan cepat Arel mencuri dan memasukkan bola tersebut. Usahanya berhasil, bolanya masuk secara kebetulan. Lima orang tersebut memberinya tepuk tangan termasuk Edo. Arila yang melihatnya diam-diam ditiang sekolah, tersenyum senang menyaksikannya. Sedangkan Arel masih bermain tanpa menyadari ada Arila memerhatikannya.
“Aduh!” Dirinya terduduk.
“Rel, lo kenapa?”
“semut merah, Do!”
“ya udah! Lo istirahat aja disana!”
Arel terbangun dan beranjak pergi. Ketika baru lima langkah, dirinya melihat Arila berdiri ditiang sekolah yang berpura-pura melihat arah lain.
“Arila! Arila!” Katanya tanpa sadar.
“apa! Lo manggil Arila!” Tanya Edo yang mendengarnya.
“manggil Arila! Najis! Tau nggak!”
Usai berkata, Arel pun pergi sedangkan Edo melanjutkan acara mainnya. Setelah beberapa kali beralih tempat, akhirnya berdiam diruang kesenian. Dan arel ikut serta bernyanyi bersama anak-anak yang lain yang sedang latihan. Mereka membawakan sebuah lagu armada yang berjudul “buka hatimu” dari awal sampai reff. Begitu Edo melihatnya, dengan segera beranjak untuk memanggil Arila.
“Arila! Ada berita bagus buat lo!” Katanya dikelas.
“berita apa?” Dengan santai.
“Arel sedang latihan nyanyi diruang kesenian!”
“nggak ah! Nanti gue ganggu konsentrasinya dia lagi!”
“itu urusan belakang! Nan….?”
Arila memotongnya dengan pergi keluar kelas, sedangkan Edo kecewa dan masih duduk dikelas. Arila yang mengintipnya dari pintu, tertawa ketika melihat wajah Edo yang merah padam atas ulahnya.

* * * * * *

Hampir setiap hari Arel bersikap dingin pada Arila. Bahkan hampir genap satu minggu sikap itu masih dipakai olehnya. Sampai kapan Arel akan memperlakukan Arila seperti ini? Adakah pintu maaf untuk Arila? Setiap bertemu, Arel slalu menganggapnya tidak ada. Apalagi ketika mereka tabrakan, Arel langsung pergi dengan membuang muka padanya. Dan kali ini Arel terbuka pada Ega ditaman sekolah, yang letaknya bersebelahan dengan sekolah.
“Ga, jujur! Gue tersiksa banget karna Arila!”
“tersiksa! Bukannya lo yang suka nyiksa Arila!”
“iya, tapi….?” Arel melihat Edo dan Arila menghampirinya.
“tapi apa? Kok diem?” Arel masih berpura-pura tidak mendengarnya.
“hai kalian! Gue dateng lagi!” Sapa Edo lalu duduk disamping Ega.
“Edo! Arila! Apa kabar!” Tanyanya dengan kaget.
“baik! Lo udah lama disini?” Tanya Arila dengan berani.
“lumayan….!”
Mereka bertiga tertawa, sedangkan Arel masih tertuju pada novelnya tanpa ikut serta. Melihat itu, Edo dengan jail mencoba menggoda Arel yang sedang serius membaca. Sedangkan Arila masih bercanda dengan Ega dengan tebak gambar.
“Arel!” Edo menggoda. Tatap Arila dingin padanya.
“apa sih, Do?” Masih tertuju pada novelnya.
“kamu mau nggak, nerima salam aku!? Nerima bunga aku!? Nerima boneka aku!?”
“boneka! Oh, jadi boneka itu dari kamu! Jelek, kaya orangnya!”
“Arila! Arel hina kamu tuh!”
“kok! jadi Arila sih! Yang aku maksud kan kamu!” Kaget Arel.
“Arel! Bela Arila niye!” Ejek Ega.
“Ril! Lawan dong! Jangan diem aja!” Tegur Arel dengan berani.
“kayaknya ada yang bicara? Tapi siapa yah?” Dingin Arila menyinggungnya.
Arel tersinggung, kemudian berdiri lalu pergi dari mereka dengan tergesah-gesah. Sementara Arila cuek kepadanya, dan tidak memperdulikan kepergiannya. Sedangkan Ega dan Edo dibuat takjub atas sikapnya barusan.
“ye….Arila bangkit lagi!” Ega dengan bertepuk tangan.
“Arila! Akhirnya lo bisa kasar juga sama Arel!” Sambung Edo.
“gerah aja diperlakuin kasar! Makanya gue bales!”
“yakin lo….!” Ejek Ega.
Arila hanya memandang dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Edo dan Ega tersenyum melihatnya yang tiba-tiba berubah dingin pada Arel yang mendadak keras padanya.
Hari mulai gelap, timbul kekekhawatiran dirumah Arel. Waktu menunjukkan pukul delapan malam, namun Arel belum juga datang. Dendra, kakak kesayangannya itu menoba untuk menghubunginya, tapi sayang handponenya non aktif. Dan sekarang yang hanya bisa dilakukan hanyalah menunggu kedatangannya sampai larut malam. Kemudian berbagai firasat negatif muncul dihatinya, namun Dendra mencoba untuk membaliknya.

* * * * * *

Kekhawatiran yang dirasakan Dendra, kakak kesayangannya semakin memuncak. Usai sarapan pagi, secara langsung berpamitan pada tantenya, Madam Sonya untuk pergi kesekolah Arel demi mengetahui dimana Arel terakhir beranjak usai sekolah. Dirinya pun pergi tanpa bertemankan seorang supir, karna ingin mengetahuinya secara pribadi, tanpa campur tangan orang lain.
Setibanya disana, Dendra langsung menuju keruang kepala sekolah. Dan kini duduk rapi dengan kepala sekolah tersebut. Setelah mengetahui maksud kedatangannya, kepala sekolah tersebut pun memanggil salah satu muridnya yang akrab dengan adiknya tersebut.
“Ega! Coba jelaskan kepada saya, dimana kamu bawa Arel?”
“bawa! Nggak ada kok, bu!”
“kamu jangan main-main! Kamu tau laki-laki ini siapa?”
“nggak!” Dengan menggeleng.
“laki-laki ini adalah kakak kandungnya Arel! Dia kesini, karna Arel tidak pulang kerumahnya usai pulang sekolah kemarin!”
“oh, kemarin Arel sempet main sama Ega! Ramai kok, bu!”
“ramai! Maksud kamu apa Ega?”
“maksud Ega, ada Edo sama Arila juga! Terus, abis itu Ega nggak tau lagi Arel pergi kemana!”
“kalau boleh saya tau? Kamu main dimana sama Arel?” Tanya laki-laki itu.
“ditaman sekolah!”
Usai bertanya-tanya, Ega pun dipersilahkan untuk pergi. laki-laki itupun berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada kepala sekolah tersebut atas partisipasinya. Dan kini dirinya beralih untuk mencarinya ditaman sekolah. Arila yang melihatnya, terhenti sejenak dari main basketnya.
“Arila! Kenapa berenti?”
“kayaknya gue kenal dengan laki-laki itu!”
“udah ah, payah! Lagian laki-laki itu udah pergi!”
Edo langsung merampas bolanya lalu memasukannya. Sedangkan Arila masih termenung mencoba mengingat kembali siapa laki-laki itu. Sementara laki-laki itu, Dendra masih mencarinya, hampir disetiap sudut taman dicari, dan tak lupa bertanya pada orang-orang yang menikmati keindahan taman tersebut. Mengenai ciri-ciri yang ditunjukkannya.
Namun tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Ditengah kegelisahannya mencari, tiba-tiba ada yang menghubunginya.
“halo….!”
“hai! Masih ingat dengan saya?” Tegur orang itu.
“Meti!” Dendra menhetahui.
“bagus! Kamu masih ingat dengan saya! Aku tau, hati kamu pasti sedang gelisah! Karna adik kesayangan kamu hilang begitu aja!”
“darimana kamu tau? Kalau sekarang aku lagi ditimpa musibah?”
“asal kamu tau! Aku nggakkan berhenti untuk hantui kamu! Sebagaimana kamu lakuin ke aku!”
Pembicaraan itupun terputus, dan ketika Dendra akan menghubunginya kembali, mendadak tidak bisa dihubungi. Dendra pun semakin panas, urusan hilangnya Arel belum selesai, ditambah lagi dengan hadirnya Meti.

* * * * * *

Sudah tiga hari Arel menghilang, dan tidak tau pasti keadaannya. Apakah baik-baik saja atau sebaliknya? Tiga hari tanpa mendengar suara juga sosoknya dirumah itu sangatlah sepi. Polisi ikut serta untuk menyelesaikan teka-teki ini, tetapi belum ada kabar baik yang terdengar. Bila Arel benar diculik, tentu sang penculik meminta tebusan lewat teror berupa telpon rumah, tapi ini tidak ada?
Itu berarti Arel menghilang secara misterius, tanpa diketahui keberadaannya sedikitpun. Sudah tiga hari menunggu, tapi tidak ada kabar. Dengan nekat, Dendra mencarinya sekali lagi ditaman tempat terakhirnya bermain usai pulang sekolah. Dengan cepat ia mengambil kendaraan terus melaju, tantenya yang melihat takut akan perjalanannya sambil mengelus dadanya.
Setibanya disana, Dendra mulai mencari berkeliling ditaman itu tanpa memperdulikan dirinya yang lemas. Sementara Arel berusaha untuk melepaskan ikatannya. Dan dijaga empat bodigat yang masing-masing punya kesibukan. Arel masih berusaha untuk melepaskannya, dan berhasil. Sedangkan Dendra, kakaknya masih berusaha untuk mencarinya.
Arel disana berhasil meloloskan diri, dan kini berusaha untuk menghindari kejaran dari empat bodigat tersebut. Tiada henti Arel berteriak minta tolong sambil berlari. Namun naas yang terjadi, Arel terjatuh dan tertangkap.
“jangan! Lepasin!”
“tidak! Kamu harus ikut kami!” Kata salah satu bodigat yang memegangnya.
Arel berusaha melawannya dengan menggigit tangannya, ketika akan lari, bodigat itu dengan cepat memegangnya dengan kasar. Dan ketika Arel akan diseret, tiba-tiba ada yang berteriak dari arah belakangnya.“jangan sakiti Arel!” mendengar kata itu, semua berbalik dan tertuju melihatnya. Sedangkan Arel tambah kaget setelah mengetahui siapa orang itu.
“Arila! Kamu pergi dari sini! Kamu jangan bantu aku!” Arila mendekat.
“lepasin perempuan ini!” Perintahnya dengan berani.
“nggak! Saya nggakkan lepasin perempuan ini!” Sambung wanita asing.
“Arila! Kamu pergi, Ril! Nanti diri kamu bahaya!”
Terpaksa Arila menurutinya, ketika mundur tiga langkah, tiba-tiba ada yang menghentikannya dibalik wanita asing itu.
“tunggu! Jadi ini perlakuan kamu dibelakang aku!” Semua tercengang.
“terus kenapa? Mau protes? Terlambat!”
“Meti, tolong lepasin adik aku sekarang juga!”
“sebelum aku lepasin! Tolong hadiahkan dia sebuah tamparan mesra!”
Tiba-tiba Arel diberi sebuah tamparan mesra oleh bodigat itu, lalu menolaknya hingga jatuh. Arila yang melihatnya, langsung membantunya untuk berdiri.
“ow….tamparan yang mesra!”
“Arel! Kamu pulang sama teman kamu! Biar ini urusan kakak sama wanita ini!”
“tapi kak….?”
“udah cepat! Sebelum kesabaran kakak habis!”
Arel pun menurutinya dengan berat hati. Sedangkan kakaknya masih berurusan dengan wanita itu dan akan melanjutkannya pada hari esok, karna hari mulai gelap.

* * * * * *

Arel kembali bersekolah, dan berangkat usai sarapan pagi bersama keluarganya. Setibanya disekolah, terlihat olehnya Arila yang baru turun dari mobilnya. Dengan santai Arel menghampirinya sekaligus berjalan bersamanya.
“Arila! Apa kabar?”
“eh, baik!” Dengan kaget.
“lo seger banget hari ini! Ada angin apa?”
“angin baik dong!”
“Arila, bisa berhenti sebentar nggak!” Arila menurutinya. “kejadian yang kemarin! Kamu jangan bilang siapa-siapa yah!”
“jadi, cuma kita berdua aja yang tau!” Dengan melihatnya. Dan Arel mengangguk.
Arila menarik tangannya, dan membawanya berjalan bersama. Ega yang melihatnya tersenyum kaget, sedangkan Edo yang baru keluar dari kelas kaget begitu melihatnya hingga tak berkedip. Disaat jam belajar masih berlangsung, Ega dengan jail menuliskan “I love Arila” dibuku tulis Arel. Begitu Arel melihatnya, dengan langsung tangannya menghapusnya. Sedangkan Ega tersenyum dan masih mengulanginya ketika Arel lengah.
Diwaktu istirahat, Ega berbisik ke Arel dilapangan basket. Mereka duduk ditempat yang teduh. Mereka bermain bisik-bisikan lucu serta tertawa dengan sendirinya. Kini giliran Arel yang dibisikan, Ega memberikan telinganya sesuatu hingga menimbulkan rasa geli. Ketika termundur kebelakang, dirinya menabrak seseorang. Brakk….! Orang itu jatuh.
“Arila! Maaf!”
“lo mundurnya kenceng banget sih! Sakit tau jadinya!”
“Ril! Kenapa muka kamu pucet?”
“ah, nggak apa-apa kok! Arila sok aja waktu jatuh! Makanya pucet! Iya kan!” Dengan cepat Ega memotongnya.
“iya Rel! Betul kata Ega!”
“oh, kirain sakit!”
“sakit! Mati aja lo!” Ega mengejek.
“Ega! Gue ngambek ni!”
“kan ada Arila!” Ega kembali mengejek.
Ega langsung cabut dan Arel geram dibuatnya. Sedangkan Arila tertawa, dan ketika Arel melihatnya, langsung menegurnya dengan dingin.
“lo ngapain sih cengar-cengir kaya gitu?”
“lucu aja ngeliat orang disebelah aku! Kadang panas! Kadang dingin!”
“orang disebelah? Berarti gue dong!”
Begitu akan menepuknya, Arila keburu mundur dan pergi darinya dengan mengejeknya. “Arila….!” Itulah kata geramnya. Dan kembali terduduk, sedangkan Arila masih mengejeknya dari tiang sekolah. Kemudian Arel membuang muka ketempat lain, dan Arila pun berhenti mengejeknya karna diajak Edo kesuatu tempat.

* * * * * *

Arel sedang duduk santai ditaman rumahnya sambil menatapi kupu-kupu hidup yang makin lama sayapnya makin cantik dan semakin tampak berbentuk hati. Bukan hanya itu yang ditatapnya, melainkan segenggam bunga mawar lima belas tangkai ada ditangannya. Dirinya merawat bunga itu dengan membersihkannya lalu memberinya parfum agar sedap dipandang mata.
Sementara Dendra mencarinya kesana-kemari, dan juga tidak mendengar suaranya sedari tadi ia mencari. Kemudian terdengar olehnya suara Arel tepatnya ditaman rumah. Setibanya disana, dirinya melihat Arel sedang bermain bersama kelinci putihnya. Dirinya pun terduduk sambil memerhatikan Arel bermain. Begitu Arel melihatnya, langsung ikut serta terduduk sambil memegang bunga.
“kamu dari mana aja sih? Dari tadi kakak cari kesana-sini! Nyatanya ada disini!”
“maaf deh….! Abisnya kakak nggak manggil sih! Seperti yang Madam lakukan!”
“kan beda Arel….!” Kemudian Dendra melihat bunganya. “oyah kakak lupa….!”
“lupa apa?”
“bunga itu Arel!”
“oh, bunga ini! Emangnya ada apa dengan bunga ini?”
“bunga itu kakak dapat dari temen kamu!”
“Arel sudah tau! Tapi siapa?”
“itu, yang nolong kamu! Waktu kamu diculik!”
“maksud kakak, Arila!” Dengan kaget disertai kegugupan.
“kakak juga nggak tau, siapa namanya! Yang pasti, seingat kakak dia orangnya!”
“masa sih? kakak salah orang kali! Nggak mungkin Arila ngasih bunga sama Arel!”
“kalau bener gimana? Kamu siap nerimanya?”
Dendra mengasih pertanyaan yang membingungkannya, Arel terhenti sejenak dan tidak berkata apa-apa,
“ya….ketauan! Kamu suka kan dikasih bunga sama Arila?”
“ye….! Belum tentukan ini pemberian Arila!”
“kalau bener gimana? Kamu masih nerima bunga itu?”
“liat aja nanti!”
Dendra tertawa mendengarnya, sedangkan Arel masih memegang bunga itu lalu menciumnya. Kemudian tantenya, Madam Sonya datang dan ikut bergabung.
“kayaknya seru! Kalian lagi bicara apa?” Tanyanya sambil duduk.
“ini Madam, adik kesayangan Dendra jatuh cinta!” Dendra mengejek.
“apaan sih! Nggak ada! Nggak ada!”
“urusi dulu kupu-kupu hidup itu! Baru kamu boleh pacaran! Karna saya mencium, Aura yang memberi kupu-kupu hidup itu sedang sakit! Bahkan sakitnya sudah mulai kronis!” Katanya dengan tegas meyakinkannya.
“tapi Madam, Arel lihat dia baik-baik aja kok!” Jawabnya dengan berani.
“bukan Edo yang saya maksud! Meliainkan seseorang! Nanti kamu akan tau dengan sendirinya!” Katanya dengan dingin.
Dendra sempat terkejut, tapi bisa memakluminya. Sedangkan Arel tambah bingung, siapa orang yang dimaksud? Padahal yang dia tau, hanya Edo yang mempersembahkan kupu-kupu hidup itu.

* * * * * *

Diekolah, Arel kembali berjalan bersama Arila menuju kelas. Dengan ceria mereka berjalan, dan semakin akrab dipandang. Mereka terpisah saat memasuki kelas. Setibanya dikelas, Arel menjumpai Ega sedang bersedih. Dan Arel pun menanyakan perihal kesedihannya.
“Ega kamu kenapa? Kok sedih sih? Kan masih pagi!”
“gue teringat, waktu Edo kasih bunga ke lo, Rel!” Dengan sedih.
“lo suka sama Edo? Atau jangan-jangan, lo cemburu?”
“emang, gue cemburu sama lo! Tapi gue nggak suka sama Edo!”
“kalau emang nggak suka! Kenapa harus marah?”
“karna, gue masih ngarepin seseorang! Untuk persembahin bunga ke gue! Seperti yang dilakukan Edo sama kamu!”
“oh, maksud lo Arila! Kan Arila selama ini deket sama lo!”
“bukan Arila! Tapi seseorang! The someone!” Katanya dengan geram.
Ega kembali mengipas dirinya, karna gerah dengan jawaban Arel yang slalu salah menebak teka-tekinya. Sedangkan Arel berdiam dan membuka bukunya karna bel tanda masuk sudah dibunyikan. Ketika membuka, dirinya melihat tulisan “I love Arila”, dengan dingin Arel menegur Ega kembali.
“Ega!” Dengan memukulkan bukunya dilengan Ega.
“aw! Sakit Arel….!” Ega membalasnya dengan kipasnya.
“lo ngapain juga balas? Udah tau lo yang salah lagi!”
“emangnya gue salah apa Arel?”
“lo udah nulis dibuku gue, I love Arila! Memalukan, tau nggak!” Dengan memukulnya kembali.
Ega tersenyum dan melihat Arel menghapus ejekannya. Diwaktu istirahat, Arel dan Arila duduk santai dilapangan basket. Mereka bercerita tentang kesibukannya masing-masing disertai dengan canda. Tiba-tiba Arila berkata sesuatu yang membuat Arel deg deg an.
“Arel! Aku boleh ngasih kamu sesuatu nggak?”
“boleh! Emangnya kamu mau ngasih aku apa?”
Arila menyuruhnya untuk berbalik arah kebelakang sebentar, kemudian menyuruhnya untuk kembali seperti semula. Ketika berbalik, Arel terkejut karna Arila mempersembahkan sebuah bunga dihadapannya. Dengan tersenyum malu dan hati deg deg an Arel menerimanya.
“so sweet! Makasih yah bunganya!”
“sorry yah bunganya beda! Bunga lilin!”
“nggak apa-apa kok! Aku juga suka! Ternyata, bukan Edo aja yang ngasih aku bunga! Tapi juga Arila!” Arila tersenyum malu. “Arila, kamu mau nggak ngasih bunga sama Ega? Soalnya dia pingin banget dikasih bunga!”
“kenapa harus Arila?”
“selama ini kan, kamu deket sama Ega?”
“yakin, Ega suka sama Arila? Perasaan dia suka sama seseorang deh!”
“dan orang itu kamu! Iyakan!?”
“susah juga yah jadi orang ganteng!”
Arel pun tertawa mendengar ucapannya, sedangkan Arila masih pede atas ucapannya yang tadi, tanpa memperdulikan ejekannya Arel yang terkejut mendengarnya.

* * * * * *

Sudah kesekian kali Ega menyaksikan Edo mempersembahkan bunga untuk Arel. Dan kini harus menyaksikannya lagi secara langsung. Kini kejadian itu terjadi dikantin, dengan santai Edo memberikan bunga itu, tanpa merasa firasat apapun. Lagi-lagi mereka menebarkan kemesraan, meski hanya seorang sahabat. Tapi tetaplah kehancuran bagi Ega yang mendalam.
Kini Ega beralih kelapangan basket, dirinya terduduk dengan percuma, demi mengeluarkan emosinya dengan menangis. Arila yang tidak sengaja melihatnya, bermaksud menghampirinya untuk menanyakan keberadaan Edo.
“hai, Ga! Apa kabar?” Dengan duduk.
“kabar buruk!” Jawabnya dengan lemas.
“kabar buruk? Lo kenapa sih pakek nangis segala? Kasian kan airmata lo!”
“gue ngeliat lagi, Arila! Dan gue nggak suka hal itu!”
“ngeliat? Ngeliat apa?” Tanyanya saat tersentuh.
“gue ngeliat, Edo persembahin bunga lagi sama Arel! Kalau emang dia suka, bilang aja sama gue! Nggak usah pamer kemesraan didepan gue!”
“setiap lo ngeliat Edo seperti itu! Lo selalu cemburu! Apa lo suka sama Edo?”
“lo apa-apaan sih! ngomong pakai otak!” Dengan mengelak.
“Ega, serahasia mungkin kamu buat teka-teki itu, lama-lama bakal bisa ditebak!”
“whatever! Masa bodoh gue pikirin begituan!” Dengan membentaknya.
Ega pun pergi dengan mengipas dirinya, karna tersinggung mendengar kata-kata barusan dari Arila. Sedangkan Arila sudah tau, kalau api asmara Ega tersambar pada api asmara Edo. Tapi sayang, Arila belum mengetahui apakah api asmara Edo menyambutnya atau tidak?| Itu semua karna Edo tidak banyak curhat tentang cewek, melainkan tentang hobinya atau pengalamannya.
Setengah termenung, Arila melihat Arel disudut sana. Arel terlihat gembira sambil memegang bunga ditangannya diwarnai dengan senyumannya yang manis. Dari situ Arila semakin terpaut, dan tiba-tiba terhenti ketika ada seseorang yang mengejutkannya. Degg….!
“Edo!” Kata kagetnya.
“sian banget yah! Kaget!” Edo mengejek.
“ya jelas lah gue kaget! Lo datang secara tiba-tiba! Udah gitu ngerusak pemandangan gue lagi!”
“udah gitu ngerusak pemandangan gue lagi! Capek deh!” Kembali mengejek.
“Edo, gue mau nanya? Disekolah ini, ada siswi yang lo suka nggak?”
“lo aneh banget hari ini! Ada sih….! Gue suka sama Arel!” Arila kaget.
“yah, jangan target gue dong! Kan belum selesai permainannya!”
“ih, siapa lagi yang mau! Ternyata, Arila gampang ditipu!”
Arila merasa malu karna perkataannya barusan, dengan cepat Edo menarik kupingnya lalu membisikannya sesuatu. Arila tertawa mendengarnya dan pergi dengan mengejeknya, “Edo jatuh cinta, cie….”, dengan cepat Edo mengejar Arila yang keburu kabur darinya.

* * * * * *

Diam-diam, Dendra berjanjian sama wanita itu, Meti disebuah mal tanpa sepengetahuan Arel. Setibanya disana, Dendra melihatnya dan lansung menghampirinya tanpa ragu.
“sorry telat! Nggak lama kan nunggunya?”
“telat, apa takut ketauan sama Arel?”
“emang sih! Aku takut ketauan sama Arel! Karna, aku bilang kalau aku nggak ada hubungan lagi sama kamu!”
“kamu tega Dendra! Kamu udah ninggalin aku di Bogor! Dan sekarang, kamu bilang nggak ada hubungan lagi sama aku!”
“yah, harus apalagi! Kamu udah nekat ngeculik Arel! Nggak mungkin aku bilang, kalau kamu pacar aku di Bogor!”
“oh, ternyata kamu malu, punya pacar seperti aku, yang selalu nekat tanpa akal sehat!” Kata tersinggungnya.
“bukan….! Maksud aku bukan begitu! Arel butuh waktu untuk tau siapa kamu yang sebenarnya!”
“terus sampai kapan? Sampai aku mati! Aku nyesel banget nerima cinta kamu! Coba aja dari SMA aku tau bakal seperti ini! Aku nggakkan nerima kamu!”
Ketika akan bicara, tiba-tiba ada yang menghubunginya. Ternyata telpon itu dari Arel yang menanyakan keberadaannya. Dirinya terpaksa berbohong lagi, kalau sedang bertemu dengan rekan bisnis disebuah mal. Arel pun percaya lalu menutupnya. Sedangkan Meti masih marah padanya, dan pergi tanpa meninggalkan pesan untuknya. Dengan cepat Dendra mengejarnya dan kembali menghentikannya dengan muncul dihadapannya.
“Awas! Biarin aku pergi!”
“nggak! Aku nggakkan biarin kamu pergi!”
“Dendra! Aku nggak punya banyak waktu! Aku harus kerja!”
“apa nggak ada waktu untuk ngobatin rasa rindu sejenak!” Meti terkejut.
“rindu! Omong kosong!”
“aku tau kamu juga rindu sama aku! Makanya kamu susul aku disini, Jakarta!”
“siapa bilang? Aku kesini karna aku kerja! Tepat diperusahaan papa, karna aku bosan di Bogor!”
“ok! Aku terima! Silahkan, aku bolehin kamu untuk pergi!”
Dengan berat Dendra mempersilahkannya pergi, Meti pun melangkah melewati dirinya. Dendra melihatnya ketika Meti melangkah pergi, namun Meti tak jua membalasnya. Ketika Dendra berbalik arah dan akan beranjak, Meti melihatnya dan tersedih hingga airmatanya jatuh.
Meti melampiaskan amarahnya saat mengendarai mobilnya sambil menangis, menyesali perkataannya. “Meti, lo begok banget jadi orang! Seharusnya lo bilang, kalau semua itu benar! Lo emang kangen sama Dendra!” Itulah kata kekesalannya dengan masih menangis. Tiba-tiba mobilnya terhenti, ketika bertanya, ternyata ada kecelakaan. Dirinya pun rela menunggu karna macet, dan cuek tentang siapa yang mengalami kecelakaan tersebut.

* * * * * *

Meti mulai serius dan fokus pada pekerjaannya, karna ia tidak mau mengecewakan papanya yang mengijinkannya untuk bekerja diperusahaannya. Berbagai tugas dikerjakan, dan yang didahulukannya adalah tugas paling penting. Usai sudah tugas yang ia kerjakan, lalu menyuruh office boy untuk mengantarkanya teh dan koran terbitan sekarang. Dengan setia dirinya menunggu, dan office boy itupun datang.
“excuseme….!” Sapa office boy itu dengan sopan.
“terima kasih yah! Korannya terbitan sekarang?”
“iya, bu! Bahkan, beritanya lebih heboh daripada kemarin!”
“heboh! Maksud kamu?”
“coba ibu baca dihalaman utama! Pasti ibu kaget dengan beritanya!” Meti pun menurutinya dan mendadak kaget.
“astagfirullah! Dendra!” Dengan kaget.
“ibu kenal sama korbannya?”
“iya, saya kenal! Tolong ijinkan saya ke papa! Saya harus cepat! Ok!”
Meti langsung pergi dan office boy itupun menjalankan amanahnya. Sedangkan Meti melaju dengan cepat dan mencari rumah sakit tersebut. Setibanya disana, ia berlari mencari ruangan Dendra, yaitu ICCU usai bertanya pada pendaftaran pasien. Sesampainya disana, ia melihat Arel sedang tersedih bersama tantenya. Ketika Arel melihatnya, Arel langsung menyapanya dengan dingin berdiri dari duduknya.
“kamu! Ada apa kamu kesini! Apa kamu ingin tunjukin, kalau kamu senang melihat dia menderita?” Meti menggeleng dengan mata berkaca-kaca. “omong kosong! Sekarang juga kamu pergi!” Katanya dengan emosi.
Kemudian dokter yang memeriksanya pun keluar dan memberi kabar buruk. Kalau Dendra, kakaknya akan mengalami tidur panjang kalau sampai besok pukul delapan pagi belum menyadarkan diri. Dari situ hatinya terasa hancur, juga tidak ikut masuk ketika melihat Arel dan tantenya masuk. Dan dirinya hanya bisa melihat Dendra dari jendela. “Dendra! Aku tau kamu pasti kuat! Kamu harus bangun! Kasihan family kamu yang mengharap kamu bangun!” Itulah kata jeritan hatinya yang tak tega melihatnya tertidur.
Keesokan harinya, Meti berusaha meminta ijin pada papanya, untuk pergi kerumah sakit. Tapi ijin tersebut tidak didapatkannya, karna ada jadwal rapat yang padat. Terpaksa ia menerimanya, dan bayangan tentang Dendra pun menghantuinya. Apalagi setiap kali ia melihat jam, menunggu respon Dendra dari jauh. Dirinya mrngirimkan sebuah bunga dengan merahasiakan identitasnya, dan kini menunggu kabarnya dari rumah sakit.
Waktu menunjukkan pukul delapan pas, dan dirinya pun deg deg an untuk mendengar keadaannya lewat suster yang akan menghubunginya. Tiba-tiba handponenya berdering, dengan yakin Meti pun mengangkatnya.
“halo…!”
“apa benar? Saya berbicara sama ibu Meti?”
“iya, saya sendiri! Ada kabar apa ya, sus?”
“kami disini mau memberitaukan, kalau pasien yang bernama Dendra sudah menunjukkan sebuah respon!”
“kalau boleh tau? Responnya berupa apa ya, sus?”
“responnya berupa perintah dari dokter! Lalu ia meresponnya dengan bahasa tubuh! Yaitu berupa tangan dan kakinya!”
“makasih yah sus, atas informasinya!”
Telponan itupun terputus, dan rasa bahagia itupun mewarnainya. Meti tersenyum bahagia dan bersemangat untuk menjalani rapat yang menyita waktunya beberapa jam.

* * * * * *
Diekolah, tampak Ega menjauhi Edo. Setiap melihat Edo, dirinya langsung pergi jauh-jauh sebelum kelihatan Edo, agar tidak ada rasa curiga terhadapnya. Berkali-kali Ega berhasil melakukannya, tapi kali ini tidak, karna kepergok berbicara dengan Arila. Ketika Edo akan menghampirinya, Ega langsung pergi meninggalkan Arila, padahal pembicaraannya belum selesai.
“Ega! Tunggu!” Katanya didepan Arila.
“percuma! Lo panggil juga dia nggakkan kesini!”
“yah, lo! Bukannya bantuin gue, malah salahin gue!”
“biarin aja! Siapa juga yang mau! Lo emang salah!”
Arila beranjak pergi usai berkata, sedangkan Edo mengikutinya dengan pelan demi mendapat penjelasannya perihal dengan maksud perkataannya tadi. Sementara Ega masih marah dan menyendiri diperpustakaan. Sedangkan Arila dipaksa Edo untuk bercerita tentang maksud pembicaraannya tadi.
“sekarang lo bilang sama gue! Apa maksud perkataan lo tadi?”
“oh, lo yakin mau tau?” Edo mengangguk. “Ega masih marah sama lo!”
“marah? Marah kenapa?”
“lo sering kepergok, ngasih bunga sama Arel! Tapi sayangnya lo nggak nyadar tentang semua itu!”
“ya, itukan, murni dari lo! Gue cuma numpang lewat aja!”
“emang sih! Tapi Ega tau nggak semua itu!” Edo menggeleng dengan malu. “itu salah lo! Seharusnya lo hati-hati! Terus lihat kiri-kanan, ada Ega nggak disekitar!”
“iya deh! Tomorrow, gue nggakkan kecolongan lagi! Tapi gue capek, harus bersandiwara sama Arel! Dosa gue udah banyak!”
“oh, tenang aja! Bentar lagi berakhir kok, permainannya!”
Edo pun merasa lega dan sedikit tenang, kemudian Arila meminta ijin untuk keluar sebentar, dan Edo pun mengijinkannya. Ketika berlari akan keruang kesehatan, tiba-tiba dirinya bertabrakan dengan seorang siswi.
“Arila!”
“Arel! Maaf!”
“Arila, kenapa muka kamu pucat? Kamu sakit!”
“oh, nggak kok! Paling-paling kecapean aja! Soalnya, baru saja selesai main basket!”
“main basket! Perasaan Edo doang yang main! Lo bohong sama gue?”
“nggak kok! Mungkin, aku udah selesai mainnya! Rel, gue cabut dulu yah!”
Ega pun langsung beranjak dengan berlari, sedangkan Arel menegurnya karna sapu tangannya jatuh, namun Arila tidak membalasnya. Arel pun mengambilnya lalu membawa sapu tangannya dan pergi menuju kelasnya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.
Setibanya diruang kesehatan, Arila langsung masuk ke wc, disitu dirinya batuk dan mengeluarkan darah. Arila merasa dirinya lemas, kemudian beranjak ketempat tidur untuk beristirahat, juga meminta bantuan pada petugas kesehatan untuk mengijikannya kekelas. Sedangkan Edo yang menunggunya, terkejut karna petugas kesehatan datang mengijinkan Arila yang terbaring lemah diruang kesehatan.

* * * * * *

Arila disibukkan sesuatu dirumahnya, ia sedari tadi mondar-mandir mencari sapu tangannya. Berbagai sudut rumah telah dicari, begitu pula dengan seisi kamarnya. Namun tak jua ditemukannya. Dan kini dirinya duduk dikasurnya dengan kembali memeriksa tasnya. Kemudian datang seorang wanita bertanya apa yang dicarinya.
“Arila! Kamu lagi ngapain sayang? Dari tadi mama perhatiin, sepertinya ada barang kamu yang hilang?” Katanya dengan lembut.
“iya, ma! Sapu tangan Arila nggak ada! Padahal, Arila udah cari kemana-mana!”
“yakin! Sapu tangan kamu hilang? Coba kamu cari lagi sayang!”
“oga, ah! Capek! Ma, Arila boleh tidur dipangkuan mama nggak!”
“anak mama udah ngantuk! Boleh, tapi harus tidur yah!”
Arila pun merebahkan tubuhnya dengan bahagia. Tak lama kemudian dirinya terlelap. Disaat dirinya terlelap, dengan sayang mamanya membelai rambutnya. Ketika teringat dengan penyakitnya, rasa haru itupun datang. “Arila sayang! Kamu tidur yang nyenyak yah! Mama yakin kamu pasti sembuh! Karna Arila mama, adalah Arila yang kuat!” Itulah kata haru yang keluar dari bibir manisnya diwarnai airmata.
Sementara Arel disana berada dirumah sakit menemani kakaknya yang mulai membaik, dan akan dipindahkan keruangan lain dari asalnya, ICCU. Usai menemani kakaknya, dirinya pun beranjak untuk kerumah Arila dengan maksud mengembalikan sapu tangannya, dengan memakai taksi. Sesampainya disana, Arel mengetuk pintu rumah Arila dan menunggu. Ternyata pintu itu dibuka sama orang yang tepat, Arila.
“hai, apa kabar!” Sapanya dengan ceria.
“eh, ada Arel, baik!”
“baru bangun tidur yah?”
“emang sih, baru bangun tidur! Untung aja Arila keburu bangun! Masuk yuk!”
Arel pun masuk menuruti perintahnya. Dengan setia Arel menunggu diruang tamu, dan akhirnya datang. Ternyata yang datang bukannya Arila melainkan mamanya.
“tante! Maaf, ngerepotin! Arilanya mana?” Dengan kaget dan duduk didekatnya.
“ini Arila!” Dengan membawa makanan.
“Arila, kamu nggak sopan! Seharusnya kamu yang bawa minuman! Bukannya mama kamu!” Arel menegurnya.
“nggak apa-apa kok! Tante yang menyuruhnya, soalnya terlalu banya! Oyah, apa kamu pacarnya Arila?” Arel tersedak dari minumnya.
“mama apa-apaan sih! ini temen Arila! Bukan pacar!” Arila mengelak.
“benar tante, Arel cuma temennya Arila! Arel datang kesini, mau mengembalikan sapu tangannya Arila!” Arel pun memeriksanya.
“serius! Lo nemuin sapu tangan gue dimana?”
“disekolah, waktu kita tabrakan! Arila, sapu tangan lo lupa dibawa!” Arila pun menarik nafas panjang. “Arila, maafin gue yah! Lo nggak marah kan?”
“kamu tenang saja! Arila nggakkan marah!”
“kalau nggak marah, kenapa ekspresinya seperti itu tante? Kan takut jadinya, serem….!”
Kemudian Arila beranjak pergi usai mendengar katanya, dan Arel kaget jadinya. Sedangkan mamanya tersenyum dengan membaca majalah, Arel pun terpaksa ikut senyum dengan meminum-minumannya.

* * * * * *

Disekolah, Arel bercanda ria sama Arila dengan sebuah gitar. Arila membawakan sebuah lagu “buka hatimu” yang dipopulerkan oleh armada. Dengan sabar Arila menyanyikannya dikantin bersama Arel yang setia mendengarnya. Arila membawakan lagu tersebut dari awal sampai reffnya saja.
“lagunya bagus banget sih! Apalagi kamu yang bawain, penuh penghayatan! Untuk siapa sih lagunya?” Arel memuji.
“for my love!” Dengan menunduk.
“siapa? Perasaan aku kamu nggak pernah curhat!”
“you!” Dengan menatapnya dan Arel sedikit kaget.
“kamu bisa aja, ditanya serius malah main-main!” Dengan memukulnya.
Arila kembali menunduk memainkan gitarnya dengan tersenyum, sedangkan Arel yang melihatnya tersenyum, terpesona dan jantungnya berdegug sangat kencang.
Waktu cepat berlalu, diwaktu pulang sekolah, Arel mencari-cari sobatnya itu, Ega yang sejak istirahat terpisah dengannya. Sedangkan Edo mengejar-ngejar Ega sampai kegerbang sekolah.
“Ega, tunggu!” Katanya dengan tegas dengan menarik tangannya. “gue mau bicara!” Dengan bentak.
“lepasin! Nggak ada yang perlu kita bicaraain!”Dengan berontak.
Ega memberontaknya dengan keras, hingga terlepas pegangan dari Edo. Ega pun mengambil langkah seribu untuk menghindarinya. Dengan cepat Edo mengejarnya tanpa memperdulikan siapapun. Bahkan, dirinya hampir tertabrak saat menyebrang menuju taman sekolah. Ketika Ega berusaha untuk lari sekencang mungkin, tiba-tiba saja Edo ada dihadapannya. Dan dirinya pun terdiam kaget.
“please, jangan buat gue penasaran! Lo jujur sama gue!”
“ok! Gue akan jujur! Gue, selama ini cemburu dengan kelakuan lo!”
“cemburu? Cemburu kenapa?”
“gue cemburu, karna perlakuan lo spesial sama Arel! Sedangkan dengan gue, lo biasa-biasa aja! Bahkan nggak ada perlakuan spesial seperti itu!”
“kenapa lo harus marah!? Bukannya lo tau, kalau gue sama Arel cuma temen!?”
“tapi itu kehancuran bagi gue! Karna gue suka sama lo, cinta sama lo!” Edo kaget.
“lo salah paham, Ga! Lo jangan pandang gue sebelah mata! Gue juga punya perasaan sama seperti lo!”
“kalau emang lo sayang sama gue! Kenapa lo sering banget ngasih bunga sama Arel?”
“bunga itu bukan dari gue! Tapi dari Arila! Semua barang yang gue kasih, semuanya murni dari Arila!”
Arel yang melihatnya sedari tadi dari kejauhan, menjadi sok dan tidak terima atas sandiwara yang dilakukan Arila dan Edo terhadap dirinya. Dirinya masih berdiri dan melihat Ega pergi lalu Edo mengejarnya. Disana dirinya terasa hancur, kemudian teringat kembali bayang-bayang saat Edo memberinya sebuah bunga dan boneka. “nggak mungkin semuanya dari Arila! Nggak mungkin banget!” Itulah katanya sesaat berjalan menuju pulang.

* * * * * *

Meti, usai bekerja, ia langsung pergi meluncur kerumah sakit. karna sudah tiga hari dirinya tidak menjenguk Dendra, melainkan menanyakannya dengan menghubungi salah satu suster dirumah sakit itu. Kini tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk mengetahuinya, seperti yang sering dilakukannya selama beberapa hari. Karna terlalu banyak jadwal dan tugas yang harus ia lakoni.
Setibanya dirumah sakit, Meti langsung pergi keruangan ICCU, ketika masuk, dirinya tidak melihat sosok Dendra. Lalu bertanya pada suster yang kebetulan lewat didepannya.
“suster, kalau boleh saya tau, pasien ICCU yang bernama Dendra kemana yah?”
“oh, pasiennya sudah dipindahkan keruangan Anggrek II, tepatnya disebelah keluarganya!”
“makasih ya sus, atas informasinya!”
“sama-sama mbak!”
Suster itupun pergi darinya, dengan cepat Meti mencari tempat itu dengan menggunakan jasa lift. Sesampainya disana, Meti melihatnya tidur dibalik jendela ruangannya. Bibirnya tersenyum, seolah-olah bahagia ketika menyaksikan pujaan hatinya membaik secara langsung. Dirinya tak punya nyali untuk masuk menemuinya terang-terangan, karna takut mengusik ketenangannya.
Ketika akan berbalik, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari dalam, Meti pun kembali berbalik kearah jendela. Ternyata Dendra yang memanggilnya dengan keadaan tak sadarkan diri. Melihat keadaan itu, Meti pun masuk tanpa ragu. Kini Meti ada disamping Dendra, sedangkan Dendra masih memanggil dirinya dengan masih tak sadarkan diri. Setelah tiga kali Dendra mengucapkannya, Meti pun membuka mulutnya.
“Dendra, aku disini! Buka mata kamu! Aku mohon!” Dendra pun membuka matanya lalu melihatnya.
“Meti! Dari kapan kamu disini?”
“aku dari tadi nungguin kamu! Dan aku bahagia, kar….?”
Tiba-tiba Dendra menutup matanya kembali, dan mendadak jantungnya lemah. Melihat keadaan itu, Meti langsung meminta pertolongan pada suster yang lewat. Dan menanyakannya pada dokter usai memeriksanya. Kata dokter, kejadian ini adalah awal dari kepulihan. Itu berarti, kalau Dendra telah menemukan kembali semangat hidupnya. Meski Meti tidak terlalu mengerti bahasanya, tapi dirinya bisa maklum.
Usai menanyakannya, Meti kembali keruangan dan duduk disampingnya. “alhamdulillah! Allah telah menghembuskan nafasnya untuk kamu! Terimakasih ya Allah!” Itulah kata syukurnya disamping Dendra yang masih tertidur. Arel yang tak sengaja mendengarnya sekaligus melihatnya dijendela, tersenyum haru dibuatnya.

* * * * * *

Disekolah, Arila tampak tak bersemangat. Ketika turun dari mobilnya, ia tak lagi berjalan bersama Arel, seperti yang sering dilakukannya ketika bertemu. Dan kini terpaksa harus berjalan sendiri lagi, karna permainannya sudah berakhir. Dan bayang-bayang apa yang diterimanya kemarin, kembali datang dipikirannya. Arila pun semakin lemas ketika duduk dikelasnya. Kemudian muncul pikiran-pikiran negatifnya.
Diwaktu istirahat, Arila bingung harus kemana. Dikantin, ia melihat Arel sedang bercanda bersama Ega, lalu memutuskan untuk pergi agar tidak mengusik candanya. Sedangkan Edo mencarinya kemana-mana, dan baru melihatnya ditiang sekolah. Disitu, Arila tampak berdiri bersandar ditiang sambil menonton anak-anak lain main basket. Tanpa ragu, Edo pun menepuknya hingga membuatnya terkejut cuma-cuma. .
“lo ngapain disini? Kekantin yuk!”
“oga, ah! Disini lebih enak!”
“ya udah! Gue tinggal kantin dulu ya!”
Edo langsung berlari kecil menuju kantin, tanpa ada curiga pada sikap Arila yang menolak ajakannya. Ditengah asyiknya menonton, kemudian Arila melihat Arel diarah kanannya. Arel berjalan menujunya, ketika melihat Arila didepannya, Arel langsung mundur kemudian berbalik arah menghindarinya. Dengan rela Arel memutarkan dirinya demi jauh-jauh dari Arila untuk sampai kekelasnya.
Usai sudah sekolah berlangsung, kini Arila ada ditaman sekolah, tepatnya di pinggir kolam. Disaatnya terduduk berdiam diri, tiba-tiba ada yang datang menemaninya diluar dugaan. Ternyata itu Edo, yang sama-sama duduk dengannya.
“Arila, curhat dong sama gue! Abisnya dari tadi sikap lo aneh! Sering melamun, udah gitu banyak diem! Padahal, lo bawel banget dikelas, hampir semuanya lo ajakin ngobrol!”
“Edo, permainannya udah berakhir! Dan cuma tiga hari, aku bertahan disekolah!” Dengan bahasa yang tak sanggup.
“Arila, jangan gitu dong! Siapa lagi tempat gue curhat kalau bukan lo, Ril! Lo tau nggak, gue jadian sama Ega?”
“wah, selamat yah! Kapan jadiannya?” Dengan sedikit ceria.
“tiga hari yang lalu! Ega bilang, kalau dia suka basket, karna ada gue! Terus, dia deket-deket sama lo, itu untuk deket sama gue!”
“ow, so sweet! Cute banget sih!”
“yaiyalah, Edo gitu….!” Dengan sombong.
Arila pun tertawa mendengar kesombongannya, tiba-tiba saja tawa itu terhenti. Arila yang mulanya tertawa, kini terdiam sambil memegang perutnya sebelah kanan. Tak lama kemudian Arila pun pingsan. Edo baru menyadarinya, karna sedari tadi sibuk melihat pemandangan lain. Dengan cepat Edo membawanya kerumahnya dengan bantuan taksi.
Setibanya disana, Edo tak tega melihat mamanya yang menangis akan keadaannya yang masih tertidur. Disana ditemukannya banyak bunga mawar dan sebuah boneka kecil tertempel didindingnya. Edo pun mengira, kalau Arel telah mengembalikan barang pemberiannya, setelah tau siapa yang memberinya, yaitu Arila lewat Edo. Dan sepucuk surat dari kekecewaan Arel kepada Arila, dan Edo sempat membacanya.

* * * * * *

Arila masih terbaring dikamarnya, dirinya berdiam atas sakit yang menggulungnya. Tiba-tiba saja dirinya kembali teringat pada kejadian beberapa waktu yang lalu. Bahkan masih jelas terlukis dimata yang memandangnya.

BeBeRaPa WaKtU yAnG lAlu….

Saat itu air datang secara berombongan, setiap detik rintikan air itu semakin ramai, suara-suara pun mulai bergema sekeras mungkin, dan cahaya mengerikan mulai berkedip beberapa kali. Karna cahaya mengerikan itu, adalah awal dari suara yang bergema dengan sekeras mungkin. Dan saat itu juga, Arel datang menghampiri Arila dengan masalah yang mendadak diterimanya, dengan diwarnai rintikan air itu.
Jemarinya menggumpal, lalu mengetuk pintu rumah tersebut dengan amarah yang mendalam. Beberapa kali mengetuknya, dan akhirnya terbuka. Ternyata target yang tepat membukanya, Arel pun mulai mengutarakan maksud kedatangannya. Dan dengan terkejut Arila melihatnya.
“apa kabar? Sorry, ganggu waktunya bentar!” Dengan mimik tak sedap.
“baik! Bicaranya didalem aja! Nggak baik lama-lama diluar, nanti bisa sakit!” Katanya dengan lembut.
“nggak perlu! Lo jangan sok-sok ramah! Gue udah tau semuanya!” Dengan dingin. Arila kaget.
“maksud kamu, apa!” Dengan gugup.
“selama ini, lo bersandiwarakan sama gue! Lo udah coba main api sama gue! Tapi sayangnya, lo nggak bisa padamkan api itu! Kenapa? Susah? Kasian banget!” Arel membongkar.
“jadi, lo udah tau semuanya?” Dengan berani.
“yah, gue udah tau! Denger yah, gue nggak suka nerima barang diwarnai dengan kebohongan! Dan gue nggak suka punya temen penghianat! Lebih baik lo pergi jauh-jauh dari gue! Gue udah kecewa, dan puas diboongin sama lo!”
Arila hanya berdiam menjadi pendengar ucapan caci makinya. Kemudian Arel menepuk tangannya tiga kali, lalu datanglah supirnya dengan sebuah kardus.
“gue baliin barang-barang lo! Dan gue harap, lo jangan panggil nama gue lagi!”
Arel pun berbalik arah dan pergi dengan mobilnya usai mempermalukannya. Sedangkan Arila tersedih, karna bunga-bunganya kini tinggal kenangan, terlepas dari pujaan hatinya, Arel yang berhasil menyita hatinya.
Usai sudah Arila mengingatnya, ketika berdiri didepan jendela kamarnya, tiba-tiba ada beberapa kupu-kupu menari dihadapannya. Seolah-olah kupu-kupu itu menghibur hatinya yang sedang galau karna dilema besar oleh pujaan hatinya, Arel. Namun dirinya bisa sabar dan terus mencintainya, hanya waktu yang mampu menjawab, kapan cinta itu bisa pergi dan sayang itu akan pudar.
Dengan semangat kupu-kupu itu menari dihadapannya, dan dirinya pun sedikit tersenyum. Kemudian teringat kembali olehnya pada kupu-kupu hidup yang berada ditangan Arel. Dan dirinya pun harap cemas pada kupu-kupu hidup itu. Dirinya bisa tenang, ketika mengetahui kalau Arel adalah sosok penyayang binatang.

* * * * * *

Seperti biasa, Arila kembali absent, dan Edo pun bisa mengertikannya. Edo hanya berdiam ketika sobatnya itu kembali absent. Tampak Edo selalu sendiri didalam kelas maupun diluar kelas. Namun Edo menjalani itu semua dengan santai penuh kesabaran. Makan sensdiri, main basket sendiri, dan kini berjalan sendiri disudut-sudut sekolah demi menghilangkan rasa kejenuhannya. Ega yang melihatnya, langsung beranjak menujunya usai berpisah dengan Arel.
“Edo! Kenapa sendiri lagi? Arila mana?”
“biasa! Sakitnya kumat lagi!” Katanya dengan lemas.
“ini gak bisa dibiarin! Arel harus tau! Gue gak ingin Arel salah paham!”
“gak usah! Ega, lo sayang kan sama gue?”
“gue sayang sama lo! Tapi Arel harus tau!”
“jangan Ga, gue mohon! Ini demi kebaikan kita, yah!”
“tapi….?” Edo memotongnya.
“gue ingin, Arel mengetahuinya sendiri! Tanpa bantuan siapapun! Ok!”
Ega terdiam juga kembali mangipas dirinya usai mendengar katanya barusan. Edo merasa lega karna Ega menyetujui rencananya. Sedangkan Arel sedang asyik menempel majalah terbaru dimading sekolah. Ega yang hampir menujunya, dihentikan sama Edo yang tak sengaja melihatnya. Dan Edo langsung membawanya pergi kesuatu tempat. Arel yang reflek melihatnya, merasa aneh dan beranjak dari tempat tersebut.
Diwaktu pulang sekolah, Arel berjalan sendiri ditaman. Setengah perjalanan, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Dirinya pun berbalik, dan ternyata Edo yang memanggilnya sekaligus menghampirinya.
“Edo, kirain siapa?” Dengan senyuman kecil.
“gue minta, lo benci gue juga!” Dengan dingin.
“maksud lo apa, gue nggak ngerti?” Arel pura-pura tidak tau.
“lo benci kan sama Arila! lo harus benci gue juga!”
“gue nggak ngerti sama lo!” Masih dengan sikapnya yang tadi.
Edo langsung menariknya dengan berlari lalu membawanya kesuatu tempat. Ternyata Edo membawanya kesebuah kolam diujung taman itu, kemudian Arel penasaran kenapa Edo membawanya kesana. Dan kini mereka berdiri dipinggir kolam tersebut.
“disini, Arila mengeluh sama gue! Dia bilang, dia hanya dapat bertahan tiga hari disekolah! Dan disini juga, dia menjatuhkan diri secara tiba-tiba! Apa lo tega, masih menganggapnya musuh!”
“I don’t care! Gue nggak peduli lagi sama dia! Masa bodoh lo mau bilang apa!?” Dengan santai.
“lo ingatkan dengan kupu-kupu itu! Yang dideteksi kalau bukan gue yang ngasih, tapi Arila! Sebelumnya itu jadi teka-teki, karna hanya tante kamu yang tau, dan dia nggak mau ngasih tau!”
“iya! Tapi apa hubungannya sama Arila?”
“gue cuma mau ngingetin! Kalau sampai tante kamu ngebuat teka-teki lagi, berarti ada kebenaran tersembunyi!” Dengan mata berkaca-kaca.
“lo ngapain juga berkaca-kaca! Perasaan gue nggak ada yang sedih!” Tegur Arel dengan emosi.
Edo hanya berdiam dan duduk dipinggir kolam itu, lalu teringat saat dirinya berbicara bersama Arila sekaligus terjatuhnya Arila tak sadarkan diri dipinggir kolam itu. Dirinya pun makin tersedih hingga meneteskan Airmata. Dan Arel yang mengintipnya, jadi penasaran karna melihat Edo mendadak nangis cengeng seperti itu..

* * * * * *

Arel yang baru turun dari kamarnya, beranjak pergi menuruni anak tangga dengan mengejek kakaknya yang berduaan dengan Meti. Arel bisa menerimanya, saat kejadian dirumah sakit beberapa waktu yang lalu. Dendra hanya tersenyum, sedangkan Meti sedikit malu sesaat diejek sama Arel. Kini Arel berada ditaman rumahnya, disiramnya satu-persatu bunga yang ada ditaman itu. Lalu berhenti ketika melihat kupu-kupu hidup itu.
Arel berjalan sesabar mungkin menghampiri kupu-kupu itu. Ditatapnya kupu-kupu itu dengan serius, lalu terasa sayap-sayap hati kupu-kupu itu tak secerah dulu. Bukan warna dan bentuknya, melainkan gerakan sayap indahnya. Tiba-tiba saja Arel teringat kalau kupu-kupu itu pemberian Arila, bukan Edo. Dengan tegas Arel mengusirnya, “pergi! Kamu pergi! Pergi!” Dan kupu-kupu itupun pergi dengan terpaksa. Kemudian ada yang menyambungnya dari belakang.
“percuma! Dia akan kembali lagi!” Arel berbalik. Orang itu menghampiri.
“aku nggak percaya dengan omongan Madam!”
“terserah kamu! Perlu kamu ketahui, kupu-kupu itu ada hubungannya sama Arila! Bukannya Arila, yang sebenarnya memberi kupu-kupu itu!?”
“Madam, please! Jangan sebut Arila lagi! Arel udah tersiksa! Arel gak mau makin tersiksa!”
“yang tersiksa bukannya kamu! Tapi perasaan kamu! Kamu nya aja yang nggak sadar! Makanya kamu benci sama Arila!”
“Madam, Arel udah bilang kalau Arel nggak suka sama Arila!” Dengan amarah dan suara yang nyaring.
Dengan cepat Arel berlari untuk menghindarinya. Meti dan Dendra pun dibuatnya kaget ketika lewat didepannya. Ketika Arel hendak kekamarnya, tiba-tiba terjatuh pada anak tangga kesepuluh hingga menyebabkannya tak sadarkan diri. Kini Arel ada dikamarnya, dan semua berkumpul dikamarnya, Dendra, Meti, juga Madam. Kemudian Arel mengigau yang tak jelas.
“Arel, sadar Arel!” Meti mencoba membangunkannya.
“biarkan Meti, dia hanya termakan sama perasaannya!”
“tapi Madam, kasian!” Dengan cemas.
“Madam, apa maksud perkataan Madam yang tadi?” Dendra dengan penasaran.
“Arel mempunyai perasaan yang tersembunyi! Arel tidak menyadarinya, tapi tersenyum ketika melihatnya!”
“maksudnya, Arel tersenyum, ketika melihat orang itu!” Meti mencoba menebak.
“tebakanmu bagus Meti! Itulah jawabannya!”
Ketika semuanya berdiam, tiba-tiba dikejutkan sesuatu, yaitu dengan hadirnya rombongan kupu-kupu bersayap hati. Semua terpana atas tariannya, dan berkumpul dijendela kamar Arel yang terbuka.
“kupu-kupunya mirip sama kupu-kupunya Arel!” Ujar Dendra dengan jujur.
“saya merasa, kupu-kupu itu semua melambangkan kerapuhan!”
Kupu-kupu itu masih menari, Meti takjub dan senang melihat tariannya yang indah. Sedangkan Dendra, masih melihat dengan curiga. Dan Madam masih menyelediki kupu-kupu tersebut, apa ada sangkutannya dengan kupu-kupu Arel yang pergi dengan terpaksa dilapisi kekecewaan.

* * * * * *

Arel kembali bersekolah, dilihatnya suasana sekolah, yang ramai namun sunyi terdengar. Mendadak Arila menghilang, setelah pertengkaran hebat terjadi, tepatnya dirumah Arila. sepi terasa dilapangan basket tanpa kehadirannya, dan kehadirannya yang sesaat, menimbulkan sebuah tanya padanya. Kini Arel merebahkan dirinya dibangku basket, tempatnya bercanda dulu bersama Arila.
Dirinya tidak memikirkan Arila, melainkan mimpi buruknya kemarin waktu tak sadarkan diri. Dialam tak sadarnya itu, Arel didatangi rombongan kupu-kupu hidup berbentuk hati beraneka warna. Mereka datang bukannya menghibur, melainkan memarahinya dengan bahasa yang tak dimengerti oleh akal manusia. Disana Arel menyaksikan kupu-kupu itu ribut, seolah-olah berlomba untuk memarahinya.
Kini Arel kembali berjalan memutari sekolah. Disana, Arel menemukan Edo bermesraan dengan Ega, yang bercanda ria. Kemudian teringat kembali saatnya bersama Arila dulu, saat Arila mendendangkan sebuah lagu dan mengeluarkan kata-kata yang mengejutkannya. “jadi, kata-kata itu benar adanya!” Itulah kata hatinya sesaat menyadarinya. Lalu Arel beranjak dengan berlari kesuatu tempat.
Ketika pelajaran berlangsung, tiba-tiba ada pemberitahuan perihal dilaksanakannya ujian sekolah tingkat SMA. “wah, bentar lagi gue akan cabut dari sekolah ini! Sayang banget!” Itulah kata hati Arel ketika mendengar pemberitahuan itu.

BeBeRaPa BuLaN kEmUdIaN….

Kelulusan tlah diraih para siswa-siswi SMA, dan kegembiraan itupun dirayakan secara berbeda-beda. Arel yang duduk santai dibangku lapangan basket, dikejar oleh kedua sahabatnya dari kejauhan. Arel yang masih terduduk memberi senyuman kepada mereka berdua.
“gue lulus!” Tegur Ega kegirangan.
“iya, gue tau!” Edo menyambung. Arel tersenyum.
“kebetulan kalian datang kesini! Ada yang mau gue tanya!”
“tanya apa?” Ega, Edo, dengan serentak.
“kenapa Arila masih terdaftar, bukannya dia udah cabut?” Ega kaget.
“itu karna, Arila ikut ujian susulan! Dia kan masih siswa sini, jadi wajar!” Dengan santai.
“jadi, sama aja dong belum cabut!?” Ega, Edo mengangguk.
Ega yang mulanya kaget dicampur tegang, kini bernafas lega. Sedangkan Arel merasa jelas, atas penjelasan yang diberi sama Edo. Ketika berdiam, Ega langsung mengajaknya untuk bermain pilox. Arel setuju, dan mulai memainkannya dibaju. Dengan gembira mereka bermain, hingga tak peduli kalau gerimis turun. Begitupula dengan siswa-siswi lainnya, yang rela menyatukan raga bersama gerimis itu.
Liburan panjang akan hadir, dan Arel lebih memilih untuk tetap di Jakarta tanpa harus ke Bogor, semua itu dilakukannya karna terlanjur cinta sama keluarganya. Begitupula dengan kedua sahabatnya itu, Edo dan Ega yang menetap di Jakarta.

* * * * * *

Disaat masih tertidur, tiba-tiba ada yang membangunkannya, “masuk….!” Itulah katanya. Dan ternyata yang masuk tantenya, “Madam, maaf….” Katanya ketika melihatnya dengan mata terbuka. “tiga puluh menit, kamu harus ada dibawah!” Mendengar perintahnya, Arel langsung bergegas usai tantenya pergi, Madam Sonya. Waktu tinggal lima menit, dan dirinya pun selesai.
Perlahan Arel menuruni anak tangga, dan duduk berhadapan dengan tantenya ditaman rumahnya.
“apa kabar? Kamu suka libur panjang?” Arel mangangguk dengan senyuman. “saya mau ngasih tau, bagaimana untuk membuka rahasia segampang mungkin!”
“boleh, Madam!” Dengan penasaran.
“kalau nanti kamu bertemu sama seuatu, dan sesuatu itu mencurigakan, atau menarik perhatian kamu, kamu ikuti saja!”
“tapi, Madam! Kan banyak yang menarik perhatian Arel?”
“tapi ini beda! Kamu akan tau setelah mendapat jawabannya!” Penuh keseriusan.
“iya, Madam! Arel tunggu jawabannya!”
“kok, Madam! Kamu sendiri dong yang cari! Ini adalah teka-teki kamu yang kesekian kalinya!”
Arel tersenyum malu, lalu teringat pada Edo, yang berbicara soal teka-teki dipinggir kolam beberapa waku yang lalu. Dan ternyata benar, Arel kembali mendapatkannya.
“terus, kapan teka-tekinya akan kebongkar?”
“yah, mana saya tau! Kamu adalah kuncinya!” Dengan jelas.
“Madam, please! Arel bukan kuncinya!” Tantenya membuang muka. “mendingan Arel kekamar, Madam pelit!”
Arel langsung beranjak menaiki anak tangga dengan semanja mungkin. Dan kini duduk dikasurnya beralaskan kekesalan. Kemudian dibukanya laci meja disampingnya, ketika diperiksa, ternyata ada sebuah sapu tangan. Lalu teringat kembali olehnya saat menemukan sapu tangan itu. Ternyata sapu tangan itu milik Arila, dan terjatuh saat Arila pergi darinya dengan buru-buru.
“Arel!” Tantenya dengan membuka pintu.
“Madam, Madam berubah pikiran yah?” Dengan senyum. Masih memegang sapu tangan itu.
“siapa yang berubah pikiran! Saya mau bilang, kalau saya mau pergi! Kamu mau ikut tidak?”
“gak usah Madam! Arel masih betah dirumah!”
“ya sudah kalau gitu!” Dengan menutupnya kembali.
Arel kegirangan karna tantenya pergi, “merdeka….” Katanya dengan gembira. Kemudian Arel kembali melihat sapu tangan yang dipegangnya. Dirinya penasaran lalu memeriksanya. Ketika diperiksa dengan dibongkarnya lipatannya, terus dibolak-balik, tiba-tiba yang tadinya tenang kini jadi terkejut. Karna melihat noda darah kering yang sudah berwarna coklat. “darah, nggak mungkin?” Itulah kata kekagetannya.
Bayang-bayang itupun hadir lagi. Yaitu saat dirinya menanyai perihal muka Arila yang pucat dilapangan basket, dan tiba-tiba Ega memotongnya dengan kata-kata yang membuatnya bertanya-tanya. Juga saat sebelum sapu tangan itu terjatuh, dirinya sempat berbicara sama Arila yang pucat bergegas untuk pergi keruang kesehatan. Dan saat masih suasana bertengkar, Arel sering melihat Arila dengan muka yang pucat secara tak sengaja dengan jarak jauh.

* * * * * *

Arel pergi kerumah sakit untuk jenguk papanya yang sudah membaik. Ketika memasuki pintu masuk, tiba-tiba muncul sebuah kupu-kupu hidup miliknya. “kupu-kupu hidup itu punya gue! Ngapain main kesini” Itu kata hatinya ketika melihatnya. Kupu-kupu itu mulai beranjak masuk kedalam, Arel pun mengikutinya dengan rasa penasaran. Kemudian kupu-kupu itu berhenti dijendela tepatnya disebuah ruangan.
Kini Arel berada tepat dipintu ruangan tersebut, lalu beranjak kejendela menghampiri kupu-kupu hidup itu. Disana Arel terdiam lalu menoleh kejendela itu. Tiba-tiba saja terkejut, karna melihat Arila diruangan itu sedang beristiharat. Sedangkan kupu-kupu itu hinggap dibahunya. “Arila….?” Kata kagetnya. Tiba-tiba teringat kembali dipikirannya tentang sapu tangan berdarah milik Arila yang belum sempat dibalikannya.
Arel langsung beranjak, tanpa permisi dulu kepada Arila yang menantinya. Kini Arel duduk tenang diruangan papanya, dirinya tampak sedih atas penglihatannya tadi. “jangan-jangan, ini ada hubungannya sama sapu tangan berdarah! Milik Arila!” Itulah katanya dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba ada yang menegurnya dari pintu, “Arel….” Arel menoleh.
“kakak!” Katanya dengan lemas.
“kamu kenapa? Apa ada masalah?”
“nggak! Arel pulang dulu ya, kak! Nggak enak badan!”
Arel pun beranjak keluar, sedangkan Dendra bingung melihatnya. Disana, Arel meminta Edo untuk datang kekolam ditaman sekolahnya yang dulu. Arel pun menantinya dengan duduk manis dipinggir kolam.
“Arel! Maaf yah telat!” Sapanya dengan ramah.
“nggak apa-apa kok, paling beda berapa menit! Gue boleh bercerita?”
“boleh! Cerita apa?”
“kalau gue, dapet teka-teki lagi dari Madam! Dan sekarang, gue udah tau jawabannya!”
“jawabannya apa?” Arel tersenyum manja.
“maaf, ini hanya untuk aku pribadi! Jadi, orang lain gak boleh tau!”
“iya, iya, gue terima! Tos dulu dong!” Mereka bertos.
Usai berbicara ditaman, kemudian mereka berdua beranjak kesebuah mal. Disana mereka bermain dengan gembira mungkin.
“seru ya mainnya! Ingat waktu kecil dulu!” Dengan gembira.
“yaiyalah!”
Tiba-tiba Arel teringat pada masa kecilnya yang kelam, yaitu peristiwa kebakaran yang hebat menimpanya. Arel pun terdiam sejenak, karna masih terbayang dipikirannya.
“Rel, kenapa?” Arel kaget.
“aku bosen main terus! Makan yuk, laper!”
“oke deh! Yuk!” Arel tersenyum.
Mereka pun pergi dengan bergandengan tangan, dan berjalan sesantai mungkin. Setibanya disana, mereka makan dengan lahap penuh suka cita. Dan bayangan itupun menghilang dengan sekejap mata.

* * * * * *

DuA HaRi KeMuDiAn….

Arel masih terbaring dikamarnya, bukannya tidur melainkan memerhatikan sapu tangan yang dipegangnya. Dirinya bertanya-tanya, apa ada hubungannya atau bukan dengan sakitnya Arila? kemudian kembali terbangun, ketika melihat tantenya masuk menghampirinya.
“Arel, kok lemes? Ada apa?”
“apa Arel harus bercerita?”
“kok balik nanya? Terserah kamu, mau berbagi atau nggak!”
“Madam, dua hari yang lalu, Arel melihat Arila dirumah sakit!” Katanya dengan lemas.
“dua hari yang lalu, bukannya kamu pergi untuk jenguk papa kamu dirumah sakit?”
“iya, aku jenguk papa! Ketika Arel masuk, tiba-tiba ada kupu-kupu hidup Arel! Ketika Arel ikutin, kupu-kupu itu berhenti disebuah ruangan!” Arel terbuka.
“terus, disana ada Arila?”
“iya, Madam!” Dengan gugup.
“tunggu apa lagi! Buruan kamu susul, sebelum terlambat!”
“susul….?” Katanya dengan kaget bertanya-tanya.
Kemudian Madam, tantenya mengambil tangan kanannya, “kamu harus kejar Arila! Demi perasaan tersembunyi yang kamu miliki!” Tantenya memberi senyuman, Arel tersentuh, kemudian langsung beranjak untuk pergi menyusul Arila. Dan kini Arel melaju dengan mobil kesayanganya.
Setibanya dirumah sakit, Arel langsung bergegas dengan berlari usai memakirkan mobilnya. Ia berlari dengan terbayang perkataan tantenya yang tadi, saat menyuruhnya untuk menyusul Arila dengan secepatnya. Sesampinya diruangan, Arel langsung membuka pintunya, tiba-tiba dirinya kaget, karna tidak ada Arila diruangan itu. Dan kembali menutupnya dengan penyesalan.
Kemudian kupu-kupu hidup itu muncul kembali dihadapannya, Arel pun terpana, dan langsung mengikutinya. Kemudian menghilang ketika Arel menunduk membetulkan tali sepatunya yang lepas. Ketika Arel mulai menyadarinya, dirinya pun bergegas pulang. Dengan lemas jemarinya membuka pintu rumah, ketika melewati dua langakah, tiba-tiba ada tantenya disampingnya. “Arel….” Teguran untuknya. Masih berdiri tanpa berbalik.
“Arel, Arel gagal, Madam!” Katanya dengan lemas.
“maksud kamu gagal menyusulnya?” Arel mengangguk.
“iya, dan sekarang, Arila udah pergi!” Dengan pandangan lurus kedepan. Mata berkaca-kaca.
“kamu masih punya banyak waktu! Kejar dia sampai dapat!” Arel kembali menunduk lalu meneteskan air mata.
“Arel capek!” Kata keluhannya.
Tiba-tiba Arel yang lemas terjatuh diarah tantenya. Dengan terkejut tantenya menangkapnya dengan lembut, dan memanggil Dendra untuk membantunya. Dendra pun membawanya kekamar lalu membaringkannya.
“Madam, sebenarnya ada apa?”
“adik kamu mulai menyadari, perasaan yang tersimpan didihatinya!”
“maksud Madam, perasaan tersembunyi itu?”
“tepat sekali!” Dengan dingin.
Arel masih tertidur, sedangkan Dendra dan tantenya beranjak dari dirinya yang masih tertidur. Dibawah alam sadarnya, ia kembali terbayang-bayang pertengkarannya bersama Arila dulu, disekolah maupun dirumah Arila yang merupakan pertengkaran terakhir.

* * * * * *

Arila yang berada dikolam renangnya, mengaku menahan kerinduannya yang begitu menyakitinya. Ia masih termenung menatapi birunya air kolam, di air itu terbayang pertengkarannya bersama Arel disekolah, juga disambung saat bercanda bersamanya disekolah. Makin tersedih, karna semua itu tidak akan kembali, melainkan sirna begitu saja. “Arel, kamu lagi apa sekarang? Apa kamu juga mereindukan aku?” Itulah tanyanya saat tersedih.
Arila mulai beranjak dari kolam renangnya, selangkah demi selangkah ia tekuni, dan tiba-tiba saja terjatuh tak sadarkan diri saat akan melewati pintu masuk. Mamanya yang baru saja datang dari belanjanya, mendadak panik ketika melihat buah hatinya tak berdaya dilantai. Dengan bantuan beberapa pembantunya, Arila pun berhasil ditidurkan dikursi ruang tamu. Mamanya pun masih setia menunggunya untuk membuka mata.
Was-was, takut, gelisah, itulah yang dirasakan mamanya, ketika menunggu detik-detik kesadarannya. Arila yang terlihat pucat tak berdaya, tlah membuka matanya kembali. Dilihatnya raut wajah mamanya yang sedih, dan juga matanya yang berkaca-kaca.
“ma, perut Arila sakit!” Keluhannya dengan lemas.
“iya, mama ngerti apa yang dirasakan Arila! Mama yakin, Arila pasti sembuh!” Dengan menghibur.
“ma, mama nggak benci kan sama Arel?”
“nggak! Mama nggak benci, sayang! Mama tau, Arel salah paham aja sama kamu!”
“makasih ya, ma! Arila seneng banget!”
Arila tersenyum manja, lalu memeluk mamanya seakan-akan membagi kesedihannya yang diterimanya. Sementara Arel disana menjemput papa kesayangannya untuk pulang kerumahnya. Dan kebahagiaan pun mulai menyelimutinya lagi.
“papa, akhirnya pulang juga! Arel seneng……banget!” Kata gembiranya.
“mas, ternyata putri mas yang manja ini, sudah tau pacaran!”
“iya, pa! Dendra aja kalah!” Dendra menyambung.
“nggak pa, mereka bohong! Kak Dendra tuh yang pacaran!”
“wajar dong! Kakak kan udah dewasa! Bukannya kamu yang masih bocah ingusan!” Dendra kembali mengejek.
“sudah, sudah jangan ribut! Kasihan papa kalian baru datang! Dendra, kamu pijitin papa kamu! Dan kamu Arel, bantu mbok didapur! Mumpung kamu liburan!”
“Arel boleh jalan nggak Madam? Seperti yang Madam bilang, mumpung lagi liburan!”
“kamu jangan coba-coba rayu saya! Mendingan sekarang kamu beranjak kedapur! Buruan!” Dengan tegas.
Dendra yang memijiti papanya, tersenyum melihat perlakuan Arel. Arel pun terpaksa kedapur, karna tidak diberi ijin untuk jalan-jalan dimusim liburan. Sedangkan tantenya masih duduk dengan membaca majalahnya.

* * * * * *

Menjelang hari pernikahannya, Dendra bukannya senang, melainkan tersedih berdiam diri ditaman rumahnya. Dirinya sungguh tak menyangka, sebuah keputusan yang tidak mengijinkannya untuk berbuat hal yang mulia. Tiba-tiba datang seorang yang akan menghiburnya. Dia adalah calon pengantinnya, Meti.
“Dendra, kamu kenapa?” Tanya kagetnya.
“Arila, aku nggak bisa bantu Arila! Aku nggak bisa memberi harapan untuknya!” Kata keluhannya.
“Dendra, Arila nggak tau kalau kita membututinya dirumah sakit! Dia aja nggak tau, kalau kita sembunyi-sembunyi untuk datang menanyakan keadaannya, dengan bantuan dokter yang menanganinya!”
“tapi ini beda! Sekarang sakitnya mulai kronis, dan sebentar lagi, Arila akan tamat hidupnya!”
“iya, aku tau! Andai kita nggak berjumpa sama Arila di UGD, pasti semuanya baik-baik aja!”
“bagi aku, mau berjumpa atau nggak semuanya sama!”
“kenapa? Apa ada yang spesial?” Dendra menggeleng.
“aku udah berhutang budi sama Arila! Apa kamu ingat, saat kamu menculik Arel?” Meti mengangguk.“disana aku melihat ketulusan Dendra, cara dia menyelamatkan Arel! Aku terharu banget, adik aku diselamatkan sama Arila yang hampir rapuh!” Meti tersentuh. Dendra berkaca-kaca.
Tiba-tiba bayangan tragedi penculikan yang dibuatnya itu kembali diingatnya. Meti pun mengaku sama pemikirannya dengan Dendra, perihal Arila yang berani mengambil tindakan demi menyelamatkan Arel dari bodigat-bodigat yang menyeramkan. Lain pula dengan Arel yang diminta untuk pergi kelapangan basket mantan SMA nya, oleh Edo yang menghubunginya.
Sesampainya disana, Arel melihat Edo menunggunya dibangku basket, tepatnya dibawah pohon rindang yang amat sejuk. Disana, Edo menunjukkan dua benda berarti dua pilihan ditangannya kepada Arel. Sedangkan Arel kaget ketika melihat dua benda tersebut.
“aku punya dua benda! Kamu taukan, apa yang aku tunjukkan!”
“tau! Kupu-kupu sama hati kecil!” Jawabnya dengan polos.
“kalau kamu pilih kupu-kupu, berarti kamu menginginkan kupu-kupu ini yang mengisi hari-hari kamu! Kalau hati kecil, berarti kamu memilih Arila untuk mengisinya, dibanding kupu-kupu ini! Dalam lima menit, kamu harus bisa memilihnya!” Arel terdiam lalu memikirkannya.
“aku terlanjur suka sama kupu-kupu itu, dia hewannya menarik, juga mengagumkan! Aku suka banget lihat hati kecil itu, tapi aku ngganggap Arila hanya seorang teman!” Pengakuannya dengan sedikit kebohongan.
“terus, sekarang kamu memilih yang mana? Apa keputusan kamu?”
“maaf, aku nggak bisa memutuskan apa-apa! Karna aku suka dua-duanya! Tapi, aku nggak suka dengan maksudnya! Karna terlalu mengusik kedamaian hidup aku!”
Usai berkata, Arel melangkah mundur dua langkah, “i’m sorry….” Usai berkata yang terakhir, Arel langsung membalikkan diri lalu beranjak dari Edo yang masih berdiri melihatnya dan juga masih memegang kedua benda tersebut.

* * * * * *

Ega, Edo, berkumpul dirumah Arila, tepatnya dikolam renang. Mereka berdua mengaku kangen bermain-main dengannya setelah sekian hari tidak dapat bercanda karna liburan sekolah. Arila pun mulai mengejek Edo yang ada disampingnya tepat dihadapannya.
“ok, kita mulai konferensi meja bundarnya! Saudara Arila, anda mewakili Negara mana?”
“Indonesia pastinya!” Edo tertawa.
“Edo, gimana hubungan kamu sama Ega? Langgeng?”
“hus, jangan keras-keras! Nanti dia tau!” Dengan pelan. “muupung orangnya didapur, gue mau cerita kegalakannya!” Edo pun menceritakannya dengan berbisik ketelinga Arila, sedangkan Ega bercerita sesuatu kepada mama Arila didapur.
“tante, Arila itu orangnya dingin yah?”
“sebenarnya dia bukan dingin! Tapi malas bicara!”
“emang tante, waktu Ega belum akrab sama Arila, susah banget denger kata halusnya! Pokoknya super cuek!” Ega dengan jujur. Tantenya tersenyum.
Usai berkata Ega pun mulai membantunya, setelah sedari tadi ngoceh melulu. Ketika akan beranjak kekolam, tiba-tiba saja mendengar sesuatu yang mengagetkannya. Ega pun langsung berlari dan duduk dihadapannya.
“apa lo bilang? Lo mau pergi?” Dengan bentakan.
“iya Arila mau pergi, katanya sih mau lanjutin school disana!” Edo menyambung.
“gila lo! Lo tega ninggalin Arel disini?”
“Ega, Arel nggak care lagi sama gue! Gue nyesel banget udah lakuin itu semua!”
“tapi nggak berarti lo harus ngejual perasaan lo sendiri!”
“maksud lo apa sih?” Edo bertanya. Arila terpana.
“maksud gue, Arila menjualnya dengan wanita lain! Bisa aja kan Arila menjual perasannya buat Arel dengan wanita lain! Padahal perasaannya nggak nyambung, tapi dipaksain! Sama aja nyiksa batin lo sendiri! Mendingan cabut niat lo dari sekarang!” Ega menjelaskan.
“ogah, ah! Gue tetep dengan keputusan gue!”
“serius lo! Apa lo nggak tersentuh dengan omongan Ega?” Edo mengingatkan.
“gue tersentuh, tapi gue udah terlanjur tersiksa sama rasa gue sendiri!”
“terus, apa tujuan lo school disana?” Edo kembali bertanya.
“gue hanya ingin jauh-jauh dari Arel! Gue nggak mau ngeliat wajahnya lagi!”
“Arila, lo sebentar lagi rapuh! Lo pasti punya keinginan kan!” Ega mengingatkan.
“lupain, Ga! Gue nggak mau bahas soal itu lagi! Yang gue pikirin, gue akan bahagia sampai Tuhan menjemput gue!”
Ega kembali mengipas dirinya dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Edo terdiam lalu menunduk. Mereka berdua terharu atas penuturannya, dan tidak mengira kalau Arila berkata seperti itu.
“indah banget masa-masa SMA dulu! Gue ingin pulang!” Ega dengan airmata.
“seru yah, waktu kita canda-canda bersama! Bertengkar….?” Saambung Edo. Arila memotong.
“tapi sayang, waktu nggak bisa diputar lagi! Dan bentar lagi, waktu akan jadikan gue in memoriam!” Arila menyambung.
“lo ngomong apa sih, Ril? Please, kita nggak suka dengernya!” Ega mewakili.
Edo memalingkan pandangannya ketempat lain, sedangkan Ega masih meneteskan airmata, dan Arila masih berdiam tanpa suara.

* * * * * *

Arel masih berdiam dikamarnya, tanpa memberanikan diri untuk keluar dari pintu kamarnya. Kediamannya yang mendadak, menimbulkan tanya pada seisi rumah. Namun Arel tidak memperdulikannya, yang penting dirinya dapat merenungkan apa yang didapatkannya selama hidupnya berlangsung. Dengan lemas Arel duduk dikasurnya, lalu menangisi kesalah pahaman yang sudah lama menjerat dirinya.
Disaat masih tersedih, tiba-tiba ada yang menunjukkan bunga dihadapannya. Ternyata Dendra yang menunjukkannya, dan Arel pun menerimanya.
“darimana kakak dapat bunga ini?” Pertanyaannya dengan kaget. “bukannya bunga ini sudah ada ditangan Arila?”
“siapa bilang? Selama ini bunga itu ada ditangan kakak!”
“pasti Arila mengembalikan bunga ini buat Arel lewat kakak? Iya kan kak?” Arel menerka.
“nggak, semua itu nggak benar! Waktu itu, kakak malihat kamu membereskan semua bunga kesebuah kardus! Ketika kamu meninggalkannya sebentar, kakak langsung mengambil tindakan….?” Arel memotong.
“terus kakak mencurinya dari Arel!”
“Arel, segenggam bunga mawar ini, adalah tanda ketulusan Arila! Percaya sama kakak!”
Arel pun tersentuh lalu memeluk segenggam bunga mawar itu. Sedangkan Dendra terharu karna melihat Arel yang mulai menyadarinya.

TiGa HaRi KeMuDiAn….

Ada kabar bahagia dikehidupan Arila, kabar itu ia peroleh dari dokter yang menanganinya juga pihak rumah sakit. Kabar makin tersiar, ketika kedua sahabatnya tau, yaitu Ega dan Edo. Dengan rasa senang, mereka berdua pun pergi kerumah Arila untuk memberi selamat. Dan kini mereka bertiga berkumpul diruang tamu, disusul dengan mamanya yang ikut serta.
“makasih yah, kalian mau datang!”
“nggak apa-apa kok tante! Kita semua bersyukur banget!” Ucap Ega bahagia.
“akhirnya, Arila bisa sembuh juga! Jadi nggak sabar nih!” Sambung Edo.
“ma, Arila boleh tau nggak, siapa dermawan yang berkorban untuk Arila!”
“itulah masalahnya! Dokter belum bisa memberi tau!” Katanya dengan lembut.
“Arila, nanti kamu tau kok siapa dermawan itu!” Ega menasehati.
“betul, betul, betul! Yang penting, sekarang kamu semangat, ok!” Edo kembali menyambung.
Arila tersenyum bahagia, begitupula dengan Edo, Ega, dan tak lupa dengan mama kesayangannya. Suasana makin bahagia, ketika satu-persatu canda dihadirkan.

* * * * * *

Hari ini adalah hari bersejarah bagi Arila. Karna hari ini akan terjadi dua peristiwa, yaitu hari ulang tahun Arel dan juga dirinya berjuang melawan maut. Menjelang detik-detik menegangkan, masih terlukis jelas bayang-bayang Arel dikhayalnya. Dan kini mulai memasuki sebuah kamar bedah, atau biasa disebut dengan kamar oprasi.
Kemudian Arila melihat dermawan tersebut disampingnya, tapi sayang, dermawan tersebut ditutup pakai selimut dari muka sampai kaki. Entah apa alasannya hingga dokter menutupnya. Selang beberapa menit, Arila pun tak sadarkan diri atas reaksi obat bius yang diterimanya. Dengan segera dokter menanganinya dan memperlakukan Arila dengan layak.
Dengan setia mama kesayangannya ditemani dengan Ega juga Edo yang menunggunya diluar. Dan mereka berlomba-lomba untuk memanjatkan doa untuknya disana.

DuA jAm KeMuDiAn….

Dua jam kemudian, Arila mulai dikeluarkan dari kamar bedahnya, lalu dibawa keruang ICCU untuk penangannya lebih lanjut. Mamanya yang setia menunggu dirinya keluar, merasa lega juga tenang, begitupula dengan kedua temannya, Ega juga Edo. Kini Arila masih terbaring dan belum membuka matanya kembali. Bagaimana keadaan sang dermawan disana, apa dalam keadaan stabil or kritis.
Mamanya yang penasaran, langsung mengunjungi dokter yang menanganinya. Diruangan dokter, bukannya bertanya perihal buah hatinya, melainkan sang dermawan.
“dok, saya ingin bertanya sesuatu!” Katanya dengan ramah.
“oh, Arila baik-baik saja! Fisiknya cukup kuat!”
“bukan itu dok! Maksud saya, saya ingin mengetahui keadaan sang dermawan yang telah menyelamatkan anak saya!”
“sang dermawan yang telah menolong anak ibu, keadaannya sudah stabil! Meski sempat ada kendala kekurangan darah saat dibedah dua jam yang lalu!”
“siapa nama orang itu dok!”
“maaf, bu! Saya tidak bisa mengutarakannya!”
“tapi dok, saya mohon demi anak saya!”
“sekali lagi maaf! Ini permintaan dari sang dermawan yang menolong anak ibu!”
Sementara Arila disana mulai membuka matanya, dilihatnya Ega yang berada disampingnya dengan sebuah senyuman.
“Ega, tolong ucapin sama Arel, selamat ulang tahun dari aku! Karna hari ini, adalah hari ulang tahunnya!” Dengan lemah.
“iya, aku tau! Arel Dendrasia hari ini ulang tahun!”
Arila tersenyum setelah mendengarnya, Edo yang melihatnya dijendela terharu dibuatnya.

* * * * * *

Disana, tersiar kabar mengejutkan yang terlambat diketahuinya, yaitu Dendra yang baru mengetahui perihal adik kesayangannya, Arel. Dendra yang sibuk dengan pekerjaannya dikantor, tidak menimbulkan curiga terhadap Arel yang dari kemarin tidak ada dirumahnya. Dan yang tau hanyalah tantenya, dan yang memberi ijin juga tantenya. Setelah mengetahuinya secara langsung dari tantenya, Dendra langsung bergegas pergi dengan tunangannya, Meti.
Setibanya dirumah sakit, Meti meminta ijin untuk ketoilet sebentar, lalu mereka terpisah. Sesampainya disana, Dendra menjumpai Arel yang sudah sehat tersenyum akan kedatangannya.
“kakak!” Katanya masih lemah.
“Arel, kenapa kamu nggak bilang sama kakak? Kalau kamu lakuin ini?” Dengan cemas.
“kalau Arel bilang, kakak nggakkan ngijinin!”
“darimana kamu tau kalau Arila butuh ginjal?”
“aku nggak sengaja mendengar kakak bicara tentang Arila sama mbak Meti! Arel sengaja pura-pura nggak tau, agar kakak nggak curiga!”
Sementara Meti yang dari toilet bertabrakan dengan seorang wanita yang tak dikenalnya. Kemudian wanita itu menanyakan sesuatu padanya.
“kamu Meti kan, tunangannya Dendra?” Tanyanya dengan tegas.
“iya, saya Meti! Maaf, anda siapa yah?”
“oyah, saya Ega temannya Arel! Tolong kasih barang ini sama Arel! Dan ucapan selamat ulang tahun dari Arila dan kawan-kawan! Thank’s!” Langsung pergi.
Begitu Meti akan memanggilnya, Ega langsung berlari menaiki lift. Tanpa pikir panjang, Meti pun pergi dengan membawa barang yang diterimanya menuju ruangan Arel. Sedangkan Ega disana terbuka saat tiba diruangan Arila yang masih di ICCU.
“lo nggak nanyak, kenapa Meti ada dirumah sakit?” Edo terkejut.
“ya ampun gue lupa! Apa gue balik lagi ya, kesana?”
“nggak usah! Orangnya pasti udah jauh!” Edo mengingatkan.
Sementara Arel yang asyik bercanda sama Dendra, kakaknya dikejutkan dengan kehadiran Meti yang membawa kado berwarna merah jambu.
“mbak, kok sampainya beda?” Sapanya dengan sopan.
“nggak kok, tadi mbak ketoilet, makanya baru sampai! Oyah, nih ada bungkusan spesial buat kamu! Katanya sih, happy birthday!”
“kado, dari siapa?” Tanyanya dengan kaget, penasaran.
“dari orang yang kamu tolong, Arila!” Arel terdiam menatapi kado tersebut.
“ternyata Arila masih ingat sama ultah kamu! Bagaimana dengan ketulusannya, pasti lebih dahsyat!”
“Arel Arila, cocok untuk nama keturunan!” Meti mengejek.
“untuk keturunan Arel, apa keturunan mbak?”
“ya untuk Arel dong! Arel Arila kan nama papa mamanya!” Dendra mengejek.
“ye, nggak usah buru-buru! Ngomongin keturunan sekarang! Capek deh!” Arel membalas dengan ceria.
Meti langsung tertawa mendengarnya, sedangkan Dendra hanya tersenyum melihatnya. Dan Arel bersyukur karna kebahagiaan yang didapatnya datang secara mengejutkan juga memuaskan.

* * * * * *

Masih bercerita tentang kehidupan Arila, yang masih bertanya-tanya perihal tentang dermawan yang rela berkorban untuknya. Bermacam usaha ia lakukan, tapi tak satupun yang membuahkan hasil. Tanya itupun masih ada sampai dirinya kini berada dirumah kembali. Makin hari dirinya makin membaik, begitupula aktivitasnya yang masih terbatas membuat kejenuhan baginya.
Sekilas terbayang-bayangan semasa SMA nya dulu, saat semua rasa berkumpul menjadi satu. Dengan kesembuhannya secara misterius, Arila tetap berpegang teguh pada keputusannya, kalau dirinya akan bersekolah di luar Jakarta. Melihat jarum jam yang terus berputar, mengingatkannya pada sosok dermawan yang ada disampingnya saat akan dimulainya pencakokkan.
Arel yang terkenal judes pada Arila, diam-diam bisa menangisi kenangannya diwaktu SMA, bila teringat kembali olehnya. Sedangkan Arila yang dulu dingin padanya, kini dengan setia menunggu kejujuran darinya, Arel yang tlah lama dikaguminya. Semua itu berawal dari rasa sukanya, terutama parasnya yang polos, dan tingkah lakunya yang manja juga cerdas yang dimilikinya.
Selang waktu berjalan, rasa ketertarikan itupun semakin besar, ditambah lagi dengan perjumpaannya yang diawali dengan kedinginan. Sebenarnya Arila bukanlah tipe orang yang dingin, melainkan orang yang asyik. Dingin, itulah kata orang yang tak mengenalnya dan yang tak dikenalnya. Asyik, itulah kata orang yang mangenalnya dan yang dikenalnya. Meski dirinya tak banyak komentar juga berbicara seperlunya saja.
Dan kini Arila harus menerima kenyataan kalau dirinya sedang dilema besar. Meski Arila sudah menyadarinya, dirinya tetap percaya kalau perasaannya bukanlah perasaan biasa. Apalagi perasaan yang dipunyainya, dilambangkannya dengan kupu-kupu hidup, barang persembahan pertama buat Arel dengan bantuan Edo. Meski ujungnya menimbulkan permasalahan yang hebat juga belum tuntas sampai kini.
Sementara Arel disana merasa bahagia dicampur gelisah. Dirinya bahagia, karna hari pernikahan kakaknya sebentar lagi. Dirinya gelisah, karna Ega tidak mengangkat telponnya ketika dihubungi beberapa kali. Timbullah kecemasan yang dalam, dan tiba-tiba kupu-kupu hidup itu kembali lagi. Dengan tenang kupu-kupu hidup itu berdiam ditempatnya semula, dengan pesona tampilannya yang baru.
Arel disana masih belum menyadarinya, sedangkan Arila disini bermimpi akan kedatangannya kembali ketika dirinya tertidur. Dan kembali bangun ketika ada orang yang membangunkannya. “Arila, Arila, Arila!” Sambil menggoyangkan tubuhnya. Arila pun terbangun.
“mama! Arila ketiduran yah?” Sambil membangunkan diri.
“kalau kamu mau tidur, dikamar aja! Nggak baik tidur diruang tamu!”
“ma, Arila mimpi kupu-kupu itu lagi! Apa mama tau maksudnya?”
“mama juga nggak tau! Dan yang tau hanyalah teman mama, dia adalah seorang peramal!” Mamanya kembali terbuka.
Sesungguhnya pemilik asli kupu-kupu hidup itu adalah teman mamanya sendiri, yang berprofesi sebagai peramal. Dan kupu-kupu itu sampai ketangannya, karna rasa ketertarikannya terhadap kupu-kupu hidup itu. Untung saja teman mamanya itu berhati mulia, hingga merelakan kupu-kupu kesayangannya dirawat sama orang lain.
Sedangkan Arila hanya merawatnya kurang lebih tiga bulan, selebihnya pada seseorang yang berhasil mencuri rasa ketertarikannya. The someone itu adalah Arel, orang pertama yang berhasil memancing keseriusan Arila dalam dunia asmara. Yang bermula biasa-biasa saja dan berakhir ricuh, pertengkaran hebat yang tak terduga.

* * * * * *

Pesta yang dinanti-nanti telah tiba, dan kini saatnya berbagi kasih. Rumahnya yang kosong, kini berhias jalur kuning bertenda biru, tak lupa disekitar rumah satu halaman begitu banyak kursi tersimpan. Ditangga rumahnya, dihiasi bunga melati yang melambangkan sang pengantin wanita akan turun menuruni anak tangga yang tlah ditaburi bunga mawar putih.
Kini semua tamu berkumpul dibawah menanti kedatangannya. Beberapa menit kemudian, turunlah Meti dengan pesonanya yang anggun menuruni anak tangga. Perlahan-lahan ia melangkah, dan akhirnya duduk ditempat yang menunggunya sedari tadi. Begitu Arel duduk usai mendampingi Meti dibelakangnya, mendadak kaget ketika duduk bergabung dengan tamu. Karna melihat sosok Arila yang duduk manis mewakili Meti.
Akad nikah pun dimulai, dan Dendra sebagai pengantin pria berhasil mengucapkannya. Semua gembira dan mengucapkan syukur. Akad nikah sudah dilaksanakan, dan para tamu berlomba-lomba untuk bersalaman, Arel pun tersenyum melihatnya dari kejauhan. Tiba-tiba datanglah seseorang yang baginya mengejutkan, “dar….!” Itulah katanya. Arel terkejut.
“Ega….!” Kata kagetnya.
“selamat yah! Akhirnya, kakak kesayangan lo mandiri juga!”
“alhamdulillah!”
Sedangkan Edo yang berniat mengambil minum, tiba-tiba melihat sosok Arila seorang diri dengan megang minuman sambil melihat sang pengantin bersuka cita. Usai mengambil minum, Edo langsung pergi beranjak berniat menemaninya. Arila yang masih berdiam, tiba-tiba terkejut atas tepukan yang diterimanya. Arila pun langsung bertolak kebelakang dan mengetahuinya.
“Edo, apa kabar bro!” Sapanya dengan kaget.
“baik! Gue nggak nyangka, lo bisa jadi wakil untuk pengantin wanitanya! Surprise banget! So, lo kan bukan siapa-siapanya dia!” Arila tertawa kecil atas tuturannya.
“kalo lo berteriak! Pasti lo bakal disorakin! Apalagi sampai ke pengantin wanitanya!”
“emangnya kenapa? Gue nggak ngerti?” Edo kaget.
“gue, adik kandungnya pengantin wanita! Gue jadi wakil sama mama gue, karna bokap gue udah nggak ada!”
“jangan main-main dong, gue serius!” Kembali kaget.
“gue juga serius!”
“sumpeh lo!”
“sumpeh!” Dengan mengangkat dua jari.
Edo terdiam dan sedikit bingung, hatinya masih tak percaya akan perkataan Arila yang mengejutkan. Sedangkan Arila terpana atas pesona Arel yang mengagungkan sangat tajam.

* * * * * *

Malam bahagia itupun berlalu, dan kini kembali sunyi. Kebahagiaan yang sempat tersirat, hilang dengan kedipan mata yang mempertemukannya dengan mentari yang siap menyapa. Arel terduduk diruang tamu dengan teh manis didepannya. Namun ketika duduk beberapa detik, tiba-tiba ada yang mencuri perhatiannya. Dirinya pun beranjak menuju sebuah pintu rumahnya. Ketukan itu makin keras dan akhirnya terbuka.
“selamat pagi!” Arila menyapa.
“pagi! Ngapain lo kesini?” Kata kagetnya.
“kalo gue nggak diundang, nggak apa-apa kok!”
“ya udah, pulang lo sana!” Sambil menutup pintunya kembali.
Arila yang masih berdiri, beranjak pergi tanpa berkata apa-apa, sedangkan Arel mencoba mengintipnya dibalik jendela. Tiba-tiba ada yang mengusiknya dari belakang, Arel pun mencari suara itu, suara yang memanggilnya tadi sesaat mengusir Arila. Ternyata suara itu berasal dari taman, dan siapa lagi yang memanggilnya dengan suara yang nyaring selain tantenya.
“Arel, Dendra sekarang udah nggak ada dirumah! Dia bulan madu kurang lebih dua minggu!”
“siapa bilang satu minggu! Lagipula, nggak ada hubungannya tuh sama Arel!”
“siapa bilang tidak ada! Kamu udah dewasa, seharusnya kamu bisa mengikat tali silaturahmi pada keluarga besar Meti! Bukannya keluarga Meti keluarga kamu juga?”
“emang sih! Tapi, setau Arel keluarga Meti belum bersilaturahmi kesini! Kecuali pernikahan kemarin!” Jawabnya dengan optimis.
“kamu jangan pandang orang sebelah mata! Harusnya kamu mengenalnya lebih jauh! Emangnya saya nggak tau apa! Apa yang barusan kamu lakukan barusan!”
“Madam apa-apaan sih! Arel makin nggak ngerti!”
“siapa yang ijinin kamu bicara?” Dengan beranjak karna kesal kepadanya.
Tantenya pergi dengan sangat kesal, karna Arel belum mengerti juga apa yang dimaksudnya. Dan kini masih berdiam ditaman sambil bertanya-tanya.

TiGa HaRi KeMuDiAn. . . .

Hari pertama, Arel tidak berkomunikasi sama tantenya. Hari kedua, tantenya masih cuek dan tidak memperdulikannya bicara atau menegurnya. Sedangkan hari ketiga, sifat itu berkumpul menjadi satu yaitu, cuek, masa bodoh, tidak peduli, dan pandangan yang begitu sinis pada Arel. Terhitung tiga hari dicuekin, tidak dipedulikan, dan pandangan begitu sinis, membuatnya gerah juga tidak betah dirumah.
Kini Arel duduk dikamarnya sambil melihat keluar jendela, dirinya merenung, memikirkan kemarahan tantenya yang secara mendadak yang kuran tau pasti olehnya. Tiba-tiba ada yang menghubunginya dan memintanya untuk pergi ketaman biasa tempatnya bermain dua hari mendatang. Arel langsung menerimanya tanpa menanyakan maksudnya terlebih dahulu.
Ketika komunikasi itu terputus, Arel baru menyadarinya. Ketika mencoba untuk menghubungi kembali, ternyata gagal atau non aktif. Disitu makin terasa bingung, penasaran, dan menarik nafas panjang untuk kesekian kalinya.

* * * * * *

Arila yang masih tertidur, terbayang kembali olehnya tentang bayang-bayang pernikahan Meti kemarin, yang berperan sebagai kakak sepupu dihidupnya yang malang. Dialam mimpinya yang dingin, terbayang kisah SMA nya dulu, yaitu kenang-kenangannya yang begitu indah, dan begitu malang saat Arel mulai mengisi hari-harinya. Arila masih terbawa mimpinya yang sulit untuk dijadikan nyata disepanjang hidupnya.
Dialam bawa sadarnya, begitu sulit ditemukannya kenangan manis semasa SMA nya dulu. Malah sebaliknya, kenangan pahit menghampirinya hingga membuatnya terbangun secara mengejutkan. Kemudian alarm dihandponenya berbunyi, ternyata alarm tersebut mengingatkan kepergiannya untuk keluar kota. Melanjutkan study yang dianutnya. Ada rasa berat, ketika melihat alarm tersebut, namun Arila berusaha untuk tetap tegar.
Sementara Arel yang membawa dirinya kesebuah taman tempatnya dulu bercengkrama dengan teman-teman SMA nya, termasuk Arila. Dan kini masih berjalan menuju kesebuah tempat. Sedangkan mama Arila merasa kehilangan, karna anak kesayangannya mendadak hilang dari seisi rumah. Dengan panik, mamanya langsung mencari Arila lewat temannya, yaitu Edo.
Edo kaget, dan langsung menghubungi Arel yang masih berjalan dan belum jua sampai ketempat tujuan. Arel pun menerimanya juga ikut serta apa yang dirasakan Edo. Tiba-tiba Arel melihat Arila berlari dihadapannya dari kejauhan, dirinya pun terpana tanpa memperdulikan Edo yang menghubunginya. Dengan cepat Arel beranjak tanpa memperdulikan handponenya yang jatuh.
Edo kesal dibuatnya dan benci akan tingkah lakunya barusan. Sedangkan Arel masih berusaha mengejar Arila yang masih berlari dengan sendirinya. Kemudian Arila terjatuh, dan menimbulkan kekejutan pada Arel. Namun Arel hanya berdiam tanpa menyapanya lebih dekat, melainkan dari jauh. Dilihatnya Arila menangis duduk manis namun perasaannya hancur.
Dari situ, timbullah keluluhan dihati Arel yang masih memerhatikannya dikejauhan. Tersadar olehnya, kalau sampai saat ini kehadirannya hanyalah menyengsarakan Arila. Sedangkan Arila mencintainya, tanpa memperdulikan tingkah lakunya yang sangat menyakiti perasaannya. Tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang lalu mengagetkannya.
“aku tau kamu masih peduli sama Arila! Karna kamu mencintainya!” Edo menebak dengan optimis.
“Edo, kamu apa-apaan sih? Ngaco, tau nggak!” Arel dengan dingin.
“udah ah, nggak penting! Mending kamu ambil ini aja!” Dengan menunjukkan sebuah tiket.
“tiket! Buat apa?”
Edo hanya tersenyum lalu pergi darinya. Bukan kearah Arila yang ditujunya, namun kearah lain tempat mulanya datang. Sedikit kesal pada Arel, lalu memerhatikan tiket yang diterimanya.
Keesokan harinya, Arel mencoba untuk membaginya dengan tantenya, dengan tujuan akan mengetahui maksud Edo yang mempersembahkan tiket pesawat yang diterimanya.
“Madam, maksudnya udah bisa ditebak belum?” Tanya Arel curiga.
“tiket ini bercerita, kalau seseorang yang kamu banggakan akan pergi! Tepat pada tiga hari mendatang!”
“siapa!” Tanya curiganya kembali.
“rahasia! Kamu akan tau tepat tiga hari mendatang!” Ucapnya dengan dingin.
Maksud hati ingin mengetahuinya, justru mendapatkan sebuah teka-teki kembali dari tantenya. Dan ini yang membuatnya gerah, karna sudah kesekian kalinya mendapatkan teka-teki gelap secara tiba-tiba dari tantenya.

* * * * * *

Ega yang sibuk merangkai beberapa kado, mengaku kaget ketika bel rumahnya berbunyi. Karna beberapa kado yang dirangkainya belum juga selesai. Dan terpaksa beranjak lalu membukakan pintu untuk orang yang dimaksud. Ketika dibuka, Ega langsung mengaku kaget untuk kedua kalinya. Karna apa yang ada dipikirannya salah.
“Arel, silahkan masuk!” Dengan gugup.
“kok gugup banget sih? Ada yang aneh sama aku?” Arel curiga.
Ega langsung menggelengkan kepalanya dengan senyuman kecil untuk menghilangkan kecurigaananya. Dan kini mereka duduk diruang tamu tepat dirangkaiian kado itu. Begitu Arel melihatnya, langsung menanyainya pada Ega.
“rangkaiian kadonya banyak! Siapa yang ulang tahun?” Sambil mengambil salah satu kado tersebut.
“biasa, sepupu gue ultah!” Dengan gugup.
“berarti sepupu kamu yang ultah banyak! Tiga orang, tiga kado! Lucu banget bisa barengan!”
“yaiyalah, keluarga gue kan keluarga lucu!”
Arel tertawa mendengarnya, begitupula dengan Ega yang ikut serta. Selang waktu berjalan, tiba-tiba bel rumahnya kembali berbunyi. Ega pun mengaku kaget ketiga kalinya. Dan kembali terpaksa untuk membukakan pintu rumahnya. Ketika dibuka, ternyata benar apa yang ada difirasatnya. Ega pun langsung menarik nafas panjang menyambut kedatangannya.
“Arila, akhirnya lo datang juga!” Dengan pelan.
“tumben lo nyapa gue pelan banget? Biasanya nyaring terus!” Arila heran.
“kita ngobrolnya besok aja yah! Kita janjian ditempat biasa!”
“kenapa? Bukannya kamu yang ngajak aku kesini?”
Arel yang menunggunya, merasa curiga karna Ega tak jua datang. Tanpa pikir panjang, Arel langsung menyusulnya. Setibanya disana, Arel terkejut karna melihat sosok Arila dihadapannya. Namun Arila masih belum menyadarinya.
“Arila!” Arila menyadarinya sekaligus terpana akan sapanya.
“Arel, kenapa lo nyusul gue! Bukannya lo jagain rangkaiian kado gue!” Ega mengingatkannya. Kemudian Arel pergi tanpa berpamitan pada Arila.
“kenapa Arel diusir? Aku yakin banget dia mau bicara sesuatu sama aku!”
“lo gila! Arel masih benci sama lo! Dan nggak mungkin Arel lakuin itu sama lo! Secara, Arel masih nganggep lo musuh!”
“kalau Arel masih nganggep gue musuh, kenapa juga dia masih nyebut nama gue?”
“itu karna dia kaget, makanya dia nyebut nama lo!” Ega meyakinkan.
Arel yang mendengar perdebatan mereka tentang perasannya, mengaku menyesal karna tlah menyembunyikannya dari mereka berdua, terutama pada Arila. Sedangkan Ega berusaha meyakinkan Arila perihal tentang perasaan Arel, yang dinilai salah oleh Arel.

* * * * * *

Keesokan harinya, tepat hari minggu, tepat pula dua hari menjelang keberangkatannya. Masih terlukis di benaknya, tentang raut wajahnya yang menawan. Meski disadarinya, tak bisa memilikinya, melainkan memujanya dengan ketulusan cinta. Menjelang keberangkatannya dua hari mendatang, semakin takut dierasa, takut akan meninggalkannya lalu tak bisa melihatnya lagi.
Rasanya pun menggebu-gebu, dan gejolaknya pun tak tertahankan lagi. Arila mulai terbangun dari rasa-rasanya, dan beranjak entah kemana. Jejaknya diketahui hanya keluar dari kamar lalu pergi entah kemana, mamanya yang melihat, tersedih ketika melihat Arila seperti orang pergi tanpa tujuan yang jelas. mamanya hanya bisa berdoa, agar bisa pulang dengan selamat.
Arel yang membuang sampah didepan rumahnya, tiba-tiba terkejut karna ada suara tabrakan. Ketika dikunjungi, ternyata telah terjadi tabrakan motor versus mobil yang hampir saja membuatnya pingsan karna terlalu keras. Tiba-tiba Arel melihat Arila sedang membantu korban kecelakan motor versus mobil tersebut untuk naik ke mobil ambulan. Dan Arel sedikit terkejut dibuatnya.
Usai membantu, tiba-tiba saja ada yang menabarkanya dari samping, Arila pun terjatuh dan berceceran darah dikakinya. Arila pun langsung dibawa keambulan oleh petugas, dan masih belum menyadari kalau ada Arel disekitarnya memerhatikannya. Ketika mobil ambulan yang membawa Arila pergi, Arel langsung mengejarnya dengan menghentikan taksi yang lewat dihadapannya untuk mengejarnya.
Setibanya dirumah sakit, Arel langsung berjalan memasuki UGD, tempat Arila berdiam untuk diobati. Perlahan Arel memasukinya, dan bertemu dengan Arila beserta mamanya dari kejauhan bersembunyi dibalik tabir Arila beserta mamanya berdiam.
“Arila, apa yang terjadi sama kamu nak? Mama hampir saja tidak mengenal kamu!” Kata keluhnya.
“maaf ma, kalau Arila makin aneh, juga sering ngebuat ulah yang tak wajar!”
“Arila, kenapa kamu seperti orang yang tanpa tujuan? Kamu jangan seperti orang tidak waras! Mama tau kamu masih waras, Arila!”
“yang nggak waras bukan Arila, ma! Melainkan rasa Arila! Arila kangen sama Arel, tolong anterin Arila, ma!”
“Arila, kamu harus dengar mama! Kalau Arel, sudah tidak mau menerima kamu lagi! Mama nggak mau kamu dicaci maki lagi sama Arel! Cukup dirumah aja mama dengarnya!”
Arel yang tak sengaja mengupingnya, mengaku terharu akan curahan hatinya barusan. Lalu beranjak keluar dengan berlari kecil sambil menangis. Sedangkan Arila baru saja keluar dari UGD.

* * * * * *

Malam, sinarnya diganti dengan bulan. Dan matahari akan kembali pada esok hari. Bukan itu yang dia pikirkan. Melainkan mataharinya yang tak jua mengunjunginya. Untuk mengucapkan perpisahan yang sudah didepan mata. Kembali termenung tepatnya dikolam renang. Disaat asyiknya termenung, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampirinya bertujuan akan menghiburnya.
“Arila, sendiri nih! Kenapa cuma kakinya aja yang berendam? Kamu nggak?”
“airnya dingin, salah-salah nanti Arila sakit! mbak kapan datangnya?”
“jam lima sore! Tadi singgah kerumah Arel sebentar, rumah kakak ipar kamu!”
“untung aja Arel nggak tau kalau mbak, kakak sepupu Arila! Kalau tau, mbak nggakkan diterima untuk jadi kakak iparnya!”
“Arila, suzon kamu terlalu berlebihan! Emang sih, Arel benci berat sama kamu! Tapi mbak yakin, masih ada pintu maaf dari Arel! Dia kan anak yang baik!”
Meti mencoba meyakinkannya dengan kata-katanya dan penilaiiannya terhadap Arel. Arila pun percaya dan sedikit terhibur dihatinya. Sedangkan Dendra masih asyik ngobrol dengan mamanya.
Malam tlah berganti pagi, bulan tlah berhenti menyinari bumi, dan matahari pun segera beraksi untuk menyinari bumi dipagi hari. Perlahan matahari menampakkan wujudnya, dan awan-awan yang tidur pun terbangun dengan sendirinya. Arila yang sudah bersiap-siap akan pergi, tak lupa berpamitan dengan mamanya. Dan kini menuju kesebuah mal untuk bertemu dengan Ega juga Edo.
Setibanya Arila disana, ditemuinya kedua temannya itu disebuah tempat makan. Atau biasa lebih dikenal dengan sebutan “CFC” didalam mal tersebut. Arila ikut serta dengan mereka, dan terlihat Ega memberinya sesuatu. Ternyata Ega memberinya sebuah kado sebanyak tiga buah.
“gimana kabar kamu sama Arel? Udah baikan?” Tanya Edo dingin. Arila menggeleng.
“Arila, itu semua isinya foto Arel! Nggak sih semuanya, pokoknya tentang Arel!” Buka Ega.
“thank you so much! Kamu udah mau bantuin aku!”
“siapa dulu dong! Pacar gue!” Sombong Edo.
“Arila, bener nggak sih kamu kecelakaan? Gara-gara bantuin korban kecelakaan mobil versus motor?” Tanya Ega.
“iya, aku kecelakaan! Tapi nggak sampai pincang! Kamu tau darimana?”
“dari Arel! Katanya sih, Arel nggak sengaja melihat kamu disenggol motor!”
“kenapa Arel nggak nolong Arila?” Tanya Edo.
“lo kan tau sendiri! Arel udah nggak care sama Arila!”
“Arila, jangan diem aja! Seharusnya lo bertindak, bener nggak sih Arel menyaksikan peristiwa tertabraknya kamu!”
“gue juga nggak tau! Apa gue sempet, atau nggak untuk lakuin itu!”Arila pesimis.
Edo yang mendengar kata pesimisnya, menarik nafas panjang lalu ilfil padanya. Sedangkan Ega mengipas dirinya, karna ceritanya barusan membuat Arila jadi pesimis darimana optimis yang ditunggu-tunggu mereka berdua.

* * * * * *

Arel yang masih dihantui rasa gelisah, terfikir olehnya tentang sebuah tiket, yang didapatkannya dari Edo beberapa hari yang lalu. Ditemukannya tiket tersebut, ketika dibuka, ada yang mengejutkannya. Ternyata tanggal keberangkatan tiket tersebut jatuh pada hari ini, tepatnya pukul sebelas akan berangkat melalui bus kota. Matanya pun melihat jam yang kurang satu jam lagi menunjukkan pukul sebelas.
Saat Arel mencoba untuk menebaknya, tiba-tiba ada yang masuk kekamarnya. Dan itu membuatnya kaget untuk kedua kalinya.
“mbak, ngagetin aja!”
“kamu lagi megang apaan? Mau mudik? Kuliah kan sudah mau masuk!”
“nggak kok! Arel nggak mudik!”
“terus, tiket itu buat siapa?”
“nggak tau, ini aja dikasih sama Edo!” Meti mengambilnya lalu memerhatikannya dengan teliti.
“Arel, apa kamu sayang sama Arila?” Arel kaget.
“mbak, mbak kenapa aneh kayak gini?”
“tiket ini, tiket ini menceritakan keberangkatan Arila! Kamu harus kejar Arila, dan membatalkan niatnya! Please, mbak mohon sama kamu!” Arel menggeleng.
Kemudian Meti memilih untuk berkata yang sebenarnya. Kalau Arila sebenarnya adalah adik sepupunya. Yang seumur hidupnya bergantung sama obat-obatan dari usianya yang masih kanak-kanak yaitu waktu berumur tiga belas tahun, karna penyakit ginjal yang dideritanya. Keadaannya semakin parah, ketika putus sama pacarnya ketika duduk dibangku SMA kelas dua sebelum pindah kesekolah dimana Arel bersekolah.
Penderitaannya pun berakhir saat Arel memberinya sebuah ginjal, yang dinilai sangat berarti dikehidupannya. Namun itu tak cukup baginya, melainkan ingin mendengar langsung perihal tentang perasaan Arel yang ditunggu-tunggu olehnya. Bahkan sekarang keadaan Arila seperti orang tanpa tujuan. Usai Meti berkata yang sejujurnya, Arel pun tertunduk sedih.
“Arel, untuk apa kamu masih disini! Cepat kejar Arila, bentar lagi pukul sebelas!”
“terima kasih mbak! Arel akan berusaha!”
Dengan cepat Arel mengambil langkah seribu untuk mengejarnya. Tantenya, Madam Sonya juga kakaknya Dendra yang melihatnya, terharu akan kegigihannya. Setibanya disana, Arel langsung bertemu dengan Ega, Edo, juga mama Arila.
“kenapa kalian bertiga, Arilanya mana?” Tanya pencariannya.
“Arila, Arila udah pergi!” Jujur Ega.
“siapa yang ngijinin Arila pergi? Kalian bertiga jahat! Kalian tega sama Arel!”
“maafkan tante nak, tante yang sudah memberikan ijin kepada Arila!”
“tante, Arel yang donorkan ginjal buat Arila! Arel sayang sama Arila, tante! Tapi kenapa tante tega lakuin ini sama Arel!?”
Ega, Edo, tersambar kaget mendengar tuturannya, begitupula dengan mamanya Arila. Sedangkan Arel langsung beranjak usai berkata. Disaat dirinya berlari, terbayang kembali olehnya tentang Arila yang sangat mencintainya dengan bercucuran airmata.

* * * * * *

Arel yang masih menangisi kepergiannya, masih menyendiri dan tiada seorang pun yang berani mengusiknya. Kemudian Arel menghubungi tantenya untuk berbagi kisah sedihnya. Karna yang Arel tau, hanya tantenya saja yang bisa mengerti keadaannya meski selalu dingin kepadanya.
“Arel, ada apa? Bukannya teka-teki dari tante sudah terjawab!” Dengan halus.
“iya, tapi Arel nggak mau teka-teki itu terjadi! Arel mau Arila pulang, Madam!” Dengan tersedih.
“Arel, Arila pasti pulang! Tapi butuh waktu yang cukup lama! Itu juga bila Arila masih setia menggenggam cintanya untuk kamu!”
“Madam seorang peramal, seharusnya Madam bisa menebak!”
“maaf Arel, saya mempunyai keterbatasan! Dan tidak bisa sembarangan!”
Arel menarik nafas panjang, karna tantenya yang berprofesi sebagai peramal tidak bisa membantunya.

DuA HaRi KeMuDiAn….

Sudah dua hari Arila pergi, dua hari juga Arel termenung senyap. “apa ini yang dinamakan sakitnya ditinggal sama orang yang kita sayang! Bagaimana dengan Arila yang pergi secara terpakasa!” itulah tanya perenungannya dalam hati. Kemudian ada yang memanggilnya dari bawah dengan teriakan, siapa lagi kalau bukan tantenya. Ternyata mamanya datang, Arel pun turut bahagia dengan memeluk erat tubuhnya.
“Arel, kamu temui anak temen mama ya diluar!”
“siapa ma?”
“dia anaknya temen mama, yang akan mama jodohin sama kamu!” Meti dan tantenya kaget. Begitupula Arel.
“mama dateng-dateng bawa orang buat Arel! Arel sudah besar, ma!”
“sudah cepat! kasihan anaknya teman mama!” Perintahnya dengan tegas.
Dengan berat hati Arel menurutinya, Meti yang melihatnya tak tega dibuatnya. Sementara Arel masih berjalan menujunya.
“kenapa kamu bawa laki-laki itu kerumah ini?” Tegur tantenya dingin.
“saya kan sudah bilang, kalau saya mau menjodohkan Arel!”
“saya tidak setuju! Kamu tidak tau tentang Arel selama kamu tinggalkan dia sendiri disini!”
“Madam, saya ibunya! Saya lebih berhak daripada Madam!”
“Madam, ma, jangan bertengkar! Kasihan Arel kalau sampai dengar!” Meti mengingatkan.
“Rosa, tolong hentikan perjodohan ini! Yang ada bukannya bahagia, justru sengsara yang akan menyelimuti anak kesayangan kamu!” Madam mengancam.
“Madam, udah Madam! Ingat kata Meti barusan!” Madam pergi. Disusul Meti.
Keadaan pun mulai reda, namun Rosa, mamanya Arel masih penasaran atas perkataan kakaknya, Madam Sonya. Yang terdengar asing ditelinganya, karna sejauh ini Arel tidak pernah bercerita kalau ia sudah menemukan pilihannya sendiri. sedangkan Arel disana masih asyik ngobrol sama anak teman mamanya itu.

* * * * * *

Mulanya sok, namun akhirnya Arel bisa menerimanya. Meski kekecewaan masih menyelimuti perasaannya. Tantenya yang dingin, menjadi jinak kepadanya. Dan kini mereka bicara empat mata dikamar Arel yang sedari tadi terlihat murung.
“namanya Vicky, dia orangnya asyik! Juga enak diajak ngobrol!” Jawabnya dengan lemas.
“terus, apa kamu setuju dengan perjodohan ini? Perjodohan yang dilakukan mama kamu secara mendadak!” Tanya penasarannya.
“Madam, Arel terpakasa menerimanya! Arel hanya ingin diakui mama, kalau Arel anak yang berbakti!”
“tapi bagaimana dengan Arila disana? Apa kamu tega menyakiti perasaannya lagi?”
“Madam, jangan bawa Arila dalam masalah ini! Arel nggak mau menyengsarakan Arila lagi!”
“tapi bagaimana kalau Arila mengetahuinya lebih cepat dari yang kamu duga?”
“Arila nggakkan tau, kalau nggak ada orang yang beri tau!”
Tiba-tiba pintunya terbuka, ternyata mamanya yang menyuruhnya untuk segera turun, karna Vicky sudah menunggu untuk mengajaknya jalan-jalan. Dan Arel pun hanya bisa menerimanya juga menganggukkan kepalanya. Dengan terpaksa Arel memenuhi keinginannya, dan kini menuju kesebuah taman. Yang dianggapnya taman kenangannya dulu dimasa SMA. Namun Arel menyembunyikannya dari Vicky tentang latar belakang taman tersebut dihidupnya.
“aku baru tau, kalau taman ini sangat digemari sama anak ABG! Makanya aku bawa kamu kesini!” Vicky memancing Arel untuk bicara.
“aku udah sering main kesini! Waktu SMA, tiada hari tanpa mengunjungi taman ini!”
“menurut kamu, taman ini sebagai apa untuk kamu!”
“menurut aku, taman ini penuh kenangan! Dimana temen-temen aku berkumpul disini! Mereka bercerita, curhat, bahkan perkelahian pun ada, dan bergabung ditaman ini! Tapi sayang, semuanya udah jadi kenangan!”
“kamu manis banget! juga terlihat manja, ketika kamu duduk disini!” Vicky memuji. Arel tersenyum malu.
Tiba-tiba ada yang menarik perhatian Vicky darinya. Yaitu ada rombongan kupu-kupu didepan mereka berdua, dengan bermacam warna cerah. Vicky pun tersenyum bahagia melihatnya, sedangkan Arel memberinya senyum palsu karna teringat Arila kembali dibenaknya. Kupu-kupu itu masih menari dihadapannya, lalu Arel memalingkan pandangannya. Sementara Vicky masih melihatnya dengan bahagia tanpa memerhatikan Arel lagi.
Arel terus berdoa agar kupu-kupu itu pergi dihatinya. Dan masih mencuekinya tanpa melihatnya sekali lagi. Selang waktu berjalan, rombongan kupu-kupu itupun pergi, dan membuat lega pada Arel. Arel pun tersenyum lalu menarik nafas panjang. Sedangkan Vicky masih melihat rombongan kupu-kupu itu pergi dari pandangannya.

* * * * * *

Malu rasanya bila harus berkunjung kerumah orang yang slalu kita sakiti tanpa sebab yang masuk akal. Apalagi bukan hanya dia yang merasakan, melainkan keluarganya juga. Terutama mamanya yang kadang memergokinya menunggu seseorang yang dipujanya, namun kehadirannya sama sekali tak dianggap. Betapa hancur yang dirasakan seorang ibu, bila kebahagian buah hatinya lenyap begitu saja.
Hanya karna seorang wanita yang dipujanya, yang tak pernah menghendaki kehadirannya sama sekali. Namun Arila tak pernah berniat untuk melupakannya, melainkan berpegang teguh pada cintanya, dan berharap banyak pada Arel sosok wanita yang dicintainya. Yang kini berada diluar kota sebagai pelarian untuknya. Lain halnya pada Arel, yang harus menahan malu dikediamannya.
“Assalamu’alaikum, buklek!” Katanya diruang tamu menyapanya yang asyik membaca majalah.
“walaikumsalam, Meti!” Katanya dengan kaget.
“buklek, baik-baik aja kan! Oyah, Meti bawa Arel! Adik ipar Meti!”
“Arel, silahkan duduk nak!” Katanya dengan lembut.
Arel pun menurutinya dan duduk bersamanya. Sementara Meti pergi keatas mau mengambil barang dikamarnya. Dan kini tinggal Arel bersama mamanya Arila. Arel yang senyap, kemudian berbunyi saat mamanya Arila mengajaknya bicara.
“Arila baru saja nelpon tante! Dia menanyakan kabar tante, dan juga Meti!”
“Arila, pasti kangen ya sama tante! Sampai-sampai, belum genap semingu udah ngubungin tante!” Dengan gugup.
“Arel, kenapa kamu nggak coba untuk ngubungin Arila! Kasihan dia, nak!” Arel kaget.
“maaf tante, apa tante nggak benci sama Arel? Bukannya kehadiran Arel slama ini, membuat Arila sengsara!”
“maaf Arel, tante nggak bisa lakuin itu!”
“kenapa tante? Bukannya itu pantas buat Arel!” Dengan gugup.
“Arila pernah bilang, kalau tante nggak boleh benci sama kamu! Karna kamu orang yang Arila cinta! Dan bila tante benci sama kamu, maka tante juga membenci anak tante sendiri!”
“maksudnya, Arila!” Arel kembali gugup dengan ragu. Mamanya Arila mengangguk.
Sementara Meti masih memilih barangnya untuk dibawa, dan Arel mencoba untuk mencarinya. Berbagai sudut dicarinya, namun tak jua ditemukannya. Dan kini beralih kesebuah kamar, yang diyakininya tempat Meti berdiam. Ketika dibukanya pintu kamar tersebut, ternyata tidak berpenghuni. Pandangannya pun beralih kearah kirinya, dan tiba-tiba ada yang mengejutkannya.
Dihampirinya, dilihatnya dinding tersebut, yang bertabur bunga pengembalian darinya. Jelas terkejut yang dirasa, juga penyesalan tergambar dihatinya. Apalagi bunga-bunga dan surat darinya tersusun rapi tanpa noda sedikitpun. Ketika akan menyentuh kembali surat yang dibuatnya, tiba-tiba saja pintunya terbuka.
“Arel, rupanya kamu ada disini!”
“mbak, apa benar ini kamar Arila!”
“iya, Rel! Dan kamar ini bisa terisi, empat tahun yang akan datang!”
“Arel nggak bisa ada disini mbak! Seharusnya mbak bilang sama Arel dari awal!” Arel beranjak pergi.
“Arel! Arel!” Arel tidak memperdulikannya.
Dengan berlari Arel membuka pintu lalu memberhentikan taxi yang lewat dihadapannya. Mamanya Arila yang melihatnya, tercengang tanpa bisa bersuara. Sedangkan Meti gagal untuk mengejarnya.

* * * * * *

EmPaT TaHuN KeMuDiAn….

Empat tahun sudah Arel menimba ilmu dijakarta, tepatnya diuniversitas ternama. Sedangkan Arila menimba ilmu diluar kota. Karna kepintaran yang mereka berdua miliki, mengantarkan pada kesuksesan yang tak terduga. Lantas bagaimana dengan cintanya, apakah sukses juga atau sebaliknya? Bahagia yang dirasakan Arel, wisuda yang didambakannya telah didapatkannya secara singkat.
Dimana keluarganya berkumpul untuk foto bersama. Dan panggilan bu dokter pun terdengar olehnya dari tantenya Madam Sonya, mamanya, papanya, Vicky, kakaknya, juga Meti. Dan Arel tersenyum malu akan gelarnya yang sudah disebut oleh keluarganya. Padahal dirinya masih calon untuk jadi bu dokter. Ketika melewati pintu untuk keluar, tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya.
Dilihatnya sosok Arila yang memakai jas lalu berdasi, layaknya seorang pegawai yang menunggunya. Kini mereka saling berpandangan, sama-sama kaget, karna ada yang berbeda dari mereka berdua. Kemudian terhenti, ketika ada seorang lelaki tampan menghampiri Arel. Arila terkejut dibuatnya, dan tiba-tiba ada yang membuka mulut dibelakangnya.
“itu Vicky, tunangannya Arel!” Arila menoleh. Orang itu maju tempat disampingnya.
“Ega, darimana kamu tau kalau Arel bertunangan? Setau aku, Arel nggakkan bertunangan kecuali sama aku!”
“Arila, seharusnya kamu sadar! Kamu harus bangun dari mimpi-mimpi kamu! Kalau Arel, bukan tercipta untuk kamu! Melainkan untuk Vicky calon suaminya!”
“aku nggak percaya! Sebenarnya apa mau kamu, kenapa kamu ngawur seperti itu?”
“itu karna aku sayang sama kamu!” Arila kaget! “selama ini aku memendam! Karna aku takut kehilangan Edo!”
“terus, apa mau kamu?”
“aku ingin kamu jadi milik aku! Bukan milik Arel, karna Arel udah khianatin kamu!”
“maaf Ga, gue nggak bisa nerima itu semua! Sorry!” Arila pergi.
Kehancuran yang dirasakan Ega, karna perasaannya tak terbalas kepada Arila. Lalu bagaimana dengan Edo yang disana? Terus apa pokok permasalahan mereka berdua? Itu masih tanda tanya besar yang sulit ditebak karna mulut mereka sama-sama terkunci rapat. Arila yang baru datang dari luar kota, merasa aneh pada sifat Ega yang memintanya untuk jadi gebetannya secara mendadak.
Ketika Arila akan memasuki mobilnya, tiba-tiba terlihat olehnya sosok Arel dikaca spionnya dari arah belakang. Arila pun menoleh kebelakang lalu melihatnya. Arel yang sudah masuk, terpandang lewat kaca yang terbuka dan kini saling berpandangan lagi. Lalu terhenti saat mobil Arel mulai berjalan. Arila pun mulai memasuki mobilnya usai mobil Arel menjauh.

* * * * * *

Usai sudah hari bahagia itu, dan kini kembali seperti biasa. Melihat Arila yang sudah kembali, menimbulkan kecemasan didirinya. Tampak kecemburuan pada Arila, saat ditemuinya kemarin. Kini ada dua pilihan untuknya, apakah Vicky atau Arila yang akan dipilihnya. Dan itu membuatnya galau, lalu benci bila terfikirkan olehnya. Karna merekalah yang menentukan masa depannya kelak.
Lain dengan Arila yang masih terduduk diruang tamu membaca majalah kesayangannya. Didalam keriusannya membaca, tiba-tiba teringat kembali pada omongan Ega yang memintanya untuk jadi pacarnya. Tanpa sadar Arila mengucap kata “Ega…” dengan keras. Tak sengaja terdengar oleh mamanya, lalu berniat untuk menanyakannya.
“mama! Sejak kapan mama ada dihadapan Arila!” Dengan kaget.
“baru aja kok! Teriakan kamu yang manggil mama!”
“teriak! Emangnya Arila teriak apaan barusan! Sampai-sampai penasaran kaya gini?”
“kok kamu balik nanya sih! bukannya kamu, yang teriak nama Ega!” Arila terdiam menunduk. “coba cerita sama mama! Siapa tau mama bisa bantu!”
“Ega, Ega maksa Arila untuk jadi pacarnya! Dengan alasan, kalau Arel udah khianatin Arila!”
“emangnya apa yang dikatakan Ega?”
“Ega bilang, kalau Arel sudah ada ikatan sama pria yang bernama Vicky!” Mamanya terdiam.
“Arila, mungkin benar kata Ega! Kamu harus melupakan Arel!” Arila kembali terkejut.
“kenapa harus ma?” Katanya tak bersemangat.
“Arila, benar kata Ega! Kalau Arel sudah ada ikatan!”
Rahasia itu terbongkar, kini Arila sudah terlanjur mendengarnya. Dirinya lemas tanpa suara tertunduk sedih. Malu karna berharap, percuma kembali keJakarta hanya untuk menemuinya yang masih sendiri. Tapi kenyataannya sudah berdua. Rasanya menggebu-gebu, hasratnya tak tertahan lagi, namun semua itu pupus ketika mengetahui Arel sudah ada yang memiliki. Namun Arila hanya bisa pasrah atas takdir cintanya.
Arila yang makin terbawa emosi, tiba-tiba terjatuh saat akan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan itu membuat mamanya cemas, panik yang kedua kalinya. Sementara Meti yang baru mengetahuinya, langsung beranjak untuk memberitau Arel secepatnya.
“Arel, Arila pingsan! Kamu harus kesana, karna kamu yang Arila butuhkan!”
“tapi mbak! Arel udah punya ikatan! Nanti mama marah sama Arel!”
Meti langsung menariknya, ketika akan beranjak, tiba-tiba kepergok sama mamanya Arel. Dan langkah mereka terhenti karna mamanya menyuruh Arel untuk masuk kekamar, juga memarahkan Meti yang mengajaknya untuk pergi tanpa sepengetahuan darinya. Dengan berat Arel, Meti menerimanya, dan tanpa memberi comment sedikitpun atas perlakuannya yang begitu menyakiti perasaan mereka berdua.

* * * * * *

Ega yang berusaha merebut hatinya Arila, mencoba untuk membututinya kemana Arila pergi. Tapi sayang usahanya diketahui sama Arila. Dengan cepat Arila membawa mobilnya, hingga Ega tak bisa lagi mengikutinya. Dan kini Arila telah sampai ketempat tujuan. Ternyata tempat tersebut adalah taman suka dukanya dulu, tepatnya bersebelahan dengan SMA nya dulu. Dan kini duduk berhadapan dengan seseorang.
“kenalkan, gue Vicky! Lo tau guekan?”
“yah, gue tau lo! Lo tunangannya Arel, sekaligus calon suaminya! Tapi harus lo tau, Arel nggak semudah itu untuk nerima seseorang!”
“oyah, denger-denger, lo kemarin masuk rumah sakit! Sakit beneran, atau hanya ingin mendapat simpatiknya Arel!”
“lo ngomong yang sopan! Lo masih baru dimata gue!” Arila tersinggung.
“oyah, asal lo tau! Kalau gue, kemarin abis kencan sama Arel ditaman ini!” Dengan memancing emosi Arila.
“brengsek!!!!” Arila meninjunya. Vicky membalasnya.
Perekelahian kecil pun terjadi, orang-orang yang berdiam ditempat yang sama dibuatnya kaget. Lalu mencoba untuk melerainya. Perkelahian itupun terhenti ketika beberapa orang berusaha untuk melerainya. Kini Vicky berada dikediaman Arel, membeberkan semua apa yang dialaminya barusan. Apalagi wajahnya terlihat babak belur, karna dipukul sama Arila yang kesal. Kemudian mamanya pun memanggilnya dengan nyaring.
“ada apa ma?” Katanya dengan berdiri disamping Vicky juga mamanya.
“kamu lihatkan apa yang terjadi sama Vicky!” Arel melihatnya.
“Vicky, kamu abis berantem sama siapa?”
“pakek nanyak lagi! Siapa lagi kalau bukan ttm kamu itu!”
“ttm, siapa yang mama maksud?” Arel kembali bertanya.
“itu, orang yang namanya Arila!” Arel kaget. Meti dan tantenya dari dapur menyaksikannya tanpa mendekat.
“ma, Arila nggak mungkin lakuin itu! Setau….?” Vicky memotongnya, lalu berdiri dan menunjuk kejam.
“tante, Arel bohong tante! Tante lihat sendirikan apa yang terjadi sama Vicky! Arila udah buat Vicky seperti ini tante!” Arel emosi.
“Vicky, kamu jangan mengada-ngada tentang Arila! Arila orangnya nggak seperti itu! Aku kenal banget sama dia!” Dengan membentaknya.
Melihat sikap Arel yang tak karuan terhadap Vicky, mamanya memberi tamparan keras padanya. Meti dan tantenya yang melihatnya dari dapur, merasa terkejut atas tamparannya yang begitu keras. Arel terdiam lalu memegang pipinya yang sakit, lalu beranjak kekamarnya dengan berlari kecil menaiki anak tangga yang begitu banyak. Tantenya yang tak tega melihat perlakuan Rosa, mamanya Arel, kesal dibuatnya.
Sedangkan Meti yang tidak terima atas penilaiaannya tentang adik sepupunya, mencoba bersabar dan berusaha untuk menerimanya. Lalu tantennya beranjak kebelakang disusul Meti yang sama-sama kesal. Sementara mamanya masih mengobati Vicky yang babak belur tanpa memikirkan perasaan anak kandungnya sendiri. Sedangkan Arel masih menangisi perlakuan dari Vicky dan mamanya yang sangat sadis.

* * * * * *

Arila yang bersama Edo ditaman, tiba-tiba saja melihat sosok Ega tepat didepan mereka. Tapi mereka berdua ada dibelakangnya, tepatnya tidak berhadapan. Edo yang merasa aneh, mencoba untuk menghampirinya. Namun Arila menghalanginya, Edo pun terhenti lalu Arila yang menggantikannya. Perlahan Arila berjalan mendekatinya, dan akhirnya posisinya tepat dibelakang Ega.
“maaf, kalau Arila mengganggu ketenangan Ega! Arila mau tanya, apa yang Ega mau dari Arila!” Arila menyapa dengan basa-basi.
“Ega nggak sengaja melihat kamu sama Edo disini! Justru kamu yang terlalu berlebihan!” Dengan posisi yang tetap.
Arila pun terdiam tanpa berkata lagi. Sedangkan Ega merasa gerah dan emosinya tak tertahankan lagi. Ketika akan melangkah pergi, tiba-tiba tangannya terpegang oleh seseorang. Ega pun terkejut, lalu melihatnya dengan sinis.
“Edo, lepasin gue! Sebelum gue bunuh!” Ngancam Ega. Arila kaget.
“coba aja kalo lo brani! Lo bakal nyesel ngebunuh gue!”
“Edo, lo jangan mancing emosi gue! Gue bilang lepas, ya lepas!” Bentak Ega.
“gue mau bilang, kalau gue nggak bersalah atas kejadian itu! Video, foto mesum itu nggak ada yang benar!”
“apa, mana buktinya kalo lo nggak bersalah?”
Edo pun menceritakan yang sebenarnya, kalau sesungguhnya ia dijebak sama seseorang. Dimana seseorang itu adalah mantan pacarnya dulu, waktu SMP tepatnya kelas dua. Dan orang itu bernama Meisya, putri tunggal dari seorang pejabat terkenal. Penyebab mereka putus adalah Meisya ketauan selingkuh didepan mata Edo, tepatnya disebuah BAR.
Sebelum kesalah pahaman itu terjadi, Meisya yang dibakar api dendam mengajaknya kesebuah BAR dengan alasan ingin curhat. Edo langsung menyetujuinya tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Mereka pun duduk dan Meisya menawarkan minuman yang sudah diracik dengan obat bius olehnya. Setelah beberapa menit Edo meminumnya, mulailah muncul tanda-tanda yang aneh hingga membuatnya tak sadarkan diri.
“lo nggak ngarang cerita kan sama gue!” Tanyanya usai Edo bercerita.
“nggak, gue nggak ngarang! Itu semuanya benar!” Jujur Edo.
Ega yang melihat kegigihan Edo, langsung memeluknya tanpa ragu. Arila yang melihat tragedi menegangkan akhirnya lemas, ikut serta bahagia dihatinya. Lain dengan Arel, yang kini berhadapan dengan papa kesayangannya juga kakaknya, Dendra tepatnya diteras atas rumahnya.
“tapi pa, mama nggak percaya lagi sama Arel!”
“itu karna mama nggak tau cerita yang sebenarnya!” Dendra menyambung.
“pa, bantuin Arel! Arel nggak mau nikah sama Vicky!”
“kamu tenang saja, papa akan berusaha sekuat papa untuk ngeyakinin mama kamu! Kalau yang terbaik adalah Arila, bukannya Vicky!”
Arel pun merasa tenang atas perkataan dan dukungan dari papa juga kakaknya, Dendra tanpa sepengetahuan mamanya. Kemudian mereka bertiga tersenyum karna ada rombongan kupu-kupu menari dihadapan mereka bertiga. Dan sedikit duka itupun terlupa dipikiran Arel.

* * * * * *

“Arel!” Terdengar suara memanggilnya saat menuruni anak tangga.
“ada apa mbak? Tumben manggil Arel!” Dengan menghampirinya.
“sekarang kamu pergi ketaman! Disana ada yang menunggu kamu?”
“siapa?” Arel penasaran.
“udah cepat!” Sambil mendorong Arel.
Arel pun beranjak lalu menaiki mobilnya. Mamanya yang akan menghalanginya, ditahan sama tantenya dengan menutup mulutnya. “kali ini kamu nggak usah menghalangi Arel untuk pergi!” itulah katanya sambil menutup mulutnya. Sedangkan Rosa, mama Arel masih berusaha untuk berontak. Ketika sudah pergi menjauh, tantenya pun melepaskannya lalu membiarkannya sendiri dengan kesal.
Kini Arel sudah tiba lalu mencari orang yang dimaksud sama Meti, yang begitu bersemangat menyampaikannya. Ketika dalam perjalanan mencari, tiba-tiba Arel melihat sosok Vicky bersama orang lain. “Vicky, sama siapa dia? Apa itu pacar gelapnya?” katanya dalam hati dengan curiga. Begitu mesra sosok Vicky ditaman itu, apalagi saat mereka berciuman. Arel yang tak sanggup, langsung berbalik dengan sedih.
“Arel!” Sapa Arila. Arel kaget.
“Arila, jadi kamu kabar bahagia itu?” Arila mengangguk. “tapi kenapa harus ada kabar buruk juga hari ini!” Tanyanya dengan sedih.
“justru itu kabar bahagianya! Kamu legakan, karna kamu sudah mengetahui siapa Vicky sebenarnya!” Arel tersenyum melihatnya.
“Arila, kamu jangan pergi dari Arel lagi! Kamu batalin aja untuk kerja diluar kota!” Arila terharu atas permintaannya.
Lalu Arila mengusap airmatanya dengan kedua tangannya. Kemudian mereka sama-sama terdiam dan terpana pada pandangan mereka berdua. Tiba-tiba Arila menariknya perlahan-lahan lalu mencium bibirnya dengan lembut. Baru kali ini Arila merasakan ciuman pertama, yaitu sama Arel, begitupula dengan Arel yang bibirnya sama-sama bersih.

DuA HaRi KeMuDiAn….

Dihalaman depan tepatnya sebelah kanan, diayunan timbullah sosok Arel dan Vicky bercanda disana. Disaat asyiknya bercanda, kemudian Vicky mencoba merayunya dengan tujuan memancing Arel agar mau bermesraan dengannya. Namun Arel menyadarinya, dan berusaha membatalkannya.
“sorry, gue bukan cewek murahan yang lo kenal!”
“maksud lo apa? Wajar dong, karna kita sudah ada ikatan!”
“kita, lo aja kali! Hanya orang tertentu yang bisa nyentuh gue! Dan orang itu bukan lo!”
“maksud lo, Arila!”
“whatever!” Dengan dingin.
Lalu Arel beranjak pergi, sedangkan Vicky memanggilnya tiga kali, tapi sayang Arel tidak menanggapinya. Melainkan pergi meninggalkannya dan membiarkannya sendiri. “rasain, emang enak!” Katanya saat mengintip dari jendela rumahnya. Dan ketika mamanya menanyainya, Arel hanya menjawab dengan alasan “Vicky sudah pulang ma!”.

* * * * * *

Kini tibanya Arel membuka semua rahasia hidupnya pada mama kesayangannya. Rahasia yang tersembunyi tersimpan rapi dari mamanya selama enam bulan lamanya. Dukungan pun hadir dari tantenya, Meti, papanya, juga Dendra yang terus memberinya dukungan untuk memperkuat kepercayaan dirinya. Dan kini Arel mencoba untuk mengambil hati mamanya diruang tamu.
“ma, baca tabloidnya bisa distop nggak ma?”
“duduk kamu dihadapan mama! Nggak baik ngomong sama orang tua sambil berdiri!” Dengan dingin.
“ma, hari ini Arel mau memutuskan, kalau Arel nggak mau nikah sama Vicky!”
“Arel, kamu sudah ada ikatan sama Vicky! Kamu jangan buat mama malu dong!”
“mama nggak tau semua tentang Arel! Dan mama juga nggak tau tentang kehidupan Arel!”
“cukup! Kamu jangan memancing emosi mama! Mama bisa stress dengarnya!” Dihentakkannya tabloid tersebut.
Mamanya pun berdiri lalu beranjak. Dengan cepat Arel mengikutinya, dan kini mereka berada dikolam renang tepatnya dibelakang rumahnya.
“ma, Arel mohon! Turuti permintaan Arel! kalau nggak, Arel akan lakuin sesuatu!”
“nggak, mama nggakkan nurutin permintaan kamu!” Arel membuang cincin tunangannya kekolam. Mamanya kaget.
“enam bulan waktu yang lama, Arel menantikan sosok mama disamping Arel! Tapi kenapa mama menghancurkan semua itu? Sakit ma, sakit!” Dengan airmata.
“apa maksud kamu! Mama nggak ngerti apa yang kamu kata?” Kata keluluhannya.
Dengan airmata bercucuran, Arel pun mulai menceritakan yang sebernarnya. Tentang rahasia hidupnya selama enam bulan yang sama sekali tidak diketahui sama mamanya. Dan yang tau hanyalah Meti, Dendra, tantenya, juga papanya. Bukan hanya itu, selama itu juga Arel slalu mendapatkan teka-teki dari tantenya yang sulit ditebak. Dan butuh waktu beberapa hari untuk bisa menebaknya.
Disaat masih SMA, Arel tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang merupakan sosok Arila, yang menebarkan pesona padanya. Apalagi kedua temannya, Ega juga Edo yang slalu hadir mencomblangi mereka berdua, hingga slalu bersama. Empat tahun sudah menahan kerinduan, dan rasa ingin bertemu pun menggebu-gebu. Dan Arel hanya bisa menunggu, menanti tanpa bisa berbuat apa-apa.
Disaat pertemuan itu terjadi, rasa hancur terlanjur datang menghampiri Arila, karna dilihatnya sosok Arel yang tlah berdua. Namun Arel bisa merasakannya, karna perasaannya hanya untuk Arila seorang. Dan slalu berharap bisa hidup bersamanya, lalu menjalani sisa hidup dengannya.
“Arel, mama nggakkan ngijinin kamu! Sesedih apapun kamu bercerita, mama nggak peduli!”
“mama, kasihan Arila ma!” Katanya dengan tersedih. Mamanya terus menjauh.

* * * * * *

Ting….tung….! Terdengar suara bel dari pintu rumahnya. Meti yang mendengarnya, langsung membukakannya. Ketika dibuka, ternyata Arila yang datang, Meti pun kaget disertai rasa was-was. Dengan cepat Meti menutup pintunya lalu berbicara dengannya diluar.
“Arila, mbak mohon kamu jangan kesini! Kalau sampai mamanya Arel tau, kamu bisa hancur!”
“emangnya ada apaan sih? Kenapa Arila dilarang, bukannya Arila keluarganya Arel juga?”
“Arila sayang, suasananya lagi gawat! Mbak hanya nggak ingin, kamu dihina abis-abisan!”
“mbak, Arila nggak ngerti?”
“Vicky, dia udah berhasil fitnah kamu! Sampai-sampai mama Rosa nggak percaya apa yang dikatakan Arel tentang kamu! Karna hatinya sudah terlanjur memihak pada Vicky!”
Arila terkejut, lalu beranjak enatah kemana. Meti yang melihatnya merasa iba padanya yang sama sekali tak bersalah. Sementara Arel terbangun dari tidurnya, lalu peraasaannya mengatakan bahwa Arila datang untuk menemuinya. Ketika melihat kejendela, ternyata yang ada bukannya Arila melainkan Meti yang mulai memasuki rumah dari teras rumahnya. Dan menarik nafas panjang dan kembali tidur.
Arel terbaring manja ditempat tidur, ditidurnya yang nyenyak, tersimpan belaiian kasih seorang ibu. Dibalik kesadarannya, Arel dapat merasakan kehangatan belaiiannya seperti dulu, diwaktu dirinya masih teramat manja. Melihat putrinya yang tertidur pulas, menimbulkan haru dibenaknya. Karna selama enam bulan, dirinya tidak pernah menyentuhnya, dan Arel tidak pernah berkomunikasi dengan baik padanya.
Tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah kotak bergambar hati, tepatnya dibawah tempat tidur buah hatinya. Dibukanya kotak tersebut dengan hati-hati, lalu diperhatikannya satu-persatu. Ternyata isi kotak tersebut adalah foto-foto SMA nya dulu. Begitu banyak keceriaan yang tersimpan dalam gambar tersebut, yang kini tinggal kenangan. Apalagi disetiap foto tersebut tersimpan tulisan “School In Memoriam”, pada setiap lembarannya.
Melihat sosok Arel yang ceria pada gambar tersebut, mamanya pun mulai bangkit untuk membahagiakannya seperti dulu. Dan kini mulai mencari diarynya untuk mengetahui kebahagiaan Arel yang seutuhnya. Arel masih terlelap dalam tidurnya, sedangkan mamanya sudah menemukan apa yang dicarinya, lalu beranjak pergi agar tidak ketahuan sama Arel yang masih terlelap.
Meti yang tak sengaja melihatnya keluar dari kamar Arel, menerka-nerka dalam hati atas sosoknya yang mencurigakan. Apalagi terlihat olehnya kalau mamanya Arel membawa kotak yang tak jelas isinya. Mamanya Arel, Rosa merasa lega karna berhasil mengambilnya tanpa sepengetahuan Arel. Dan kini ada dikamarnya bersiap untuk membacanya.
Ketika akan membuka kotak tersebut dengan tujuan akan membaca diarynya Arel, tiba-tiba ada yang menghubunginya. Dan tujuan itupun gagal, melainkan harus meladeni siapa yang menghubunginya.

* * * * * *

Masih terduduk dan masih menyaksikannya sendirian tanpa teman seorangpun. Sementara Arel disana merasa kehilangan salah satu barangnya. Namun Arel tidak bisa menuduh siapa yang mengambilnya, melainkan menunggu pengembaliannya. Karna dari situ Arel akan mengetahuinya secara terang-terangan. Dan kini Arel keluar dari kamarnya menuju taman, dan tidak sadar kalau mamanya mengintip dari pintu kamarnya.
Kini mamanya kembali duduk ditempat tidur, dan tangannya sesekali membuka catatan hariannya selama enam bulan. Satu-persatu dilihatnya, dan mulai muncul tulisan yang mengejutkan. Lalu dicarinya kembali, kemudian ditemukannya kembali tulisan yang mengejutkannya yang kedua kalinya. Hatinya pun tambah penasaran, tangannya tiada henti membongkar, dan akhirnya bertemu dengan tulisan yang membuatnya haru.
Puas sudah hatinya mencari kebahagiaan buah hatinya, Arel yang terlepas dari pelukannya selama enam bulan. Dan kehadirannya dengan membawa seorang lelaki ternyata penderitaan bagi Arel. Karna yang tertulis dibuku catatannya hanyalah Arila seorang, teman SMAnya dulu yang kini telah menjadi bagian keluarganya. Namun hubungan mereka tetap bisa menyatu, karna mereka berdua sama sekali tidak memiliki hubungan darah.
“Arel, maafin mama! Mama udah salah sama kamu!” Katanya dengan menutup buku catatan harian buah hatinya selama enam bulan. Enam bulan lamanya catatan itu berjalan, dan hanya tiga tulisan yang mampu meyakinkannya. Itu juga bukan secara berurutan, melainkan secara acak. Mungkin jemarinya lebih tau apa yang sebetulnya diinginkan Arel, melainkan perasaannya yang kadang menerka-nerka ragu.
Arel yang tak sengaja menabraknya ditangga, meminta maaf padanya. Namun ada yang mengejutkannya, tiba-tiba saja mamanya membalas dengan senyuman lalu memberinya pelukan mesra. Arel pun terpana dan tak bisa melepasnya.
“ma, mama nggak apa-apakan!” Katanya saat terlepas.
“nggak! Mama baik-baik aja! Arel, kamu barusan darimana?” Dengan lemah lembut.
“Arel, Arel dari taman, ma! Biasa, main sama kupu-kupu juga sama kelinci! Abisnya mereka nggak ada temen!” Katanya berbohong.
“kamu yakin dengan jawaban kamu! Apa kamu nggak memikirkan impian kamu?” Arel tercengang.
“impian, nggak kok, ma! Impian Arel udah terwujud, yaitu kembali bersama mama!” Kata bohongnya kembali.
“ya udah, besok temenin mama yah! Udah lama mama nggak jalan-jalan sama kamu!”
“emangnya, mama mau ngajak Arel kemana?” Tanya keterkejutannya kembali.
“anak mama memang bawel!” Dengan mencubit pipinya lalu pergi.
Arel masih melihatnya melangkah menuju kamarnya. Tercengang, karna melihat tingkah-lakunya yang aneh. Bingung, perilakunya yang dingin kini berubah luluh. Arel menerka-nerka, bertanya-tanya tentang perubahan sifatnya yang menurun drastis. Setelah menyadari semuanya itu, Arel pun beranjak menuju peristirahatannya karna hari lagi hujan deras.
Sementara Arila disana terkejut, karna mendapat sms gelap yang memintanya untuk datang kesuatu tempat. Dan yang mencurigkan lagi, sms tersebut beratas namakan “nomor pribadi” atau lebih dikenal dengan “tidak ada nomor”, yang tidak bisa dihubungi kembali atau membalas smsnya kembali. Melainkan hanya bisa menerima tanpa tau identitas yang sesungguhannya.

* * * * * *

Kini Arel duduk manis ditaman kenangannya dulu. Tanpa seorangpun menemaninya, dan menunggu sosok mamanya yang pergi dengan alasan membeli makanan kecil disebrang jalan. Sedangkan Arila masih mencari lokasi tersebut, tepatnya ditempat yang sama dari sms gelapnya yang diterimanya kemarin. Ketika mencari, tiba-tiba mereka bertemu tanpa disangka-sangka.
“Arel!” Tegur Arila. Arel berdiri dari kursinya.
“Arila!” Arila menghampirinya.
“ternyata, kamu masih ingat dengan taman ini!”
“Arila, mending kamu pergi dari aku! Kisah kita sudah habis!” Arila kaget.
“siapa bilang!?”
“ta….?” Tiba-tiba Arel melihat mamanya datang dengan menghampirinya.
Perlahan mamanya menujunya, disana hatinya gelisah terlihat was-was. Namun Arila tetap melihat mamanya yang semakin mendekat. Dan kini tepat berada dihadapan mereka berdua.
“Arila, siapa yang menyuruh kamu untuk menggoda anak tante?” Tanya dinginnya.
“ma, bukan Arila yang salah! Arel….?” Mamanya memotong pembicaraannya.
“siapa yang nyuruh kamu bicara! Mama bukan menanyai kamu, tapi menanyai Arila!” Bentak dinginnya kembali.
“tante, Arila minta maaf! Karna Arila, udah lancang mengusik anak tante!” Katanya mengalah.
Rosa, mamanya Arel pun berdiam dengan sinis. Arila yang melihatnya, mengerti akan bahasa tubuhnya dan berniat akan pergi. Arel tercengang juga terdiam menyaksikannya. Ketika mencoba mundur tiga langkah dan akan berbalik pergi, tiba-tiba mamanya Arel kembali membuka suara.
“siapa yang menyuruh kamu pergi!? Nggak sopan banget sih jadi orang!” Arila terhenti. Arel makin tercengang.
“ma, tolong jangan bentak-bentak Arila!” Arel menyadarkan.
“Arila, tante serahkan Arel sama kamu! Kalau kamu menyakitinya, berarti kamu menyakiti keluarga kamu juga!” Arila kaget lalu berbalik menghadapnya.
“Arila, Arila boleh menganggap Arel….?” Mamanya kembali memotong.
“Arila, tante mau pulang! Tolong temani Arel! Karna sekarang Arel jadi milik kamu! Ok!”Arila tersenyum begitupula dengan Arel. Mamanya pergi menjauh.
Arila tertunduk malu dan mendekat. Sedangkan Arel masih melihat mamanya yang semakin jauh. Ketika berpaling, tiba-tiba saja Arila ada dihadapannya dan membuatnya kaget.
“Arila, kamu gombal bangert sih! Seumur-umur, kamu nggak pernah ngasih senyuman itu!” Arel tersenyum malu dan tersentuh atas senyumannya.
Arila hanya tersenyum atas pujiannya, dan bibirnya pun tambah seksi saat dirinya tersenyum lepas. Karna mamanya, Rosa telah menyetujui hubungan mereka berdua, hubungan yang terombang-ambing selama empat tahun lamanya. Kemudian hadirlah rombongan kupu-kupu berbentuk hati, yang ikut serta mewarnai kebahagiaan mereka yang berawal dari kupu-kupu dan berakhir disertai kupu-kupu juga.

* * * * * *














Butterfly or Love

Tidak ada komentar:

Posting Komentar